Jumat, 28 April 2017

THE BEST THERAPIST HAS FUR AND LEGS

"The best therapist has fur and legs"

Pernah baca quote di atas? 
Cerita berikut hanya dipahami oleh orang yang memiliki hewan peliharaan.

Tina stress, semua terasa salah di kantor hari ini. Beberapa pekerjaan yang dilakoni dengan sepenuh jiwa dianggap tidak layak oleh atasannya.

Saat pulang, dia terjebak macet parah. Hujan pula.
Dengan tubuh basah, Tina membuka pintu rumahnya. Rumah gelap, tidak ada orang di rumah. Kedatangannya hanya disambut 2 ekor kucing... yang berusaha mencari perhatian dengan berlari mengikuti di sekitar kakinya

Dengan tenaga yang tersisa, disiapkan makan malam untuk para kucing itu. Setelah mandi, Tina langsung ambruk di kasur.

Beberapa saat kemudian dia mendengar dengkur halus dan rasa hangat di dadanya. Kedua ekor kucingnya berebut duduk di dada dan leher. Secara reflex, Tina mengulurkan tangan untuk mengelus bulu lembut dan halus peliharaannya itu.

Dan... Secara perlahan perasaan relax menjalar ke sekujur tubuh. Pikirannya menjadi terang untuk menganalis masalah.

Dipandangnya kedua kucing yang masih mendengkur manja di dadanya. Mereka balas memandang.. "Terima kasih Momo, Bubu.. Kalian memang paling tahu kalau aku stress!"

Hehehe..  Cermini dikit ya..
Memelihara kucing atau anjing memang telah terbukti mampu meredakan stress. Bahkan di beberapa RS di negara Barat, hewan peliharaan telah menjadi bagian dari proses terapi penyembuhan.

Eh tapi..  Kucing kan bisa menyebabkan penyakit.. Katanya Toxoplasma, yang menyebabkan Ibu hamil keguguran atau janin cacat. Malaslah pelihara kucing. Belum pup-nya, makannya.. Riweh...

Tahukah anda, bahwa memakan daging kambing setengah matang juga  dapat menyebabkanToxoplasma? Jadi kucing tidak bisa dituduh 100% sebagai penyebab Toxoplasma, banyak lagi penyebab lainnya.

Lalu bagaimana mencegah penyakit dari kucing atau hewan lain yang kita pelihara? 

Pertama, jaga kebersihan. Sediakan tempat untuk pup dan bersihkan fesesnya secara teratur. Tidak hanya kucing, hewan pelihara lain seperti anjing, burung, kelinci, ayam semua diperlakukan sama. Kebersihan harus utama.

Bila memelihara unggas seperti ayam dan burung. Harus lebih ekstra hati-hati menangani feses-nya. Virus flu burung dapat ditemukan di feses. Gunakan sarung tangan atau pelindung lainnya saat membersihkan kandang. Seminggu sekali, semprot kandang dengan cairan bayclin untuk mematikan virus penyakit yang mungkin ada. Kandang juga harus terkena sinar matahari dan dalam keadaan kering.

Bagaimana dengan anjing? Biasanya anjing sering kutuan. Mandikan anjing secara teratur dengan shampoo khusus anjing. Bersihkan kandang dengan cairan pembersih lantai seperti karbol. Jangan lupakan bagian dinding dan atap. Bila perlu, bawa anjing ke dokter hewan untuk mendapatkan obat anti kutu.

Kedua, vaksinasi anjing dan kucing anda. Vaksin utama adalah Rabies. Rabies menyerang manusia melalui gigitan hewan tertular. Bila manusia terkena Rabies, maka tingkat kematiannya hampir 100%.

Cara penanganan luka gigitan, segera bersihkan dengan air mengalir, lalu beri betadine dan sejenisnya lalu segera ke dokter manusia 😁! Bukan ke dokter hewan ya.  Anjing/kucing/kera yang menggigit bila memungkinkan ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan atau dokter hewan. Hewan terduga Rabies akan dikarantina minimal 14 hari untuk mengetahui apakah hewan tersebut positif atau tidak terhadap Rabies. Hewan Rabies biasanya akan mati selama waktu tersebut.

Hati-hati bila berada di daerah Rabies seperti Bali, Sumatra Barat dan beberapa wilayah Sumatra lainnya. Hindari kontak dengan anjing/kucing/kera liar.

Tahukah anda bahwa kasus kematian manusia di Indonesia akibat Rabies lebih banyak daripada karena flu burung? 

Ketiga, beri makan minum yang cukup dan kasih sayang. Hewan jangan hanya dipelihara, tapi wajib disentuh, dielus dan disayang. Terutama anjing dan kucing.

Oh iya. Lupa memperkenalkan diri. Saya Drh. Julia Rosmaya. Saat ini bekerja sebagai dokter hewan karantina, tetapi tidak membuka praktek. Saya memiliki 7 ekor kucing dan 1 anjing di rumah.Semoga penjelasan singkat saya cukup. Mari kita berdiskusi.

Btw.. Jangan lupa #LaporKarantina 🐮 🌿 bila membawa hewan dan tumbuhan ke atau masuk antar pulau atau antar negara ya

Drh. Julia Rosmaya R, M.Si
Dokter Hewan Karantina
WA: 08161121134
Blog: juliarosmaya.blogspot.co.id
Email: julia.rosmaya@gmail.com
FB: Julia Rosmaya Riasari
Twitter :@MAYA_JR2

Rabu, 08 Maret 2017

THROW KINDNESS AROUND LIKE CONFETTI

Weekend ini baru saja menamatkan untuk kedua kalinya, drama Korea yang berjudul Cheese In The Trap. Drama yang tayang 2016 lalu dan cukup menjadi hits di sana. Pameran utamanya Park Hae Jin dan Kim Go Eun dengan cerita yang cukup membuat baper dan bernostalgia ke masa-masa kuliah S1 dulu.

Tidak, saya tidak akan membahas Park Hae Jin yang ganteng dengan tinggi badan 186 cm itu. Walau saya sampai melihat meteran tinggi badan di dinding untuk mengetahui seberapa tinggi 186 cm dibandingkan dengan tinggi saya. Sepertinya terjerembab ke pelukan mas Hae Jin dipastikan membuat tambah baper hahaha...

Pelajaran yang saya dapat dari drama 16 episode itu adalah ... You better throw kindness around, event though you're hurting by someone.

Sang tokoh utama, Yoo Jung (Park Hae Jin) memiliki sisi gelap di balik senyumnya. Dia selalu punya cara membalas dendam yang cukup keji pada setiap orang yang bersikap jahat atau merugikan dia. Dengan lihai dia menaruh keju pada perangkap dan membuat sang tikus dengan kemauan sendiri, tanpa sadar terjebak. Kadang dia menggunakan tangan lain untuk menaruh keju pada perangkap yang tidak terduga oleh sang tikus.

Tetapi pada akhirnya tikus-tikus jahat yang terjebak dalam perangkat tidak berdiam diri begitu saja. Sang tikus balas menjebak Yoo Jung. Akibatnya tidak hanya Yoo Jung yang menderita tetapi juga sang kekasih Hong Seoul (Kim Go Eun). Balas dendam terus menerus berlangsung dan akhirnya lebih banyak pihak menderita.

Membalas kejahatan dengan kejahatan tanpa sadar sering kita lakukan. Ada teman yang berbicara hal buruk tentang kita, maka kita balas dengan membicarakan kesalahan fatalnya ke teman lain. Ada teman yang menjegal maka kita balas dengan memblokir. Banyak lagi.

Seberapa banyak dari kita yang membalas kejahatan dengan kebaikan? Tidak banyak saya rasa.

Tapi membalas kejahatan dengan kebaikan? Duh susahnya ...

Saat tahu kalau si A menjegal dan menjelekkan nama kita ke bos, bibir langsung melekuk ke bawah bila melihat A melintas. Memberi senyum manis saja rasanya berat. Lalu harus bagaimana dong?

Usaha... Usahakan tersenyum. Walau itu hanya di bibir, bukan senyum dari hati yang terdalam. Yah minimal si A tahu bahwa kita baik-baik saja, tidak terjatuh seperti harapannya.

Tapi... Kan pengen balas dendam sama si A...

Balas dendam hanya memberi kepuasan sesaat. Setelahnya apa kita masih bisa puas hati? Belum tentu. Percayalah bahwa alam punya mekanisme sendiri. Kebaikan walau sebesar kerikil akan tetap bernilai sebesar batu raksasa  gunung bila saatnya tiba. Berbuat baik tidak akan pernah merugi. Percayalah satu hal ini.

Lets throw kindness around like confetti. Sebarkan senyuman karena itu yang paling mudah.

Sumber foto: Pinterest

Pengikut