Rabu, 30 September 2015

HUJAN SEPTEMBER

HUJAN SEPTEMBER
-Julia Rosmaya

Salma belum bergerak dari tempat duduknya di teras. Angin yang membawa titik hujan terasa dingin di tubuh. September hendak berakhir, tetapi hujan deras yang ditunggunya tidak datang juga. Dia ingin mencampur air matanya dengan air hujan, mengaduknya hingga tak terasa.

Kabar yang datang kemarin sungguh terasa menyesakkan. Perpisahan itu terasa nyata sekarang.

Bila beberapa bulan lalu dia bisa menerima bahwa inilah jalan terbaik baginya, maka sore ini kenyataan itu terasa menghardik, mengagetkan.

Salma tak menyangka bahwa Ardi benar-benar pergi. Kemungkinan dia bertemu Ardi sangat kecil bahkan mungkin tak akan pernah lagi.

"Hai, bukannya kau yang meminta pada Yang Kuasa untuk dipisahkan?" suara hatinya berkata.

"Tetapi tidak seperti ini!" jerit hatinya yang lain.

Ardi, lelaki berahang kukuh yang diam-diam menyusup pelan di relung hatinya beberapa tahun terakhir ini. Ardi yang terlarang, yang tidak dapat dimilikinya secara utuh, sekarang atau selamanya. Ardi yang dengan kesadaran penuh ditinggalkan.

"Kau tahu, dia sengaja melamar menjadi atase di luar negeri karena kau. Dia tidak bisa melihatmu setiap hari tanpa diperbolehkan untuk menyapa. Dia tidak sanggup hanya bisa berbasa basi formal di grup WA kantor denganmu. Intinya dia tidak bisa menerima kenyataan tidak bisa menjadi temanmu lagi" diingatnya lagi kata-kata Rosa kemarin.

Rosa sengaja menghadangnya pulang dan memperlihatkan foto surat penugasan Ardi serta tiket pesawatnya. Ardi berangkat sore ini.

Salma mendesah lagi.

"Mama...  Ayo Ma kita makan, Aya lapar"..  Salma tersentak. Segera dihapusnya air mata, dipasangnya senyum demi gadis kecilnya.

Ini jalan terbaik. Apapun yang sedang terjadi dengan rumah tangganya tidak bisa menjadi alasan untuk mengharapkan lebih dari lelaki lain.

Salma bergerak masuk ke dalam,  dan hujan yang dinantinya pun turun.

Hujan September baru datang sekilas
Rinainya tak mampu membasahi bumi

#OneDayOnePost 
#FebruariMembara
#hari_keduapuluh

SELFIE, WEFIE DAN NARSIS

Selfie, Wefie dan Narsis

Sekarang banyak orang mengunggah foto di sosial media dengan tagar selfie. Sayangnya foto yang diunggah itu adalah foto yang bukan kategori selfie.

Apa sih selfie itu?

Selfie adalah pengambilan foto oleh diri sendiri, baik menggunakan tangan maupun dengan bantuan tongsis alias tongkat narsis. Ada juga yang menggunakan bantuan cermin untuk menghasilkan foto selfie.
Hasil pengambilan foto selfie biasanya khas, diambil dari atas kepala atau sejajar mata untuk menampilkan sudut terbaiknya.

Mengambil foto secara selfie disukai orang karena kita bisa mengatur sendiri bagian mana dari tubuh yang hendak diambil.

Ada lagi istilah wefie, yaitu pengambilan foto selfie dengan peserta lebih dari dua orang.
Nah bila foto diambil oleh orang lain itu namanya bukan lagi foto selfie. Tetapi foto biasa.

Kalau foto narsis apa pula itu?

Narsisisme adalah perasaan cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis. Saat ini sering disingkat dengan kata narsis.

Foto narsis meliputi foto yang diambil orang lain, foto selfie, foto wefie atau foto apa pun yang tokoh utama dalam foto itu adalah diri sendiri.

Saya termasuk narsis tidak? Iya ... hahaha...

Dulu sekali, saya kemana-mana membawa kamera. Dulu itu jarang orang yang bisa mengoperasikan kamera SLR sehingga koleksi foto di album sebagian besar adalah foto teman-teman saya tanpa saya di dalamnya.

Saat ini, kualitas kamera HP sudah cukup bagus untuk sekedar di unggah di sosial media. Sehingga mulailah saya memanjakan diri sendiri dengan ... Ambil foto disana, ... ambil foto disini menggunakan tongsis, ... minta tolong diambilkan orang ... intinya saya harus ada di foto itu hahaha...

Narsis itu jelek atau bagus. Tergantung sudut pandang. Apa pun yang berlebihan itu tidak baik.

Jadi jangan salah pakai kata selfie, wefie dan narsis di tagar foto anda ya ...

Pengikut