Minggu, 03 Mei 2020
KALEIDOSKOP III BIO 1 (bAGIAN 1)
Karena panjang banget aslinya ada 8 hal spasi 1, kita bagi bagian per bagian yah ...
KALEIDOSKOP III BIO 1 (Bagian 1)
Tahu kaleidoskop ? (eh, nulisnya bener gak ya??) itu tuh catatan peristiwa yang terjadi selama setahun. Neh ceritanya reporter anda mencoba menyusun sebuah kaleidoskop yang isinya peristiwa yang terjadi di III Bio 1 setahun belakangan ini. Data-data diambil dari catatan-catatan yang ada serta kesaksian beberapa saksi yang katanya masih hidup dan dapat dipercaya. Siap.....? Go.....!
JULI 1990
Kita masuk tanggal 16 Juli 1990, siang lagi! Masalahnya kelas pagi dipakai oleh anak kelas I yang lagi penataran P-4. Begitu datang semua anak langsung merubung kertas pengumuman pembagian kelas. Ada yang melonjak-lonjak kegirangan karena sekelas lagi ama teman akrabnya, ada yang sedih karena dipisahin ama teman dekatnya, ada yang cuek terserah mau dapat kelas yang mana aja, wah pokoknya macam-macam deh ekspresi anak-anak.
Selama minggu pertama kita juga diombang-ambingkan gosip yang bilang kalo pak Budi gak ngajar kita lagi, tapi digantiin sama pak Bachtiar. Wah! Rata-rata pada gak setuju, tahu sendiri kan gimana pak Bachtiar itu. Ada yang mau protes sama guru-guru tapi terus gak jadi. Habis dipikir-pikir gak ada gunanya kita protes, kan kedudukan kita sebagai murid itu paling lemah.
Ternyata bener, pak Budi digantiin sama pak Bachtiar, dan anak-anak dengan pasrahnya menerima keputusan itu.
Oh iya, ketua kelas dan wakil ketua kelas kita kali ini Aang dan Iman. Dan bukan kebetulan kalo ketua kelas dan wakti ketua kelas III Bio 2 Musji dan Didi. Masalahnya mereka itu waktu kelas II Bio 1 sebangku. Aang dengan Musji sedang Iman dengan Didi. Asyik juga ya. Belum apa-apa kita juga sudah ribut soal perpisahan kelas, padahal kan masih lama tuh, kita berencana nabung melalui masing-msing Rp. 1000,00 sebulan yang dikelola oleh Yuli sang bendahara dan Lia sang sekretaris.
Yang ulang tahun bulan ini Yani, Ebeth, Ketty dan Sussy... seperti biasa kita berbeng-beng ria deh....
Rabu, 10 Februari 2016
ANAK PINGGIR KOTA
- Julia Rosmaya
Saya dilahirkan di kota Jakarta. Tahun 1979 kami pindah ke pinggiran Timur Jakarta. Perumnas Klender, yang merupakan satu-satunya perumnas yang ada di wilayah Jakarta.
Saat itu di belakang rumah masih ada sawah luas membentang. Tetapi saya dan adik-adik dilarang keras main ke persawahan di belakang oleh Mama dan Papa. Bahkan kami sering ditakut-takuti bahwa di sawah itu banyak ular dan buaya putih yang sering memangsa anak kecil.
Kami bertiga kakak beradik dan 4 orang anak tetangga dengan rentang usia antara 5-10 tahun sering naik sepeda hingga ke daerah Pondok Kopi yang saat itu juga masih banyak sawah dan kebun.
Daerah Buaran dan sekitarnya juga masih banyak kebun. Kami sering berpetualang menyusuri daerah Buaran untuk mencari bunga-bunga cantik. Bunga matahari, bunga kembang sepatu dan bunga-bunga liar lainnya. Sayangnya jarang kami menemukan pohon buah dalam petualangan kami itu. Sehingga cerita menarik mengambil buah dari pohonnya tidak pernah kami alami.
Bila musim kemarau tiba, bermain layang-layang menjadi pilihan. Di dekat rumah masih ada lapangan yang digunakan oleh banyak anak untuk turut bermain. Pilihan lainnya adalah bermain kelereng. Tetapi untuk bermain layangan dan kelereng saya jarang ikut serta. Biasanya adik perempuan yang aktif bermain sedang adik laki-laki hanya menemani saja.
Dari kecil, saya sudah terpesona dengan buku. Bahkan saking banyaknya buku yang kami bertiga miliki, membuat banyak teman sekolah datang untuk meminjam atau ikut membaca di rumah. Sempat kami memutuskan untuk membuat perpustakaan mini. Tapi perpustakaan itu hanya berjalan sebentar karena kami malas menunggu dan malas menagih buku yang dipinjam.
Setiap hari minggu pagi, sepeda dikeluarkan dan kami bersepeda hingga jauh. Suatu hari, di persawahan daerah pondok kopi, seorang teman memutuskan untuk menyusuri pematang sawah bukannya jalan biasa. Dengan sepeda tentu saja. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, adik perempuan jatuh ke sawah, lebih tepatnya lagi jatuh ke tumpukan teletong kerbau di pinggir sawah. Sesampai di rumah, habis saya dimarahi mama karena dianggap tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan adik berlepotan teletong kerbau.
Acara naik sepeda semakin menggila saat bulan puasa. Selepas subuh kami selalu keluar rumah dan kembali ke rumah sekitar jam 9 pagi. Saat itu bila bulan puasa, sekolah selalu libur sebulan penuh. Setelah sampai rumah, kami tidur hingga menjelang ashar, sungguh tidak patut dicontoh hahaha...
Semakin kami besar, kegiatan bersepeda semakin jarang. Saya lebih suka diam di kamar membaca buku dan melamun memandang keluar dari jendela. Kegiatan bermain bersama juga semakin berkurang seiring dengan bertambahnya umur.
Sawah di belakang rumah masih ada hingga tahun 90an awal. Bayangkan sawah di kota Jakarta. Daerah Perumnas Klender dan sekitarnya makin ramai. Saat itu kemacetan mulai terjadi di jam pergi dan pulang kantor. Tetapi belum separah sekarang. Jalan tol dalam kota sudah selesai dibangun. Saya dan seorang teman sering iseng masuk tol dari pintu tol Rawamangun lalu keluar tol kembali di Rawamangun. Terkadang hingga dua putaran, tergantung mood dan bensin hahaha... Hanya butuh kurang dari sejam di luar jam pulang pergi kantor.
Saya tidak merasa bahwa tempat kami pinggiran saat kantor walikota Jakarta Timur pindah ke daerah Cakung yang bahkan lebih pinggir lagi dari Perumnas Klender. Saat itu Cakung rasanya sudah jauh sekali dari pusat Kota. Daerah Bekasi apalagi, rasanya sudah luar kota sekali. Tidak terbayang bahwa sekarang antara Jakarta dan Bekasi tidak berjarak lagi. Walau cara paling mudah untuk menentukan apakah kita sudah masuk Bekasi atau belum adalah dari kualitas aspal. Bila aspal sudah berlubang sana sini tak terawat maka artinya sudah masuk wilayah Bekasi. Coba susuri Jalan I Gusti Ngurah Rai sepanjang rel ... terlihat bedanya mana wilayah Jakarta dan mana wilayah Bekasi.
Perkembangan kota Jakarta semakin pesat, semoga kita tidak tersesat di dalamnya.
#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#hari_kesepuluh
Sabtu, 14 Februari 2015
KELUARGA BAHAGIA
Tema minggu ini adalah definisi keluarga bahagia. Kata keluarga dalam judul tulisan ini sengaja saya beri tanda kutip. Karena menurut saya keluarga itu tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya. Tapi juga bisa berarti keluarga yang kita temukan di luar rumah.
Berapa jam sehari yang kita habiskan di kantor? Minimal 8 jam sehari, dari hari senin hingga jumat. Itu adalah waktu yang cukup lama. Hampir sepertiga hari kita habiskan bersama teman di kantor.
Pekerjaan dimana-mana sebenarnya sama, akan ada rintangan, tantangan dan hambatan. Tetapi bila pekerjaan itu dilakukan dengan hati riang dan lapang, niscaya seberat apapun pekerjaan itu akan mudah dan cepat terselesaikan.
Kunci dari semua itu menurutku adalah suasana kekeluargaan. Menjadikan teman yang lebih senior sebagai orangtua, teman yang lebih tua sebagai kakak, teman yang lebih muda sebagai adik, tambahkan bumbu canda, toleransi, pemahaman dan senyum ceria niscaya keluarga baru akan tercipta.
Dan itu yang saya temukan di kantor saya saat ini.
Kantor saya, Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP), berbeda dengan kantor unit pelaksana teknis Karantina Pertanian lainnya. Tugas kami spesifik. Sebagai tempat pelatihan pegawai karantina yang baru masuk maupun sebagai tempat untuk meng "up grade" ilmu pegawai karantina yang lebih senior. Selain itu kami juga bertugas untuk melakukan uji terap terhadap perlakuan karantina sesuai standar internasional sebelum diterapkan di lapangan.
Perbedaan tugas dengan pegawai karantina di tempat lain inilah yang pada awalnya membuat benturan-benturan kecil di antara kami. Karena sebagian besar di antara kami merupakan petugas yang biasa bertugas di lapangan. Kekagokan karena harus menjadi panitia pelatihan, jadi pengajar, jadi peneliti seiring waktu memudar.
Toleransi, pemahaman, berusaha untuk belajar saya rasa menjadi kata kunci bagi kami untuk mewujudkan keluarga bahagia di tempat kerja. Saat-saat sarapan dan makan siang adalah saat yang ditunggu untuk membicarakan banyak masalah. Masalah yang tadinya saat rapat resmi sukar dicari solusinya, saat makan siang solusi didapat dengan mudah. Mungkin kombinasi antara perut kenyang dan suasana santai membuat otak menjadi lebih rileks dan pemahaman lebih dapat diterima.
Buat saya pribadi, saat makan bersama adalah saat yang saya nantikan. Kantor kami sangat luas, ada tiga tempat kerja yang berbeda. Gedung administrasi untuk tempat bekerja rekan struktural dan fungsional umum. Lantai 3 gedung pendidikan untuk tempat bekerja rekan fungsional karantina tumbuhan dan gedung 'animal cage' tempat bekerja rekan fungsional karantina hewan. Sehingga saat makan sianglah saat yang tepat untuk bertemu semua orang.
Dalam perjalanan waktu 5 tahun ini, sudah ada 3 kepala balai yang memimpin BUTTMKP. Kepala pertama selalu makan bersama kami, pegawainya. Kepala Kedua dan ketiga sebenarnya tidak terbiasa makan bergabung dengan pegawai lain di UPT terdahulu sehingga mereka pada awalnya seperti "terpaksa" makan bersama kami. Seiring waktu kebersamaan saat makan ini ternyata mereka nantikan juga.
Selain makan bersama, momen indah bersama keluarga BUTTMKP adalah saat perjalanan menuju ke masjid kemudian bersama-sama menunaikan shalat Dzuhur. Saat ramadhan, kultum singkat sesudah shalat dzuhur adalah kesempatan kami untuk men "charge" ilmu agama. Alhamdulillah kami selalu saling diingatkan atau mengingatkan bila ada di antara kami yang sedikit menyimpang dari jalur.
Inilah menurut saya definisi keluarga bahagia di tempat kerja. Karena di antara merekalah saya merasa nyaman, merasa disayang, selalu diingatkan dan selalu diberi semangat untuk memberikan yang terbaik. Saat ini setelah lima tahun bersama, saya mendapat tugas baru. Tugas belajar. Saatnya saya mencari keluarga baru di tempat kuliah. Satu hal yang pasti, keluarga BUTTMKP tidak akan pernah hilang dari hati. Karena seselesainya saya dari tugas belajar, saya tidak tahu apakah akan masih di BUTTMKP atau ditugaskan di tempat lain.
Tidak ada yang hilang dari hati, tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Quote dari Tere Liye ini seperti meneriakkan isi hati saya.
Just be there my BUTTMKP's families. Three years just a blink of the eye.
Dedicated to my family ACH, URH, KMT, SA, BS, PA, AS, MS, JH, PL, KUA, IS, SRT, LN, WA, RU, IKD, NDH, SB ... and the rest of you



