It Must End Here
#TitaSeries
#JuliaSays
Tita membenahi seragamnya, hari ini dia mempresentasikan bahaya rabies ke masyarakat sekitar kantor. Para senior ingin menguji kemampuan Tita dengan meminta dia menjadi presenter utama hari itu. Sebuah gedung pertemuan dekat kantor sengaja disewa guna acara Sosialisasi Rabies. Acara tahunan yang rutin diadakan Karantina Pertanian untuk menyebarluaskan bahaya rabies dan cara penanggulangannya.
Diingatnya lagi, materi presenasi yang akan dibawakan. Tita mengecek ulang lembar demi lembar makalah presentasi. Diingatnya lagi kata dosennya dulu, jangan ragu, tatap mata penonton, dan percaya diri. Tetiba diingatnya sesuatu. Tita segera berlari menuju kamar mandi.
Depan kaca kamar mandi, dia segera membenahi dandanan tipis yang dipolesnya tadi pagi. Lipstik merah muda tak lupa dipoles ulang untuk menambah penampilan cetarnya. Penampilan adalah koentji.
Acara dimulai. Baru setengah materi disampaikan, ketika dilihatnya seseorang masuk ruangan. Tita terkejut. Dia Rangga. Ya tak salah lagi, itu Rangga. Seseorang yang beberapa hari ini terus menerus mengganggu dengan percakapan tak pentingnya di Whatsapp.
Tita bertemu kembali dengan Rangga secara tak sengaja sebulan lalu. Dulu sekali mereka pernah dekat saat KKN. Hati Tita pernah terpikat. Tapi Rangga tak pernah memberi kejelasan sikap. Sejak pertemuan kembali, setiap hari, setiap saat Rangga membombardirnya dengan percakapan-percakapan alay tak penting.
Seperti pagi ini ...
[Tita jangan lupa tersenyum manis di Kamis manis]
Huh ... Tita langsung menghapus kalimat Rangga itu dari aplikasi WA-nya tanpa membalas sama sekali.
Atau ...
[Tita, kehadiranmu membuat embun pagi yang membekukan hati menghilang]
Lain hari ...
[Tanpamu aku tak ada, karena kamu .. aku jadi nyata]
Semua dihapus tanpa dibalas sama sekali. Tita merasa, dia sudah mencapai umur yang tidak membutuhkan kata-kata manis. Dia butuh tindakan nyata. Dulu Rangga pernah melakukan hal yang sama. Menaburkan kata dan harapan manis kemudian menghilang. Kali ini dia bertekad, akan mengabaikan Rangga.
Sesi tanya jawab dimulai, Tita merasa sedikit lega. Semua pertanyaan dapat dijawab dengan baik. Diantaranya, rabies menular melalui gigitan hewan tertular; hewan yang umumnya menularkan adalah anjing, kucing dan kera; rabies merupakan penyakit yang mematikan; rabies hanya dapat dicegah dengan vaksinasi; dan lain-lain.
Setelah ini, dilakukan vaksinasi rabies bagi anjing dan kucing, gratis tentu saja. Digantinya seragam coklat kebanggaan dengan snijas putih. Tak lupa stetoskop berwarna merah melengkapi tampilannya kali ini. Dari sudut mata, dilihatnya Rangga berusaha mendekat. Tita memasang wajah dingin. Sebal melihat si pujangga gombal itu mendekat.
"Bu Dokter Tita, tolong kucing saya divaksin ya," ujar Rangga.
Dalam diam, diperiksanya kondisi kucing tersebut. Kucing terlihat sehat dan lincah. Diambilnya spuit berisi vaksin dan disuntikkannya ke dalam tubuh kucing. Sub Cutan. Masih dalam diam, diserahkannya kucing tesebut ke Rangga.
Tita langsung menangani pasien berikutnya. Seluruh dokter hewan karantina di kantornya bahu membahu menangani kucing dan anjing yang terus mengalir. Ada yang memeriksa sekaligus memvaksin seperti Tita, Ada yang menulis buku vaksin serta menempel label dan mencapnya. Ada pula yang membantu pendaftaran pasien. Semua sibuk, termasuk rekan karantina tumbuhan yang tidak piket.
Tak lama, seekor anjing kecil hitam sudah berada di atas meja periksa. Rangga lagi.
"Dokter Tita, Bleki juga mau divaksin," ujar Rangga mencoba menarik perhatian
Tita hanya melirik sekilas. Rangga datang lagi dan lagi. Ada 6 ekor hewan yang dibawanya untuk divaksin Tita. Selama itu Tita terus diam, hanya Rangga yang banyak bicara.
Akhirnya selesai juga.
Baru sejenak meluruskan kaki ketika Rangga mendekat. Tita merasa tidak nyaman.
"Kamu ngapain sih, ganggu aku terus. Chatting mu juga gak mutu gitu tiap hari"
Rangga tersenyum simpul, "Ternyata kamu bisa bersuara juga ya. Kirain suaramu hilang kena rabies!"
Tita langsung berdiri, "Jangan bercanda gak mutu gitu deh. Kamu gak paham ya kalau kamu dan aku harusnya udah end dari dulu. Kamu gak bisa ngasih kepastian, bisanya cuma ngasih rayuan gombal. You and me end here, now!"
"Tita, Rabies must end here, now. But not us! I want to tell you that I already proposed to your parent," Rangga berkata sambil menarik Tita untuk duduk kembali.
Tita kaget mendengar sanggahan Rangga. Tarikan Rangga membuat dia terjatuh ke dalam pelukan Rangga ala-ala KDrama.
"Please be my wife. Hatiku sudah imun dengan gadis lain. Vaksin cintamu dulu sudah membuat aku tak bisa memalingkan hati. Orangtuamu sudah setuju bila kau setuju... Hmmm tapi itu bibir jangan ternganga gitu, nanti lalat masuk," kata Rangga sambil mengedipkan mata.
Tita pun berusaha keluar dari pelukan Rangga. Terdengar teriakan membahana dari sekitarnya.
"Cium .. Cium ... Cium ...!"
Ajegile, kenapa pula orang sekantor ikutan alay.
Tita hanya tersipu malu. Baiklah rabies memang harus dimusnahkan, tapi cinta Rangga terbukti belum musnah.
Jadi, menurut kalian Tita harus menerima Rangga?
#LaporKarantina
#WorldRabiesDay
#RabiesEndHere
@Badan Karantina Pertanian
Catatan:
Tulisan geje untuk Hari Rabies Sedunia, sepertinya saya kebanyakan nonton KDrama hahaha
Tampilkan postingan dengan label #quarantine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #quarantine. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 September 2019
SAYA DOKTER HEWAN KARANTINA!
Saya Dokter Hewan Karantina!
Iya, saya dokter hewan yang bekerja di Badan Karantina Pertanian. Saya menulis karena ingin menyebarluaskan info mengenai pekerjaan saya.
Dokter Hewan adalah salah satu profesi yang mulai berkibar. Saat ini, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) adalah salah satu Fakultas favorit di Universitas mana pun. Bahkan banyak mahasiswa luar negeri, terutama Malaysia dan Singapura yang belajar di Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia. Saat ini hanya 11 Universitas yang memiliki FKH, yaitu UGM Yogyakarta, Unair Surabaya, IPB Bogor, Unpad Bandung, Udayana Denpasar, Unsyiah Aceh, Undana Kupang, Unhas Makassar, Unibraw Malang, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, dan Universitas Mataram, NTB.
Dokter Hewan Karantina lebih spesifik lagi pekerjaannya. Kami menjaga negeri dari ancaman penyakit hewan. Serta mencegah penyebarluasan penyakit tersebut dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia.
Jangan heran kalau kalian datang dari luar negeri membawa daging atau sosis dari luar negeri kami tahan. Produk makanan yang berasal dari hewan juga dapat membawa penyakit lho.
Ini salah satu sebab saya harus menulis mengenai profesi saya. Jangan remehkan kami yang sedang bertugas di pelabuhan dan bandara saat kami menahan produk hewan yang kalian bawa.
Penyakit hewan yang sedang tenar saat ini, dan kami bersusah payah menangkal untuk masuk ke Indonesia antara lain ASF. African Swine Fever.
Virus ASF dapat bertahan berbulan-bulan dalam sosis babi yang kalian bawa masuk ke Indonesia. Sosis yang tidak habis kalian makan, dibuang ke tempat sampah, lalu sampah tersebut dimakan babi. Dalam waktu singkat virus tersebut dapat menulari babi di peternakan dan mematikan seluruh babi yang ada. Ya, virus ASF seganas itu.
Belum lagi penyakit lain seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang sapi. Indonesia sudah terbebas dari PMK, tapi dikelilingi negara yang masih belum bebas seperti Malaysia, Filipina dan Thailand. Jangan sampai PMK masuk lagi ke Indonesia. Tahukah kalian, bahwa kita butuh 100 tahun membebaskan PMK di Indonesia?
Masih banyak lagi tugas dokter hewan karantina, dan saya akan terus menuliskannya
Jangan lupa #LaporKarantina ya
Julia Rosmaya
Dokter Hewan Karantina
Foto : Saya sedang ikut pengawasan sampah dari pesawat internasional di Bandara Soekarno Hatta
Iya, saya dokter hewan yang bekerja di Badan Karantina Pertanian. Saya menulis karena ingin menyebarluaskan info mengenai pekerjaan saya.
Dokter Hewan adalah salah satu profesi yang mulai berkibar. Saat ini, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) adalah salah satu Fakultas favorit di Universitas mana pun. Bahkan banyak mahasiswa luar negeri, terutama Malaysia dan Singapura yang belajar di Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia. Saat ini hanya 11 Universitas yang memiliki FKH, yaitu UGM Yogyakarta, Unair Surabaya, IPB Bogor, Unpad Bandung, Udayana Denpasar, Unsyiah Aceh, Undana Kupang, Unhas Makassar, Unibraw Malang, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, dan Universitas Mataram, NTB.
Dokter Hewan Karantina lebih spesifik lagi pekerjaannya. Kami menjaga negeri dari ancaman penyakit hewan. Serta mencegah penyebarluasan penyakit tersebut dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia.
Jangan heran kalau kalian datang dari luar negeri membawa daging atau sosis dari luar negeri kami tahan. Produk makanan yang berasal dari hewan juga dapat membawa penyakit lho.
Ini salah satu sebab saya harus menulis mengenai profesi saya. Jangan remehkan kami yang sedang bertugas di pelabuhan dan bandara saat kami menahan produk hewan yang kalian bawa.
Penyakit hewan yang sedang tenar saat ini, dan kami bersusah payah menangkal untuk masuk ke Indonesia antara lain ASF. African Swine Fever.
Virus ASF dapat bertahan berbulan-bulan dalam sosis babi yang kalian bawa masuk ke Indonesia. Sosis yang tidak habis kalian makan, dibuang ke tempat sampah, lalu sampah tersebut dimakan babi. Dalam waktu singkat virus tersebut dapat menulari babi di peternakan dan mematikan seluruh babi yang ada. Ya, virus ASF seganas itu.
Belum lagi penyakit lain seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang sapi. Indonesia sudah terbebas dari PMK, tapi dikelilingi negara yang masih belum bebas seperti Malaysia, Filipina dan Thailand. Jangan sampai PMK masuk lagi ke Indonesia. Tahukah kalian, bahwa kita butuh 100 tahun membebaskan PMK di Indonesia?
Masih banyak lagi tugas dokter hewan karantina, dan saya akan terus menuliskannya
Jangan lupa #LaporKarantina ya
Julia Rosmaya
Dokter Hewan Karantina
Foto : Saya sedang ikut pengawasan sampah dari pesawat internasional di Bandara Soekarno Hatta
Labels:
#aboutme,
#quarantine,
#veterinarian
Selasa, 01 November 2016
DHARMA PRIA
"Mas, aku pulang agak larut ya. Barusan nangkap anjing tanpa dokumen. Tadi sudah telpon anak-anak, mereka kusuruh goreng nugget sendiri buat makan malam"
Terdengar sautan di seberang telpon. Perasaan bersalah Dokter Faya karena tidak bisa segera pulang setelah piket usai, tergambar jelas di wajahnya. Sepertinya pak Bayu, sang suami bisa memahami situasi.
Aku tercenung memandang. Tadi siang beliau bercerita bahwa sang suami sedang menggarap proyek besar yang mengharuskannya untuk lembur. Dokter Faya sudah berjanji untuk segera pulang. Tapi apa daya bila ada peristiwa luar biasa seperti usaha penyelundupan ini, sebagai dokter hewan karantina penanggung jawab piket, beliau tidak bisa bergegas pulang.
Kuserahkan dokumen penunjang untuk menahan anjing tersebut. Tanpa kutanya, Dokter Faya menjelaskan bahwa suaminya segera pulang walau seharusnya dia lembur malam ini. Sesaat kemudian beliau segera sibuk mengecek dokumen dan melupakan kehadiranku di ruangan.
Sebagai paramedik yang baru masuk kerja, aku mengagumi dokter Faya. Dedikasi dan komitmennya tinggi terhadap pekerjaan.
Sebagai seorang ibu dari dua anak usia SD, beliau berusaha menyeimbangkan waktu untuk suami, anak dan pekerjaan. Mereka tidak memiliki pembantu. Anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan mobil jemputan. Setelah pulang, mereka terbiasa mendapati rumah yang kosong. Untunglah mereka tinggal di perumahan dengan sistem cluster tertutup. Tetangga sekitar dan pak Satpam membantu mengawasi kedua anak dokter Faya hingga beliau atau suaminya pulang.
Pak Bayu memiliki jadwal kerja yang lebih teratur daripada kami. Hanya sesekali beliau lembur atau keluar kota. Dari cerita dokter Faya, sang suami turun tangan bahu membahu mengurus rumah dan kedua buah hati mereka. Katanya, sewaktu anak mereka balita, urusan menyuapi anak pagi hari adalah tugas sang suami. Siang dan sore diserahkan ke pengasuh. Saat itu pekerjaan pak Bayu lebih fleksibel dari sekarang. Bahkan mengantar anak ke sekolah saat TK pun dilakukan sendiri oleh pak Bayu. Sementara dokter Faya jarang memiliki kesempatan itu.
Sebagai seorang gadis yang masih mencari cinta, aku sering diberi nasehat oleh dokter Faya dan pegawai lain.
"Dita, carilah suami yang memahami pekerjaanmu. Kau bukan PNS biasa dengan jam kerja yang pasti. Kau akan sering pulang malam atau terpaksa menginap di kantor. Tuntutan pekerjaan kita seperti itu. Bila kau punya anak, didiklah mereka untuk mandiri di usia dini. Jangan buat mereka tergantung pembantu atau orang tuanya. Misalnya menyiapkan makan dan menyantapnya sendiri harus mampu dilakukan saat anak masuk usia SD".
Nasehat lebih serius disampaikan ibu kasie kami. Katanya, perempuan Muslim yang sudah menikah harus memiliki ijin suami untuk keluar rumah. Bila suami mengijinkan istri bekerja, ijin itu juga dilengkapi dengan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga diri saat jauh dari suami. Jangan salahgunakan kepecayaan suami. Tapi suami yang mengijinkan istrinya bekerja apalagi bekerja sebagai pegawai karantina juga harus memahami bahwa istrinya tidak bisa lagi 100% melayani suami. Sesekali menyiapkan makan atau menjaga anak tidak akan meruntuhkan wibawanya sebagai kepala keluarga.
Nasehat lain dari seorang rekan yang memiliki istri sesama pegawai karantina, "Bila suamimu nanti tidak ridho dengan sistem kerja kita, bila dia mengeluh terus menerus bahwa kau terlalu sibuk bekerja atau terlalu menuntut layananmu seperti suami lain yang istrinya tidak bekerja. Maka tidak ada jalan lain, kau harus keluar dari karantina. Hasil kerjamu tidak akan berkah tanpa restu suami, hatimu pun tidak tenang karena merasa bersalah serta merasa gagal jadi ibu dan istri yang baik. Jangan kuatir menjadi ibu rumah tangga. Rejeki tidak akan kemana. Kau bisa berbisnis dari rumah".
Mencari suami bukan hal yang mudah ternyata.
Aku salut untuk para suami pegawai karantina yang merelakan istrinya piket malam.
Para suami yang menyiapkan kopi dan sarapannya sendiri di pagi hari saat istri tercinta masih berjibaku dengan komoditi karantina di pelabuhan atau bandara.
Para suami yang tangan hangatnya terulur mengusap paha memar sang istri yang tersepak sapi di kandang pengamatan.
Para ayah yang tangannya melepuh terciprat minyak panas saat menggoreng ayam untuk makan anak-anaknya.
Para kekasih yang hanya bisa memandang wajah lelah istrinya di tempat tidur dan merelakan diri hanya mendapat kecupan di pipi.
Sebutan Dharma Pria mungkin pantas untuk mereka.
Salam hormat untuk Dharma Pria Karantina
#139LindungiNegeri
#KawalDaulatPangan
#SaveOurBiodiversity
Oleh : JR
Tayang : 4 Agustus 2016
Terdengar sautan di seberang telpon. Perasaan bersalah Dokter Faya karena tidak bisa segera pulang setelah piket usai, tergambar jelas di wajahnya. Sepertinya pak Bayu, sang suami bisa memahami situasi.
Aku tercenung memandang. Tadi siang beliau bercerita bahwa sang suami sedang menggarap proyek besar yang mengharuskannya untuk lembur. Dokter Faya sudah berjanji untuk segera pulang. Tapi apa daya bila ada peristiwa luar biasa seperti usaha penyelundupan ini, sebagai dokter hewan karantina penanggung jawab piket, beliau tidak bisa bergegas pulang.
Kuserahkan dokumen penunjang untuk menahan anjing tersebut. Tanpa kutanya, Dokter Faya menjelaskan bahwa suaminya segera pulang walau seharusnya dia lembur malam ini. Sesaat kemudian beliau segera sibuk mengecek dokumen dan melupakan kehadiranku di ruangan.
Sebagai paramedik yang baru masuk kerja, aku mengagumi dokter Faya. Dedikasi dan komitmennya tinggi terhadap pekerjaan.
Sebagai seorang ibu dari dua anak usia SD, beliau berusaha menyeimbangkan waktu untuk suami, anak dan pekerjaan. Mereka tidak memiliki pembantu. Anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan mobil jemputan. Setelah pulang, mereka terbiasa mendapati rumah yang kosong. Untunglah mereka tinggal di perumahan dengan sistem cluster tertutup. Tetangga sekitar dan pak Satpam membantu mengawasi kedua anak dokter Faya hingga beliau atau suaminya pulang.
Pak Bayu memiliki jadwal kerja yang lebih teratur daripada kami. Hanya sesekali beliau lembur atau keluar kota. Dari cerita dokter Faya, sang suami turun tangan bahu membahu mengurus rumah dan kedua buah hati mereka. Katanya, sewaktu anak mereka balita, urusan menyuapi anak pagi hari adalah tugas sang suami. Siang dan sore diserahkan ke pengasuh. Saat itu pekerjaan pak Bayu lebih fleksibel dari sekarang. Bahkan mengantar anak ke sekolah saat TK pun dilakukan sendiri oleh pak Bayu. Sementara dokter Faya jarang memiliki kesempatan itu.
Sebagai seorang gadis yang masih mencari cinta, aku sering diberi nasehat oleh dokter Faya dan pegawai lain.
"Dita, carilah suami yang memahami pekerjaanmu. Kau bukan PNS biasa dengan jam kerja yang pasti. Kau akan sering pulang malam atau terpaksa menginap di kantor. Tuntutan pekerjaan kita seperti itu. Bila kau punya anak, didiklah mereka untuk mandiri di usia dini. Jangan buat mereka tergantung pembantu atau orang tuanya. Misalnya menyiapkan makan dan menyantapnya sendiri harus mampu dilakukan saat anak masuk usia SD".
Nasehat lebih serius disampaikan ibu kasie kami. Katanya, perempuan Muslim yang sudah menikah harus memiliki ijin suami untuk keluar rumah. Bila suami mengijinkan istri bekerja, ijin itu juga dilengkapi dengan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga diri saat jauh dari suami. Jangan salahgunakan kepecayaan suami. Tapi suami yang mengijinkan istrinya bekerja apalagi bekerja sebagai pegawai karantina juga harus memahami bahwa istrinya tidak bisa lagi 100% melayani suami. Sesekali menyiapkan makan atau menjaga anak tidak akan meruntuhkan wibawanya sebagai kepala keluarga.
Nasehat lain dari seorang rekan yang memiliki istri sesama pegawai karantina, "Bila suamimu nanti tidak ridho dengan sistem kerja kita, bila dia mengeluh terus menerus bahwa kau terlalu sibuk bekerja atau terlalu menuntut layananmu seperti suami lain yang istrinya tidak bekerja. Maka tidak ada jalan lain, kau harus keluar dari karantina. Hasil kerjamu tidak akan berkah tanpa restu suami, hatimu pun tidak tenang karena merasa bersalah serta merasa gagal jadi ibu dan istri yang baik. Jangan kuatir menjadi ibu rumah tangga. Rejeki tidak akan kemana. Kau bisa berbisnis dari rumah".
Mencari suami bukan hal yang mudah ternyata.
Aku salut untuk para suami pegawai karantina yang merelakan istrinya piket malam.
Para suami yang menyiapkan kopi dan sarapannya sendiri di pagi hari saat istri tercinta masih berjibaku dengan komoditi karantina di pelabuhan atau bandara.
Para suami yang tangan hangatnya terulur mengusap paha memar sang istri yang tersepak sapi di kandang pengamatan.
Para ayah yang tangannya melepuh terciprat minyak panas saat menggoreng ayam untuk makan anak-anaknya.
Para kekasih yang hanya bisa memandang wajah lelah istrinya di tempat tidur dan merelakan diri hanya mendapat kecupan di pipi.
Sebutan Dharma Pria mungkin pantas untuk mereka.
Salam hormat untuk Dharma Pria Karantina
#139LindungiNegeri
#KawalDaulatPangan
#SaveOurBiodiversity
Oleh : JR
Tayang : 4 Agustus 2016
SAYA MANTAN PENERIMA PUNGLI
SAYA MANTAN PENERIMA PUNGLI
- JULIA ROSMAYA
Hah?
Iya saya dulu sering menerima pungli. Walau saya tidak pernah menadahkan tangan secara langsung atau mengucapkan permintaan tambahan biaya di luar biaya resmi, tapi saya ikut menerima pungli.
Sistem yang salah? Atau lingkungan? Entahlah, yang pasti menerima pungli saat itu rasanya wajar-wajar saja. Tidak ada satu pun orang yang merasa bersalah menikmati pungli.
Seorang rekan berkata, “Darimana kita bisa beli kopi untuk menahan kantuk saat piket malam? Belum lagi kalau mulut sepet ingin merokok sehabis mengambil sampel darah hewan. Atau perut yang keroncongan diterpa angin malam? Memang si bos di Jakarta sana mikirin kita?”
Saat itu saya terdiam. Dalam hati membenarkan.
Tetapi semakin lama saya berada dalam lingkungan itu, rasanya semakin gerah. Tidak ikut menerima uang yang dibagikan (yang notabene uang pungli), dicap munafik. Menerima rasanya kok hati tak tenang.
Perlahan terjadi perubahan paradigma. Sistem keuangan negara mulai mengakomodir kebutuhan untuk sekedar makan dan minum kopi. Memang belum sebanyak yang bisa didapat dari pungli, tapi setidaknya ada dana yang dapat digunakan secara legal.
Merubah persepsi teman yang sudah terlanjur terbiasa menadahkan tangan tidaklah mudah. Tapi ternyata perlahan bisa juga. Walau awalnya banyak yang diam-diam masih “meminta” tapi lama-lama jumlah peminta-minta ini semakin berkurang.
Saat ini, bisa dikatakan uang yang saya terima hampir bersih dari pungli. Tahu tidak? Saya punya tabungan sekarang!!! Ya ternyata uang saya masih bersisa tiap bulan dan bisa dimasukkan tabungan. Senangnya melihat angka-angka di tabungan bertambah dari bulan ke bulan. Memang sih jumlahnya belum sampai belasan atau puluhan juta. Cukuplah untuk sekedar pergi berwisata bersama keluarga setahun sekali.
Saya heran sebenarnya. Kenapa pendapatan yang berkurang saat ini malah bisa menabung? Ternyata karena dulu saat pendapatan berlebih, pengeluaran saya juga berlebih. Makan sana sini, jadi cukong mentraktir teman-teman sepulang kerja. Beli baju, tas yang harganya wow. Pantaslah tidak ada yang bisa ditabung. Mungkin saat itu berpikir bahwa uang banyak kenapa harus dihemat.
Saya mantan penerima pungli … dan saya tidak bangga karenanya.
Mari jauhi pungli .. just say no to illegal fee !!!
- JULIA ROSMAYA
Hah?
Iya saya dulu sering menerima pungli. Walau saya tidak pernah menadahkan tangan secara langsung atau mengucapkan permintaan tambahan biaya di luar biaya resmi, tapi saya ikut menerima pungli.
Sistem yang salah? Atau lingkungan? Entahlah, yang pasti menerima pungli saat itu rasanya wajar-wajar saja. Tidak ada satu pun orang yang merasa bersalah menikmati pungli.
Seorang rekan berkata, “Darimana kita bisa beli kopi untuk menahan kantuk saat piket malam? Belum lagi kalau mulut sepet ingin merokok sehabis mengambil sampel darah hewan. Atau perut yang keroncongan diterpa angin malam? Memang si bos di Jakarta sana mikirin kita?”
Saat itu saya terdiam. Dalam hati membenarkan.
Tetapi semakin lama saya berada dalam lingkungan itu, rasanya semakin gerah. Tidak ikut menerima uang yang dibagikan (yang notabene uang pungli), dicap munafik. Menerima rasanya kok hati tak tenang.
Perlahan terjadi perubahan paradigma. Sistem keuangan negara mulai mengakomodir kebutuhan untuk sekedar makan dan minum kopi. Memang belum sebanyak yang bisa didapat dari pungli, tapi setidaknya ada dana yang dapat digunakan secara legal.
Merubah persepsi teman yang sudah terlanjur terbiasa menadahkan tangan tidaklah mudah. Tapi ternyata perlahan bisa juga. Walau awalnya banyak yang diam-diam masih “meminta” tapi lama-lama jumlah peminta-minta ini semakin berkurang.
Saat ini, bisa dikatakan uang yang saya terima hampir bersih dari pungli. Tahu tidak? Saya punya tabungan sekarang!!! Ya ternyata uang saya masih bersisa tiap bulan dan bisa dimasukkan tabungan. Senangnya melihat angka-angka di tabungan bertambah dari bulan ke bulan. Memang sih jumlahnya belum sampai belasan atau puluhan juta. Cukuplah untuk sekedar pergi berwisata bersama keluarga setahun sekali.
Saya heran sebenarnya. Kenapa pendapatan yang berkurang saat ini malah bisa menabung? Ternyata karena dulu saat pendapatan berlebih, pengeluaran saya juga berlebih. Makan sana sini, jadi cukong mentraktir teman-teman sepulang kerja. Beli baju, tas yang harganya wow. Pantaslah tidak ada yang bisa ditabung. Mungkin saat itu berpikir bahwa uang banyak kenapa harus dihemat.
Saya mantan penerima pungli … dan saya tidak bangga karenanya.
Mari jauhi pungli .. just say no to illegal fee !!!
Kamis, 28 Mei 2015
RAMADHAN SUATU HARI YANG LALU (PART 1- ANTARA MERAK DAN JAKARTA)
Sebagai dokter hewan karantina, saya pernah bertugas di pelabuhan Merak Banten selama tujuh tahun. Saat itu, saya memutuskan untuk tidak pindah ke Merak tetapi melakukan perjalanan pulang pergi Merak-Jakarta setiap hari atau sesuai jadwal piket. Rumah berlokasi di Jakarta Timur dan perjalanan dari dan ke Merak dilakukan dengan menggunakan bis AKAP dari Terminal Pulogadung. Hanya sesekali menggunakan mobil dinas kantor, itu pun bila ada keperluan mendesak.
Selama di bis, selain membaca buku dan tidur saya suka sekali mengamati orang di sekeliling. Menjelang dan selama Ramadhan dan terutama menjelang Idul Fitri adalah waktu-waktu yang paling menarik untuk mengamati orang.
Sebelum puasa, banyak orang melakukan perjalanan dengan tujuan "nyekar" ke makam orang tua. Di awal-awal puasa penumpang bis dengan tujuan jauh jarang ditemui. Seminggu menjelang Idul Fitri mulailah arus mudik dan tarif bis mendadak dangdut meroket.
Sebagai penumpang rutin, tentu saja kenalan supir dan kenek bis Merak-Pulogadung wajib dipunyai. Selain untuk keamanan di jalan, juga untuk membunuh rasa bosan dengan mengobrol sepanjang jalan. keuntungannya adalah, saat yang lain ditarik tarif tinggi saat menjelang Idul Fitri, saya tetap membayar dengan tarif biasa. Tetapi ini tidak berlaku bila saya melakukan perjalanan H-2 hingga H+2. Tarif tuslah Lebaran tetap diberlakukan pada siapa pun tanpa pandang bulu.
Hal yang menarik saat menjelang Idul Fitri adalah memperhatikan kostum dan bawaan penumpang. Orang Indonesia sepertinya bila melakukan perjalanan jauh kurang lengkap tanpa membawa kardus. Kardus ukuran kecil hingga besar memenuhi bis dan diletakkan di antara bangku hingga di atap bis. Kadang ada kardus yang dikemas rapi tetapi lebih banyak yang diikat tali rafia sekedarnya, sehingga isi di dalamnya terlihat dan bila si pemilik sedang apes kardus bisa tercerai berai tak karuan. Isi kardus bervariasi mulai dari pakaian, buah-buahan, mainan anak bahkan peralatan rumah tangga seperti kompor sampai bantal guling. Itu adalah varian isi kardus dalam perjalanan sebelum lebaran. Sesudah lebaran, isinya beda lagi, biasanya hasil panen di kampung seperti beras, kelapa butiran, duren, petai dan lain-lain.
Menggunakan baju baru atau terlihat menarik saat tiba di kampung halaman adalah salah satu kewajiban para perantau yang mudik. Nah ini yang menarik. Bis Merak-Pulogadung saat itu (2003-2010) lebih banyak bis ekonomi non AC, jumlah bis AC sangat sedikit. Menggunakan baju keren berlapis-lapis atau celana jeans sebenarnya kurang nyaman di bis tanpa AC. Bahkan syal yang dililit di bagian leher dan jaket kulit atau jaket kain tebal tidaklah tepat digunakan di bis yang penuh sesak. Tetapi demi terlihat keren, walau keringat berbulir-bulir sudah mengalir kostum keren itu tetap dipertahankan.
Make up untuk para wanita tentu saja harus maksimal bila ingin terlihat gaya di kampung halaman. Tetapi foundation yang dioleskan tebal plus bulu mata palsu yang sudah terpasang dari rumah padahal perjalanan memakan waktu lebih dari 6 jam rasanya sungguh berlebihan. Yang terjadi akhirnya make up sudah luntur bahkan sebelum bis memasuki terminal Serang.
Hal yang menyedihkan dari perjalanan mudik ini adalah banyaknya penumpang yang tidak berpuasa dengan alasan musafir. Di awal puasa, masih banyak penumpang berpuasa bahkan bersama-sama berbuka puasa di bis. Supir terkadang berbaik hati menyetel radio sehingga jelas kapan waktunya berbuka. Tetapi menjelang lebaran, lebih banyak penumpang yang tidak puasa dengan beragam alasan. Asap rokok, bau makanan dan botol aqua dingin sungguh menggoda siapa pun yang sedang berpuasa.
Kenikmatan saat berbuka bersama dengan orang yang tidak dikenal di bis sangatlah tak ternilai. Tetiba orang sebelah saya menawarkan bakwan, orang yang di depan menawarkan arem-arem plus teh kotak bahkan ada yang pernah menawarkan saya nasi bungkus! Saya pernah naik bis yang supir dan keneknya berpuasa, dan mereka sengaja meminggirkan kendaraannya di jalan tol guna sekedar melepas dahaga dan shalat magrib di pinggir jalan, karena lokasi rest area masih jauh dan saat itu jalanan agak padat.
Ah sungguh banyak kenangan berharga di perjalanan antara Merak dan Jakarta, Tunggu bagian dua ya mengenai suasana ramadhan antara Cibitung dan Jakarta
Selama di bis, selain membaca buku dan tidur saya suka sekali mengamati orang di sekeliling. Menjelang dan selama Ramadhan dan terutama menjelang Idul Fitri adalah waktu-waktu yang paling menarik untuk mengamati orang.
Sebelum puasa, banyak orang melakukan perjalanan dengan tujuan "nyekar" ke makam orang tua. Di awal-awal puasa penumpang bis dengan tujuan jauh jarang ditemui. Seminggu menjelang Idul Fitri mulailah arus mudik dan tarif bis mendadak dangdut meroket.
Sebagai penumpang rutin, tentu saja kenalan supir dan kenek bis Merak-Pulogadung wajib dipunyai. Selain untuk keamanan di jalan, juga untuk membunuh rasa bosan dengan mengobrol sepanjang jalan. keuntungannya adalah, saat yang lain ditarik tarif tinggi saat menjelang Idul Fitri, saya tetap membayar dengan tarif biasa. Tetapi ini tidak berlaku bila saya melakukan perjalanan H-2 hingga H+2. Tarif tuslah Lebaran tetap diberlakukan pada siapa pun tanpa pandang bulu.
Hal yang menarik saat menjelang Idul Fitri adalah memperhatikan kostum dan bawaan penumpang. Orang Indonesia sepertinya bila melakukan perjalanan jauh kurang lengkap tanpa membawa kardus. Kardus ukuran kecil hingga besar memenuhi bis dan diletakkan di antara bangku hingga di atap bis. Kadang ada kardus yang dikemas rapi tetapi lebih banyak yang diikat tali rafia sekedarnya, sehingga isi di dalamnya terlihat dan bila si pemilik sedang apes kardus bisa tercerai berai tak karuan. Isi kardus bervariasi mulai dari pakaian, buah-buahan, mainan anak bahkan peralatan rumah tangga seperti kompor sampai bantal guling. Itu adalah varian isi kardus dalam perjalanan sebelum lebaran. Sesudah lebaran, isinya beda lagi, biasanya hasil panen di kampung seperti beras, kelapa butiran, duren, petai dan lain-lain.
Menggunakan baju baru atau terlihat menarik saat tiba di kampung halaman adalah salah satu kewajiban para perantau yang mudik. Nah ini yang menarik. Bis Merak-Pulogadung saat itu (2003-2010) lebih banyak bis ekonomi non AC, jumlah bis AC sangat sedikit. Menggunakan baju keren berlapis-lapis atau celana jeans sebenarnya kurang nyaman di bis tanpa AC. Bahkan syal yang dililit di bagian leher dan jaket kulit atau jaket kain tebal tidaklah tepat digunakan di bis yang penuh sesak. Tetapi demi terlihat keren, walau keringat berbulir-bulir sudah mengalir kostum keren itu tetap dipertahankan.
Make up untuk para wanita tentu saja harus maksimal bila ingin terlihat gaya di kampung halaman. Tetapi foundation yang dioleskan tebal plus bulu mata palsu yang sudah terpasang dari rumah padahal perjalanan memakan waktu lebih dari 6 jam rasanya sungguh berlebihan. Yang terjadi akhirnya make up sudah luntur bahkan sebelum bis memasuki terminal Serang.
Hal yang menyedihkan dari perjalanan mudik ini adalah banyaknya penumpang yang tidak berpuasa dengan alasan musafir. Di awal puasa, masih banyak penumpang berpuasa bahkan bersama-sama berbuka puasa di bis. Supir terkadang berbaik hati menyetel radio sehingga jelas kapan waktunya berbuka. Tetapi menjelang lebaran, lebih banyak penumpang yang tidak puasa dengan beragam alasan. Asap rokok, bau makanan dan botol aqua dingin sungguh menggoda siapa pun yang sedang berpuasa.
Kenikmatan saat berbuka bersama dengan orang yang tidak dikenal di bis sangatlah tak ternilai. Tetiba orang sebelah saya menawarkan bakwan, orang yang di depan menawarkan arem-arem plus teh kotak bahkan ada yang pernah menawarkan saya nasi bungkus! Saya pernah naik bis yang supir dan keneknya berpuasa, dan mereka sengaja meminggirkan kendaraannya di jalan tol guna sekedar melepas dahaga dan shalat magrib di pinggir jalan, karena lokasi rest area masih jauh dan saat itu jalanan agak padat.
Ah sungguh banyak kenangan berharga di perjalanan antara Merak dan Jakarta, Tunggu bagian dua ya mengenai suasana ramadhan antara Cibitung dan Jakarta
Labels:
#aboutme,
#memoar,
#quarantine
Sabtu, 09 Mei 2015
DONT FEED THE ANIMAL
Beberapa waktu yang lalu, sebagai bagian dari pelatihan yang diadakan oleh Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) kami mengunjungi Taman Safari Indonesia (TSI). Di TSI kami berlatih menangani reptil. Sebagai dokter hewan karantina, keahlian menangani reptil sangat diperlukan di lapangan. Reptil termasuk hewan yang sering dilalulintaskan, tidak hanya ekspor impor tetapi juga antar area.
Tentu saja kami berkesempatan untuk berkeliling di Taman Safari. Sedikit bersenang-senang di tengah pelatihan wajib hukumnya bagi peserta.
Saat itu Taman Safari cukup ramai dikunjungi anak-anak sekolah, juga wisatawan asing terutama dari jazirah Arab. Bahkan saat ini seluruh papan informasi bertuliskan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, English dan Arabic untuk mengakomodir wisatawan Arab yang signifikan jumlahnya.
Salah satu hal yang memprihatinkan dari para pengunjung adalah mereka tidak mengindahkan larangan memberi makan hewan yang pengumumannya terpasang dimana-mana.
Bahkan mobil yang didalamnya berisi orang dewasa tanpa anak-anak juga ikut memberi makan hewan. Makanan yang diberi tidak hanya sayuran dan buah-buahan. Tetapi juga semacam kripik, kue, coklat dan bahkan kacang goreng lengkap dengan plastik pembungkusnya.
Sadarkah mereka bahwa memberi makanan yang tidak sesuai dengan jenis makanan yang biasa dimakan itu sangat membahayakan bagi hewan itu sendiri?
Yang menyedihkan, perilaku hewan-hewan tersebut. Seperti pengemis! Mereka mendekati setiap mobil dan berharap diberi makan. Bila mobil yang didekati tidak memberi makan, maka mereka langsung beralih ke mobil berikutnya. Bukankah ini sama dengan perilaku pengemis di lampu merah Jakarta?
Unta, rusa, banteng, anoa dan lainnya bahkan monyet liar ikut berperilaku seperti pengemis.
Tidak hanya di Taman Safari, di Kebun Binatang Ragunan pun banyak hewan yang mengharapkan makanan dari pengunjung. Sampah sisa makanan seperti keripik dan lain-lain yang notabene tidak layak makan untuk hewan bertebaran di dalam kandang.
Mendengar cerita rekan dokter hewan yang bertugas di sana, ada banyak kejadian hewan sakit karena makan plastik atau makanan manusia.
Dan apakah manusia yang memberi makan tersebut merasa bersalah? Saya rasa tidak.
Alasan yang paling sering dikemukan adalah membuat anaknya senang dengan memberi makan hewan. Alasan lain, sayang pada hewan tersebut atau kasihan melihat hewan tersebut meminta makan.
Rasa sayang yang bisa membunuh.
Sejak anak-anak kecil, bila ke kebun binatang atau ke Taman Safari, saya selalu melarang mereka memberi makan hewan. Hewan-hewan tersebut memilik makanannya sendiri dan bukan makanan manusia. Walau yang diberikan buah atau sayuran, saya tetap melarang. Karena hewan akan terdidik untuk menjadi pengemis.
Sayangilah mereka dengan tidak memberikan makanan berupa apapun. Jangan didik mereka menjadi pengemis. Tugas dokter hewan disana tidak hanya mengobati hewan yang sakit akibat salah makan tetapi masih banyak lagi yang lain.
Dan bila ke Taman Safari atau kebun binatang, jangan lupa membawa makanan yang banyak. Buat kita sendiri tentu saja bukan untuk hewan-hewan itu :).
Dont feed the animals if you care
#tamansafari
#veterinarian
Tentu saja kami berkesempatan untuk berkeliling di Taman Safari. Sedikit bersenang-senang di tengah pelatihan wajib hukumnya bagi peserta.
Saat itu Taman Safari cukup ramai dikunjungi anak-anak sekolah, juga wisatawan asing terutama dari jazirah Arab. Bahkan saat ini seluruh papan informasi bertuliskan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, English dan Arabic untuk mengakomodir wisatawan Arab yang signifikan jumlahnya.
Salah satu hal yang memprihatinkan dari para pengunjung adalah mereka tidak mengindahkan larangan memberi makan hewan yang pengumumannya terpasang dimana-mana.
Bahkan mobil yang didalamnya berisi orang dewasa tanpa anak-anak juga ikut memberi makan hewan. Makanan yang diberi tidak hanya sayuran dan buah-buahan. Tetapi juga semacam kripik, kue, coklat dan bahkan kacang goreng lengkap dengan plastik pembungkusnya.
Sadarkah mereka bahwa memberi makanan yang tidak sesuai dengan jenis makanan yang biasa dimakan itu sangat membahayakan bagi hewan itu sendiri?
Yang menyedihkan, perilaku hewan-hewan tersebut. Seperti pengemis! Mereka mendekati setiap mobil dan berharap diberi makan. Bila mobil yang didekati tidak memberi makan, maka mereka langsung beralih ke mobil berikutnya. Bukankah ini sama dengan perilaku pengemis di lampu merah Jakarta?
Unta, rusa, banteng, anoa dan lainnya bahkan monyet liar ikut berperilaku seperti pengemis.
Tidak hanya di Taman Safari, di Kebun Binatang Ragunan pun banyak hewan yang mengharapkan makanan dari pengunjung. Sampah sisa makanan seperti keripik dan lain-lain yang notabene tidak layak makan untuk hewan bertebaran di dalam kandang.
Mendengar cerita rekan dokter hewan yang bertugas di sana, ada banyak kejadian hewan sakit karena makan plastik atau makanan manusia.
Dan apakah manusia yang memberi makan tersebut merasa bersalah? Saya rasa tidak.
Alasan yang paling sering dikemukan adalah membuat anaknya senang dengan memberi makan hewan. Alasan lain, sayang pada hewan tersebut atau kasihan melihat hewan tersebut meminta makan.
Rasa sayang yang bisa membunuh.
Sejak anak-anak kecil, bila ke kebun binatang atau ke Taman Safari, saya selalu melarang mereka memberi makan hewan. Hewan-hewan tersebut memilik makanannya sendiri dan bukan makanan manusia. Walau yang diberikan buah atau sayuran, saya tetap melarang. Karena hewan akan terdidik untuk menjadi pengemis.
Sayangilah mereka dengan tidak memberikan makanan berupa apapun. Jangan didik mereka menjadi pengemis. Tugas dokter hewan disana tidak hanya mengobati hewan yang sakit akibat salah makan tetapi masih banyak lagi yang lain.
Dan bila ke Taman Safari atau kebun binatang, jangan lupa membawa makanan yang banyak. Buat kita sendiri tentu saja bukan untuk hewan-hewan itu :).
Dont feed the animals if you care
#tamansafari
#veterinarian
Labels:
#animal,
#quarantine,
#tamansafari,
#veterinarian
Langganan:
Postingan (Atom)



