Selasa, 20 Agustus 2013

GAJI

Membaca dan mencermati gaji pegawai BI cukup mencengangkan juga. Gimana ya rasanya bergaji 100 juta sebulan? Ketika pertanyaan ini diajukan ke beberapa orang cukup menarik juga jawaban yang diajukan. Seorang teman berkata... "ya sama saja rasanya dengan kita yang bergaji 3-4 juta sebulan!", katanya sambil pasang muka serius. Aku balik bertanya, "loh kok bisa gitu... ya beda jauh dong... kita kan pegawai negeri palingan juga plus honor dll bawa pulang ke rumah sekitar 5 jutaan lah .... kok bisa sama dengan yang gajinya 100 juta tadi?" Kemudian dia bilang gini... "kalo gaji kita 3 juta ya sudah pasti kita menyesuaikan diri dengan gaji 3 juta itu. Misalnya beli sepatu ya cukup yang 100-200 rb, beli baju yang kurang dari 200rb juga, sekolah anak ya pilih sekolah negeri. Punya istri ya cukup satu hahaha" Dia juga menambahkan, "nah kalo gaji kita 100 juta sudah pasti menyesuaikan, beli sepatu minimal 5 juta, beli baju minimal 2 juta sepotong, anak ya masuk sekolah swasta paling mahal lengkap dengan supir n mobil khusus buat antar jemput dan ..... bisa nambah istri lagi wkwkwk..." Kupikir-pikir benar juga ya, kalo sandang, pangan, syukur-syukur papan sudah terpenuhi entah dengan uang 3 juta atau 100 juta lalu apa lagi yang dicari. Yang membedakan itu kan hanya harga dan kualitas barang yang kita miliki. Saatnya kita untuk selalu bersyukur, melihat kebawah bukan selalu ke atas ...

SEBUAH CATATAN CINTA

Cinta bisa hadir kapan saja bahkan di saat yang tak terduga. Cinta menyusup pelan di relung hati berusaha mengisi ruang sepi yang masih tersisa. Salahkah cinta hadir di saat hati telah termiliki?Cukupkah pernyataan "cinta tidak harus memiliki" menjadi pembenaran atas perasaan itu?

Di saat kata-kata terbelenggu oleh ikatan, di saat komitmen menjadi penghalang. Peneriakan kata cinta terasa menyejukkan. Tapi cukupkah itu semua.

Ada yang pernah berkata, bahwa cinta itu harus memiliki. Tidak ada cinta yang tidak ingin memiliki. Sekecil apapun klaim kepemilikan pasti terlintas. Cemburu, resah .... keinginan untuk selalu bersama.... semua merupakan perwujudan hati untuk memiliki

Adakah cinta yang platonis, hanya terhenti di pemberian perhatian, hanya cukup memberi tanpa menuntut dibalas? Adakah cinta seperti itu?

Lalu bagaimana caranya membunuh cinta ? Menghindar di saat hati ingin bersama? Berlari menjauh di saat hati ingin mendekat ? Tidakkah lebih baik cinta dibiarkan hingga menghilang? Hingga terlupakan ... tapi tidaklah mudah melupakan cinta di saat cinta sudah merasuk jiwa bukan?

Biarkan saja cinta itu hadir, waktu yang akan membuktikan apakah cinta itu akan memudar atau bertambah nyata. Cinta yang berusaha dimatikan akan bertambah kuat mengakar dan tidak rela pergi.

Pengikut