MY BAG INSIDER (2010 VERSION)
- Julia Rosmaya
Aku bukan termasuk orang yang fashionable, membeli baju, sepatu, tas dan sejenisnya karena kebutuhan bukan keinginan atau sekedar mengikuti mode. Untunglah sehari-hari di kantor memakai seragam jadi gak puseeenggg mikir harus pakai baju apa hari ini. Sepatu dibeli karena memang butuh dan nyaman dipakai. Punya tas juga sesuai kebutuhan, tas ke kantor dan tas untuk jalan bersama keluarga.
Khusus untuk tas, ada syarat khusus. Tas itu harus cukup besar dan kuat karena dipakai untuk membawa segala macam barang. Paling malas membawa 2 atau lebih tas kecil mungil. Prinsipku lebih baik membawa 1 tas guede daripada 2 tas kecil.
Dulu waktu kuliah pas lagi centil-centilnya, terdorong keinginan untuk terlihat beda, terbelilah tas mungil kulit yang harganya cukup mahal buat ukuran mahasiswa. Sayang tas itu tidak bisa memuat buku apalagi diktat yang berukuran lebih dari A-4. Terpaksalah selain membawa tas "gaya" itu membawa satu tas lagi buat tempat diktat dan teman-temannya. Wuah repot, belum lagi bila praktkum harus membawa jas lab dan lain-lain. Akhirnya tas itu dipensiunkan dini, terpakai hanya saat malam mingguan dengan "ehm ehm". Itu juga jarang terbawa, karena biasanya hanya membawa dompet saja. Maka semakin terbengkalailah tas itu. Jaman kuliah dulu belum ada telepon genggam sehingga membawa dompet sudah cukup.
Sejak bekerja di Pelabuhan Merak sebagai dokter hewan karantina, sering mendapat jatah tas dari berbagai macam diklat atau seminar. Tahu kan seperti apa model tas dari diklat itu? Besar dan muat segala macam. Akhirnya tas dari diklat-lah yang menjadi tas sehari-hari ke kantor. Sampai suatu saat, lamaaa sekali tidak ikut pelatihan atau seminar apa pun hingga tas yang dipakai resletingnya rusak dan tidak bisa ditutup.
Bosku yang pertama sampai kasihan melihat tasku itu dan berkata ..."Aduh bu Maya..., kok tasnya sampai seperti itu? Sini saya kasih tas!"...
Hehehe... malu gak sih dikomentari bos begitu? Beliau dengan berbaik hati memberikan tas Rateknas jatah bos-bos yang kualitasnya lebih bagus daripada jatah kroco-kroco seperti aku.
Kenapa sih tas ku harus besar? karena harus muat segala macam. Aku setiap hari melaju dari Jakarta ke Merak. Berangkat pagi hari dan pulang malam hari bila kena giliran piket siang. Atau berangkat sore dan pulang keesokan harinya bila piket malam. Terkadang malah tidak bisa pulang 2-3 hari bila sedang menahan komoditi karantina atau kegiatan karantina lainnya. Sehingga diperlukan tas yang bisa memuat kebutuhan sehari-hari.
Seperti apa isi di dalam tasku? Mari kita lihat ...
1. Dompet... ini sih wajib ya. Ukuran dompetku agak besar karena harus bisa muat uang, segala macam kartu identitas, kartu atm, foto dan sebagainya
2. Dompet HP... isinya HP GSM n HP CDMA plus apa tuh yang buat dengerin lagu? Earphone ya? 2 earphone untuk 2 HP itu
3. Kotak kacamata... isinya kacamata dan kain pembersihnya
4. Tas kosmetik ... berisi ikat rambut, pelembab muka, pelembab leher, sunscreen, bedak tabur, kaca, pensil alis, 2 lisptik, pemerah pipi, body lotion, tisu basah, tisu muka, brush buat pipi, oxigenated spray buat muka.... wah ternyata banyak juga ya??
5. Sisir sikat yang agak gede... Kalo kecil gak sanggup merapikan rambut keritingku kalo sedang gimbal
6. Dompet koin ... isinya ongkos transportasi hari itu, biasanya isi maksimum hanya 50 ribu rupiah
7. Antis ... untuk membersihkan tangan saat mau makan
8. Tissue ... untuk mengelap keringat bila naik bis non ac
9. Sapu tangan ... (tapi ini jarang bawa karena sering hilang)
10. Kalau berangkat untuk piket malam, membawa seragam 1 stel, baju dalam buat 2 hari plus handuk kecil
11. Kalau piket siang atau tidak piket berarti di dalam tas ada seragam atasan waktu berangkat. Kemudian pulangnya baju bekas pakai
12. Plastik berisi cadangan celana dalam plus pembalut... wajib ada karena terkadang tidak bisa pulang. Walau di kantor sebenarnya selalu ada cadangan baju dan dalaman, tetapi membawa cadangan di tas rasanya lebih aman
13. Jaket... maklum orang kampung tidak tahan AC. Bila kebetulan naik bis AC yang rada bagus dengan AC super dingin, wajib menggunakan jaket. Bila tidak memakai bisa mengkerut kedinginan. Apalagi di dalam bis minimal 3 jam perjalanan, bila tidak memakai jaket bisa-bisa keluar bis tidak bisa jalan karena membeku di tempat ... hahaha
14. Kalo musim hujan biasanya membawa payung atau topi
15. Tupperware plus sendok yang isinya bekal sarapan pagi. Maklumlah ibu-ibu, saking sibuknya di pagi hari, tidak sempat sarapan di rumah. Padahal menurutku "the most important meal of the day is breakfast". Jadilah sarapan di dalam bis yang melaju menembus kemacetan Jakarta
16. Botol Aqua ukuran 600 ml... dulu sih rada keren bawa tempat minum tupperware atau sejenisnya. Berhubung malah sering tertinggal akhirnya memakai botol Aqua, yang dibuang setelah 3-4 kali isi ulang.
17. Obat sakit kepala, flash-disk, pulpen dan lain-lain
18. Novel ... ini wajib ada karena perjalanan panjang dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Saya lebih suka membaca buku daripada mengobrol dengan teman sebelah. Terkadang mebawa seri Harlequin yang tipis, tapi pernah juga Harry Potter 7 English Edition ikutan masuk tas.
Hmmmm banyak kan yang harus dibawa... itu sebabnya aku butuh tas guede dan kuat menampung segala macam barang itu. Tas yang kupakai sekarang ini dibeli tahun 2007 di Elizabeth Atrium Senen dengan harga 100 ribuan. Bahannya dari jeans biru dengan satu kompartemen. Yang enak itu resletingnya panjang dari ujung ke ujung, sehingga mudah mengeluarkan atau memasukkan barang. Sekarang resletingnya sudah sering ngambek. Sering tidak mau diajak kerjasama dan menutup dengan rapat. Mungkin sudah waktunya untuk diganti.
Ada cerita soal tas jeans biru ini...
Suatu hari, bos yang sekarang melihat aku dari lantai atas kantor baru turun dari ojek sambil membawa tas besar itu. Dikarenakan naik bis Pulogadung-Merak non AC, tampangku awut-awutan gak jelas gitu hehehe...
Berkatalah dia ke rekan kantor ..."Bu M ... itu tuh ada mbak-mbak yang biasa datang nawarin baju kreditan, masa sih jam segini bu... Tolong disuruh pulang aja!"....Waks... kejamnya...
Bu M lalu melongok ke bawah dan dia tertawa terbahak-bahak.
Katanya ke pak Bos ... "Lho pak, itu sih bu Maya yang baru datang bukan mbak-mbak tukang kredit baju!!".....
Hahahahaha .... teganya big bos... masa aku disangka si mbak tukang kredit baju....
Tapi walau bagaimanapun bentuknya, aku cinta pada tasku ini. Kemarin dia sudah menemani aku menjelajah Malaysia dari Kuala Lumpur hingga perbatasan Thailand saat pelatihan bagi petugas Karantina. Karena isinya lengkap, biasanya semua orang dalam rombongan akan mendekat bila butuh tissue basah, tissue kering sampai obat sakit kepala... Asyik kan? hahaha... Termasuk seseorang yang sok PDKT ... ada saja alasan untuk meminta sesuatu dari tas... *GR Mode On*
Ok... thats my bag insider... bagaimana dengan kalian? apa isi tas kalian???
Note:
Catatan tahun 2010, ditulis ulang dengan beberapa perubahan
#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#hari_keenam
Kamis, 04 Februari 2016
Rabu, 03 Februari 2016
POSE ... AND CLICK ...!
POSE ... AND CLICK ...!
- Julia Rosmaya
Bagi ibu pekerja yang tinggal di Jakarta, bangun jauh sebelum subuh serta menyiapkan sarapan dan keperluan anak suami adalah suatu hal yang biasa. Saya biasanya sudah ada di depan kompor pukul 3.30 pagi untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang, dikarenakan pukul 5.30 mereka harus sarapan. Sedari anak-anak kecil, saya mewajibkan sarapan. Sarapan menurut saya waktu makan yang paling terawasi sehingga tidak ada yang boleh meninggalkan rumah bila belum sarapan.
Paling lambat jam 6, kami anak beranak sudah keluar. Lewat dari jam itu, maka jalanan di depan sekolah anak-anak sudah sangat padat. Untuk menghindarinya maka anak-anak sudah terbiasa menjadi murid yang paling awal sampai di sekolah. Untungnya mereka tidak keberatan.
Sebelum pukul 6.30, saya dan suami sudah harus masuk tol JORR melalui pintu tol Bintara/Pondok Kopi. Lebih lambat dari itu, maka antrian masuk tol Cikampek di Cikunir sudah sangat padat.
Saya mulai bekerja di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) yang berlokasi di Cikarang Barat Bekasi sejak awal tahun 2011. Sebelumnya saya bekerja di Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon. Sebagai petugas karantina kesediaan untuk ditempatkan dimana saja memang suatu keharusan. Saya sendiri tidak tahu setelah saya selesai tugas belajar nanti apakah saya masih ditempatkan di BUTTMKP atau mengemban tugas baru di tempat lain. Semoga saya ditempatkan di seputaran Jakarta, entah di Pelabuhan Tanjung Priuk, Bandara Soekarno Hatta, Laboratorium Karantina di Jakarta Timur atau kantor pusat di Jakarta Selatan.
Sejujurnya saya sudah jatuh cinta setengah mati dengan kantor saya yang sekarang. BUTTMKP adalah tempat pendidikan dan pelatihan petugas Karantina se-Indonesia. Calon PNS yang baru masuk wajib mengikuti pelatihan selama 3 bulan untuk golongan 3 (dokter hewan dan Sarjana Pertanian) dan 4 bulan untuk golongan 2 (lulusan D3 dan SMA). Selain itu, di BUTTMKP-lah tindakan karantina berupa perlakuan diujiterapkan sebelum disebarluaskan ke seluruh UPT Karantina se-Indonesia.
Sebenarnya saya sudah tidak berkewajiban datang ke kantor, karena sedang diberi tugas untuk belajar lagi hingga tahun 2017. Tetapi hari ini saya menyengajakan diri karena ada sesi foto bersama seluruh pegawai.
Saya menyukai fotografi sejak dulu dan biasanya saya bertugas mengatur pose teman-teman untuk pemotretan. Penata gaya mungkin istilahnya ya. Saya sering gemas bila melihat hasil foto yang kurang cantik padahal objek fotonya bagus. Si cerewet adalah julukan saya di kantor hahaha.
Maka pagi ini dimulai dengan pengambilan foto pegawai satu persatu. Seluruh pegawai sudah diinstruksikan untuk menggunakan seragam karantina yang paling baru supaya warnanya seragam. Tidak "bluwek" karena kebanyakan dicuci. Serta menggunakan pangkat dan atribut lengkap plus sepatu hitam mengkilat. Tapi ... ahhhh ... mengambil nafas dulu saya. Ada saja yang menggunakan seragam karantina edisi lama yang warnanya sudah tidak layak pandang, atribut kurang lengkap, plus sepatu berwarna coklat. Saya meminta kepada mereka yang menggunakan seragam karantina lama, untuk difoto dalam kesempatan yang lain saja.
Sebenarnya saya juga sudah meminta untuk melakukan sesi foto bersama pagi hari sebelum jam 9, untuk mendapatkan sinar matahari yang tepat dan tidak terlalu panas. Tetapi ada saja halangan untuk pengumpulan seluruh pegawai ke lokasi pemotretan... *sigh*...
Pukul 9 lewat saat seluruh pegawai berkumpul di tangga Gedung Auditorium. Sinar matahari sudah mulai terik dan saya sudah bermandi keringat mengatur posisi teman-teman. Pegawai BUTTMKP hanya sedikit sebenarnya, kurang dari 50 orang. Tetapi mengatur mereka untuk berada dalam posisi yang tepat memang agak susah. Itu sebabnya mungkin saya diberdayakan, ... hahaha ... karena sayalah yang cukup cerewet untuk mengatur dan "meneriaki" mereka yang sukar diatur.
Sebenarnya saya berkeinginan untuk melakukan pemotretan juga di depan Gedung Pendidikan, tetapi sayang waktu kurang mendukung. Oh iya, BUTTMKP berlokasi di lahan seluas kurang lebih 5 hektar. Terdiri dari 5 gedung utama yaitu gedung pendidikan berlantai 4 berisikan kelas-kelas dan laboratorium; gedung auditorium yang terdiri dari ruangan cukup luas di lantai 2 untuk menampung hingga 500 orang dalam posisi duduk serta ruangan administrasi di lantai pertama; gedung asrama berlantai 4 yang terdiri dari 116 kamar standar setara dengan hotel bintang 3 dan 2 kamar VIP; gedung latihan yang dilengkapi dengan 2 kontainer berpendingin, kontainer standar, mesin X-Ray dan incinerator; Animal Cage yang berisikan berbagai macam hewan antara lain kucing, anjing, ular, kambing/domba, ayam , burung dan iquana.
Setidaknya foto bersama tahun sebelumnya pernah berlokasi di depan gedung pendidikan dan gedung asrama. Memang baru kali inilah kami berpose di depan gedung auditorium.
Pukul 10 lewat ketika pemotretan selesai. Begitu kembali masuk ke ruangan administrasi di gedung auditorium, "Mak nyes" rasanya ... adem. Untunglah hari ini cukup cerah walau membuat gerah. Saya jadi mengingat foto bersama tahun 2013.
Pagi bulan Januari 2013 mendung menggantung sejak subuh. Pukul 7.45 saya sudah meminta seluruh pegawai berkumpul di depan gedung asrama. Matahari mulai bersinar, saya sedikit lega. Atur sana sini, pemotretan selesai juga satu jam kemudian. Tetiba awan hitam bergulung-gulung datang. Saya masih berusaha mengambil foto kelompok per kelompok. Kelompok karantina hewan, kelompok karantina tumbuhan dan kelompok administrasi. Mendadak hujan turun tanpa didahului rintik-rintik, langsung deras. Kami pun pontang panting berlari meneduh. Sebagian dari kami basah kuyup hahaha...
Persiapan foto bersama tahun 2013 dengan mendung menggantung yang berarti hujan hehehe. Lokasi di depan gedung asrama BUTTMKP.
Tahun 2015 cuaca cerah dan foto diambil sebelum jam 9 sehingga hasilnya juga cukup memuaskan. Sayangnya, seragam karantina kami berwarna tidak seragam. Waktu itu seragam dengan warna baru, baru saja ditetapkan dan belum semua orang memilikinya. Akibatnya saat foto terlihat jelas blang bonteng warna seragam kami.
Persiapan foto bersama tahun 2015, terlihat seragam dan jilbab yang dikenakan tidak seragam. Yang perempuan pun tidak semuanya menggunakan rok. Lokasi di depan gedung pendidikan BUTTMKP.
Saya tadi tidak sempat melihat hasil foto bersama tahun ini lebih mendetail di komputer. Semoga hasilnya lebih bagus dari tahun lalu. Yang saya suka dari foto kali ini adalah, jilbab yang kami kenakan sudah seragam, seluruh perempuan menggunakan rok, dan baju yang dikenakan lebih rapi dari tahun lalu.
Pegawai perempuan BUTTMKP ... yang bilang kami tidak cantik harap berhenti membaca blog ini hahaha... Lokasi di tangga gedung auditorium BUTTMKP.
Ahhhh ... tidak sabar menunggu hasil foto bersama tahun ini diperbesar dan dipajang di kantor. Sayangnya saya tadi harus buru-buru pulang, sehingga tidak sempat melihat satu persatu hasil fotonya.
Sejak kuliah lagi, anak-anak tidak memperkenankan saya pulang terlalu larut. Mereka menghendaki saya sudah di rumah saat mereka pulang sekitar pukul 16 dari sekolah. Itu sebabnya saya segera pulang sehabis makan siang tadi.
Inilah nikmatnya sekolah lagi, bisa sering ada di rumah; sesekali menjemput si bungsu dari sekolah; dan bila ke kantor tidak terikat absen sehingga bisa datang dan pulang jam berapa saja.
Yuhuuuu yang di kantor, kirim foto bersama tadi via email ya ... ditunggu dengan penuh debar ... hehehe ...
#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#hari_kelima
#tugas_minggu_pertama
- Julia Rosmaya
Bagi ibu pekerja yang tinggal di Jakarta, bangun jauh sebelum subuh serta menyiapkan sarapan dan keperluan anak suami adalah suatu hal yang biasa. Saya biasanya sudah ada di depan kompor pukul 3.30 pagi untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang, dikarenakan pukul 5.30 mereka harus sarapan. Sedari anak-anak kecil, saya mewajibkan sarapan. Sarapan menurut saya waktu makan yang paling terawasi sehingga tidak ada yang boleh meninggalkan rumah bila belum sarapan.
Paling lambat jam 6, kami anak beranak sudah keluar. Lewat dari jam itu, maka jalanan di depan sekolah anak-anak sudah sangat padat. Untuk menghindarinya maka anak-anak sudah terbiasa menjadi murid yang paling awal sampai di sekolah. Untungnya mereka tidak keberatan.
Sebelum pukul 6.30, saya dan suami sudah harus masuk tol JORR melalui pintu tol Bintara/Pondok Kopi. Lebih lambat dari itu, maka antrian masuk tol Cikampek di Cikunir sudah sangat padat.
Saya mulai bekerja di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) yang berlokasi di Cikarang Barat Bekasi sejak awal tahun 2011. Sebelumnya saya bekerja di Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon. Sebagai petugas karantina kesediaan untuk ditempatkan dimana saja memang suatu keharusan. Saya sendiri tidak tahu setelah saya selesai tugas belajar nanti apakah saya masih ditempatkan di BUTTMKP atau mengemban tugas baru di tempat lain. Semoga saya ditempatkan di seputaran Jakarta, entah di Pelabuhan Tanjung Priuk, Bandara Soekarno Hatta, Laboratorium Karantina di Jakarta Timur atau kantor pusat di Jakarta Selatan.
Sejujurnya saya sudah jatuh cinta setengah mati dengan kantor saya yang sekarang. BUTTMKP adalah tempat pendidikan dan pelatihan petugas Karantina se-Indonesia. Calon PNS yang baru masuk wajib mengikuti pelatihan selama 3 bulan untuk golongan 3 (dokter hewan dan Sarjana Pertanian) dan 4 bulan untuk golongan 2 (lulusan D3 dan SMA). Selain itu, di BUTTMKP-lah tindakan karantina berupa perlakuan diujiterapkan sebelum disebarluaskan ke seluruh UPT Karantina se-Indonesia.
Sebenarnya saya sudah tidak berkewajiban datang ke kantor, karena sedang diberi tugas untuk belajar lagi hingga tahun 2017. Tetapi hari ini saya menyengajakan diri karena ada sesi foto bersama seluruh pegawai.
Saya menyukai fotografi sejak dulu dan biasanya saya bertugas mengatur pose teman-teman untuk pemotretan. Penata gaya mungkin istilahnya ya. Saya sering gemas bila melihat hasil foto yang kurang cantik padahal objek fotonya bagus. Si cerewet adalah julukan saya di kantor hahaha.
Maka pagi ini dimulai dengan pengambilan foto pegawai satu persatu. Seluruh pegawai sudah diinstruksikan untuk menggunakan seragam karantina yang paling baru supaya warnanya seragam. Tidak "bluwek" karena kebanyakan dicuci. Serta menggunakan pangkat dan atribut lengkap plus sepatu hitam mengkilat. Tapi ... ahhhh ... mengambil nafas dulu saya. Ada saja yang menggunakan seragam karantina edisi lama yang warnanya sudah tidak layak pandang, atribut kurang lengkap, plus sepatu berwarna coklat. Saya meminta kepada mereka yang menggunakan seragam karantina lama, untuk difoto dalam kesempatan yang lain saja.
Sebenarnya saya juga sudah meminta untuk melakukan sesi foto bersama pagi hari sebelum jam 9, untuk mendapatkan sinar matahari yang tepat dan tidak terlalu panas. Tetapi ada saja halangan untuk pengumpulan seluruh pegawai ke lokasi pemotretan... *sigh*...
Pukul 9 lewat saat seluruh pegawai berkumpul di tangga Gedung Auditorium. Sinar matahari sudah mulai terik dan saya sudah bermandi keringat mengatur posisi teman-teman. Pegawai BUTTMKP hanya sedikit sebenarnya, kurang dari 50 orang. Tetapi mengatur mereka untuk berada dalam posisi yang tepat memang agak susah. Itu sebabnya mungkin saya diberdayakan, ... hahaha ... karena sayalah yang cukup cerewet untuk mengatur dan "meneriaki" mereka yang sukar diatur.
Sebenarnya saya berkeinginan untuk melakukan pemotretan juga di depan Gedung Pendidikan, tetapi sayang waktu kurang mendukung. Oh iya, BUTTMKP berlokasi di lahan seluas kurang lebih 5 hektar. Terdiri dari 5 gedung utama yaitu gedung pendidikan berlantai 4 berisikan kelas-kelas dan laboratorium; gedung auditorium yang terdiri dari ruangan cukup luas di lantai 2 untuk menampung hingga 500 orang dalam posisi duduk serta ruangan administrasi di lantai pertama; gedung asrama berlantai 4 yang terdiri dari 116 kamar standar setara dengan hotel bintang 3 dan 2 kamar VIP; gedung latihan yang dilengkapi dengan 2 kontainer berpendingin, kontainer standar, mesin X-Ray dan incinerator; Animal Cage yang berisikan berbagai macam hewan antara lain kucing, anjing, ular, kambing/domba, ayam , burung dan iquana.
Setidaknya foto bersama tahun sebelumnya pernah berlokasi di depan gedung pendidikan dan gedung asrama. Memang baru kali inilah kami berpose di depan gedung auditorium.
Pukul 10 lewat ketika pemotretan selesai. Begitu kembali masuk ke ruangan administrasi di gedung auditorium, "Mak nyes" rasanya ... adem. Untunglah hari ini cukup cerah walau membuat gerah. Saya jadi mengingat foto bersama tahun 2013.
Pagi bulan Januari 2013 mendung menggantung sejak subuh. Pukul 7.45 saya sudah meminta seluruh pegawai berkumpul di depan gedung asrama. Matahari mulai bersinar, saya sedikit lega. Atur sana sini, pemotretan selesai juga satu jam kemudian. Tetiba awan hitam bergulung-gulung datang. Saya masih berusaha mengambil foto kelompok per kelompok. Kelompok karantina hewan, kelompok karantina tumbuhan dan kelompok administrasi. Mendadak hujan turun tanpa didahului rintik-rintik, langsung deras. Kami pun pontang panting berlari meneduh. Sebagian dari kami basah kuyup hahaha...
Persiapan foto bersama tahun 2013 dengan mendung menggantung yang berarti hujan hehehe. Lokasi di depan gedung asrama BUTTMKP.
Tahun 2015 cuaca cerah dan foto diambil sebelum jam 9 sehingga hasilnya juga cukup memuaskan. Sayangnya, seragam karantina kami berwarna tidak seragam. Waktu itu seragam dengan warna baru, baru saja ditetapkan dan belum semua orang memilikinya. Akibatnya saat foto terlihat jelas blang bonteng warna seragam kami.
Persiapan foto bersama tahun 2015, terlihat seragam dan jilbab yang dikenakan tidak seragam. Yang perempuan pun tidak semuanya menggunakan rok. Lokasi di depan gedung pendidikan BUTTMKP.
Saya tadi tidak sempat melihat hasil foto bersama tahun ini lebih mendetail di komputer. Semoga hasilnya lebih bagus dari tahun lalu. Yang saya suka dari foto kali ini adalah, jilbab yang kami kenakan sudah seragam, seluruh perempuan menggunakan rok, dan baju yang dikenakan lebih rapi dari tahun lalu.
Pegawai perempuan BUTTMKP ... yang bilang kami tidak cantik harap berhenti membaca blog ini hahaha... Lokasi di tangga gedung auditorium BUTTMKP.
Ahhhh ... tidak sabar menunggu hasil foto bersama tahun ini diperbesar dan dipajang di kantor. Sayangnya saya tadi harus buru-buru pulang, sehingga tidak sempat melihat satu persatu hasil fotonya.
Sejak kuliah lagi, anak-anak tidak memperkenankan saya pulang terlalu larut. Mereka menghendaki saya sudah di rumah saat mereka pulang sekitar pukul 16 dari sekolah. Itu sebabnya saya segera pulang sehabis makan siang tadi.
Inilah nikmatnya sekolah lagi, bisa sering ada di rumah; sesekali menjemput si bungsu dari sekolah; dan bila ke kantor tidak terikat absen sehingga bisa datang dan pulang jam berapa saja.
Yuhuuuu yang di kantor, kirim foto bersama tadi via email ya ... ditunggu dengan penuh debar ... hehehe ...
#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#hari_kelima
#tugas_minggu_pertama
Langganan:
Postingan (Atom)
