Senin, 01 Februari 2016
AKASIA
- Julia Rosmaya
Hari ini mengikuti seminar hasil penelitian pasca sarjana di IPB. Salah satu tema yang diangkat adalah keanekaragaman spesies tumhuhan pascaerupsi Merapi 2010. Erupsi gunung Merapi pada tahun 2010 adalah erupsi terbesar yang pernah terjadi. Erupsi tersebut menyebabkan kerusakan ekosistem yang sangat parah yang disebabkan oleh lahar, awan panas dan debu vulkanik.
Hasil analisa vegetasi pasca erupsi menunjukkan bahwa tumbuhan Acacia decurrens mendominasi sebagian besar lahan seputar Merapi. Spesies ini dominan ditemui pasca erupsi 2006 dan 2010. A. decurrens mampu tumbuh di tempat yang terkena dampak erupsi dikarenakan karakter biji yang sanggup tumbuh dengan cepat ketika terkena panas. Orang awam mengenal tumbuhan ini dengan nama pohon akasia.
Menyimak mengenai kemampuan pohon akasia tadi untuk tetap tumbuh di lahan yang rusak parah karena erupsi merapi membuat saya berpikir. Akasia saja bisa segera tumbuh dengan cepat dan kembali mengisi lahan di seputar Merapi, masa iya kita sebagai manusia tidak bisa melakukan hal yang sama?
Di sekitar kita banyak orang yang tetiba hancur dan terpuruk saat erupsi kehidupan menerpa. Salah satunya karena patah hati. Patah hati itu seperti erupsi Merapi, tanda-tanda sudah ada ada tetapi diabaikan. Saat si dia benar-benar pergi atau hubungan tidak dapat dilanjutkan lagi maka yang ada adalah campuran berbagai macam perasaan. Kehidupan hancur seperti tanaman yang hancur pasca erupsi Merapi.
Ada beberapa tahapan patah hati mulai dari penyangkalan, marah, sedih, depresi, menerima dan segera menata diri alias "move on". Ada yang dapat melalui seluruh tahap dengan cepat dan segera memulai hubungan baru dengan orang lain, tetapi banyak pula melalui setiap tahap secara lambat.
Saya mungkin seperti pohon akasia. Dulu sekali sebelum menikah, saya pernah ditinggalkan seseorang. Kehidupan rasanya terhenti di titik saat dia pergi. Saya hancur dan terpuruk. Air mata mengalir seperti lahar dingin menyapu kesadaran bahwa matahari masih ada di luar kamar. Bahkan pernah terbersit meninggalkan dunia ini karena saya benar-benar tidak dapat menerima kenyataan.
Berminggu-minggu sisa debu dan lahar kesedihan menutupi kesadaran diri. Dini hari saat itu, saya menatap fotonya dengan berurai air mata. Adzan subuh menggema dan saya tersentak sadar. Seluruh keburukan si dia seperti terpampang di depan mata. Hai, lelaki ini tidak pantas menerima tangisanmu! Ayo keluar dan melihat mentari...
Siang itu untuk pertama kalinya saya menyengajakan diri keluar untuk bersenang-senang. Seseorang datang ke kost, dan entah mengapa saya menuruti ajakannya untuk menonton pameran lukisan yang sedang berlangsung di kota kami.
Biji akasia dalam diri saya pun segera menancapkan akarnya di kehidupan yang baru, satu persatu helaian daunnya tumbuh dan batang tanaman meninggi. Lelaki yang mengajak saya pergi ke pameran lukisan tersebut menjadi pupuk yang sempurna untuk pertumbuhannya. Dialah yang menyadarkan bahwa setelah erupsi masih ada kehidupan. Setahun setelah patah hati, kami pun benar-benar memiliki lahan penuh akasia. Dia menjadi suami saya.
Buat teman yang sedang patah hati, marilah berlaku seperti pohon akasia. Segeralah tumbuh dan jangan menunda. Matahari dan pupuk untuk kesuburan akasia ada di sekitar kita, kita hanya perlu mencari lokasi yang tepat.
#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#hari_ketiga
Jumat, 29 Januari 2016
BAU BADAN
BAU BADAN
Hari ini ke dokter gigi untuk perawatan gigi geraham atas yang bolong. Ternyata diperlukan kunjungan berulang sebelum tambal permanen pada gigi dilakukan. Karena kesibukan, kunjungan ke dokter gigi tidak bisa dilakukan pada hari yang sama. Sehingga dokter yang menangani pun berganti-ganti.
Satu hal yang menarik dari para dokter gigi di klinik ini adalah mereka tidak ada satu pun yang menggunakan minyak wangi alias parfum. Tetapi yang paling penting adalah tidak ada yang badannya berbau tidak sedap.
Mungkin sudah merupakan prosedur untuk tidak menggunakan parfum tapi dilarang pula berbau tidak enak.
Tentu saja hal ini bagus untuk kami pasien gigi. Semua dokter gigi saat menangani pasien pasti sangat dekat dengan pasiennya. Bila dokter gigi memiliki bau badan kebayang dong rasanya berdekatan.
Sebenarnya tidak hanya dokter gigi, semua orang sebaiknya juga membiasakan diri untuk menjaga kebersihan dan bau tubuhnya. Jangan sampai bau badan kita menyengat dan membuat orang lain tidak nyaman.
Kita sendiri biasanya tidak sadar bahwa badan kita berbau tidak sedap. Tanyakan pada orang terdekat untuk mengetahuinya. Bila berbau, lakukan segera penanganan.
Sebenarnya mudah saja, mandi dengan air dan sabun dua kali sehari serta menggosok bagian ketiak dengan seksama.
Langkah selanjutnya, gunakan deodorant yang sesuai dengan jenis kulit. Ada beberapa deodorant yang tidak cocok dengan jenis kulit tertentu. Harus banyak mencoba dan mencari deodorant yang cocok bagi kita.
Kemudian biasakan mengganti baju dalam juga baju luar setiap hari. Walau baju terlihat belum kotor bukan jaminan bahwa baju itu tidak berbau. Minta tolong pada orang terdekat untuk mencium baju bekas kita pakai, bila menurut dia baunya tidak enak lebih baik gunakan baju yang lain.
Entah mengapa kita sendiri tidak bisa mencium baju badan kita. Hmm harus browsing jawabannya di Google nih.
Sebaiknya tidak menggunakan parfum secara berlebihan. Orang harus cukup dekat dengan kita untuk bisa mencium bau parfum. Bila jarak kita dan orang lain lebih dari 1 meter dan orang tersebut bisa mencium bau parfum kita, artinya parfum tersebut terlalu menyengat atau berlebihan.
Untuk wanita yang menggunakan hijab, ganti juga dalaman hijab setiap hari. Bau dalaman hijab yang tercemar keringat juga cukup mengganggu lho.
Saya punya teman yang sangat sensitif dengan bau badan orang lain. Dari jarak jauh dia bisa mendeteksi orang yang berbau. Bila yang berbau kurang enak si bos, maka sukarlah bagi dia untuk menghindar hahaha... Bisa dipastikan mukanya tertekuk kurang nyaman selama pertemuan.
Nah... Ada yang bisa memberi tips cara memberi tahu si bos bahwa badannya berbau? Ditunggu ya...
Julia Rosmaya R
#Onedayonepost
#ODOP
#Hari_kedua