Selasa, 18 Agustus 2015

Penyemangat Hati

Penyemangat Hati

Entah apa yg dipikirkannya waktu pertama kali bertemu denganku...tapi itu yang kemudian membuatnya dekat denganku...

Hari pertama mulai diklat, aku datang terlalu pagi dan tersesat ke asrama laki-laki, mungkin aku tidak menyadari tapi saat itulah dia melihatku pertama kali...

Saat pembukaan diklat tiba, dan tanpa sengaja aku duduk dibelakangnya, bahkan ikut menggoda saat salah satu teman kami membahas batu bacan yg dia kenakan...

Raut terkejut saat melihatku lagi, tapi hanya tatapan matanya yang tajam menghujam hatiku...

Suatu kebetulan lagi, ternyata kami menjadi satu kelompok, dia duduk disebelahku, dan sekali lagi hanya menatap tajam...berdebar hatiku dibuatnya...

Esok hari, akhirnya dia mulai menyapa, dan kami mulai mengobrol ringan...

Hari berganti hari, obrolan ringan berubah menjadi diskusi bahkan perdebatan, namun itu membuat kami semakin tidak terpisahkan...

Ada batasan samar, yang membuat kami menjaga jarak, namun jarak itu semakin tipis dan semakin tipis.....

Beruntung kami harus kembali ke kantor, sehingga ada waktu kembali menata hati ...

Rindu tercurah dalam sapaan sosial media, dan hanya kami yang tahu dan merasakan apa yang ada di hati...

Namun dia hanyalah seseorang diluar jangkauan...seseorang penyemangat hati

#bukankaryaku
Seorang teman meminta untuk memposting di blog ini

PISANG

Dari kecil tidak suka pisang...entah mengapa. Kata Mama, mungkin karena dulu "dicekokin" pisang waktu bayi jadi malah trauma pisang.

Padahal baca sana sini, pisang itu banyak manfaatnya. bahkan ada orang yang diet untuk menguruskan badan dengan hanya makan pisang.

Pernah diklat di PPMKP Ciawi selama 40 hari, dan buah yang selalu ada setiap malam adalah pisang. Manyunlah saya sambil memandang pisang di meja makan dengan hati sebal.

Saya masih mau makan pisang, tetapi yang kecil-kecil. Pisang mas mungkin namanya. Itu pun hanya satu buah. Tetapi bila kondisi pisang tersebut sudah terlalu matang atau terlihat lembek jangan harap saya mau menyentuhnya.

Olahan pisang saya masih pilih-pilih. Dulu waktu kecil sama sekali tidak mau. Pisang goreng coklat sekalipun. Tetapi semakin besar, beberapa kali saya mau menyentuh dan memakannya. Tetapi ya itu tadi, dengan syarat tidak berbau pisang dan tidak lembek jemek tak berbentuk. Sedikit bau khas pisang tercium, olahan pisang segera saya letakkan.

Sewaktu anak-anak bayi, saya jarang memberikan pisang. Bila pun pisang harus diberi sebagai variasi menu, saya meminta tolong ke mbak pengasuh untuk memberikannya. Bentuk pisang kerok yang ada di sendok bayi membuat saya membayangkan yang tidak-tidak. Belum lagi bau pisangnya. Wueks...

Ndilalah, suami juga tidak suka pisang. Klop. Akibatnya menu buah di rumah juga tidak pernah menyajikan pisang. Baik pisang segar maupun olahan.

Nah, mendadak si bungsu meminta pisang goreng sebagai bekal sekolah. Waks .... Mamanya gak suka pisang dan sekarang wajib belajar bikin pisang goreng. Tidak mungkin pisang kecil yang sering saya makan itu dijadikan pisang goreng kan. Katanya sih pisang raja atau pisang kepok yang enak dijadikan pisang goreng. Wajib googling ini mah.

Pisang goreng, semoga tanganku sanggup membuatnya ya ... hihihihi....

Teruntuk kenangan pisang setiap malam bersama mbak URH, GF, YE, DD dan yang sedang menikmati pisang di Ciawi SS

Pengikut