APRIL 1991
Ada seminar kecil-kecilan khusus cowok tanggal 8 April yang membahas persoalan "Mengapa kita belum dapat cewek". Menurut sang moderator Iman yang dibantu oleh Iwan, hal itu disebabkan karena kekurangberanian mereka dalam memproklamasikan apa yang ada di hati kepada cewek yang disuka. Ada .... aja..... hehehe pada iri tuh sama Mr T dan Mr A...
Sudah beberapa minggu ini beredar kabar bahwa sekolah kita mau dibongkar dan kita dipindahkan ke sekolah lain, katanya sih ke SMP 202 di Buaran. Anak-anak jadi gelisah, masalahnya kalau kita jadi dipindah, berarti harus masuk siang. Sedangkan di siang hari banyak yang les dan tidak mudah memindahkan les ke pagi hari. Lagipula gak enak kan masuk siang, kita sebagai anak BIO sudah kenyang 2 tahun masuk siang terus, masa sekarang masuk siang lagi.
Selain itu, kalau jadi pindah berarti kita ujian di sekolah lain, apa enaknya ujian di sekolah lain pikir anak-anak waktu itu (Padahal akhirnya anak BIO ujian di di smp 198 kan?) Wah pokoknya anak-anak bingung deh, mana gak ada penjelasan resmi dari sekolah. Pak Mustamin bilang kita jadi pindah, sedangkan kepala sekolah bilangke anak Fis kita gak jadi pindah. Ada lagi yang bilang pindahnya tepat sehabis lebaran, wah pokoknya macam-macam deh gosip yang beredar.
Kemudian tanggal 10-25 April kita libur Lebaran. Setelah berbagai macam spekulasi tentang jadi tidaknya kita pindah sekolah akhirnya didapat kepastian bahwa kita gak jadi pindah tahun ajaran ini tapi tahun ajaran depan setelah kita lulus. Lega rasanya kita semua mendengar kabar itu. Kita masih diberi kesempatan menikmati keadaan akhir dari sekolah kita yang walaupun gedungnya jelek tapi kita cinta ini.
Tanggal 29 April sewaktu upacara, kelas kita plus BIO 2 dan SOS yang jadi penyanyinya. Walaupun udah 3 kelas digabung tetap saja waktu nyanyi suaranya gak ada yang keluar!
Nelly, Beni dan Sinta ulang tahun bulan ini. Cuma karena sedang libur, yang kena bawa beng beng hanya si Sinta aja.
MEI 1991
Akhirnya bulan yang paling tidak ditunggu-tunggu anak-anak datang! Tanggal 6-7 Mei kita EBTA dan tanggal 15-16 kita EBTANAS. Wah curang deh masa kelas BIO ujiannya di SMP 198! Mana bangkunya pendek-pendek lagi. Kita digusur karena kabarnya ada anak SMA lain yang ujian di tempat kita.
Dan tahu gak ? Ternyata ujian EBTANAS kita sudah bocor ! Ada beberapa anak yang sudah tahu soal yang akan keluar! Biasa deh anak-anak, kalau soal "bocoran" kaya gitu, mereka paling cepat !
Setelah EBTANAS Fisika, kita mengadakan rapat mendadak soal perpisahan kelas. Anak-anak maunya kita pergi keluar, tapi gak usah nginap. Padahal dulunya mereka nggak mau kalau disuruh pergi keluar, mereka malah maunya pesta di rumah. Tapi sekarang mendadak pada berubah pikiran. Jadi terpaksa, kita berepot ria deh ngurusin semuanya.
Mengenai perpisahan ini belum bisa diceritakan, habis sewaktu "kaleidoskop" ini dibuat, perpisahan itu belum terlaksana sih.
Kasihan banget Iwan, Titi, Fini, Lenny dan Angkas sebab ulang tahun mereka bertepatan dengan saat ujian. Yang gak enak ya kita-kita juga sih, habis gak dapat beng-beng ....!
PENUTUP
Setahun kita berada dalam kelas yang sama, sama-sama menanggung duka dan juga sama-sama bergembira. Kelas ini adalah jenjang terakhir dari pendidikan menengah. Setelah ini kita tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada kita. Kalau kita diterima di Universitas negeri maupun swasta, kita akan menghadapi sistem pendidikan yang berbeda yang sangat berbeda dengan sistem yang ada ada di SMA.
Semoga seluruh kenangan yang tercipta di kelas III Biologi satu ini, baik yang manis maupun yang pahit dapat terus dikenang sampai suatu masa dimana kita tidak dapat lagi mengenangnya.... semoga .....
Jakarta, 23 Mei 1991
Tampilkan postingan dengan label #memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #memoar. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Mei 2020
KALEIDOSKOP III BIO 1 (BAGIAN 5)
FEBRUARI 1991
Ada lagi yang diam-diam jadian, Mr A dan Miss T di Bio 1, dan topik pergosipin pun beralih ke pasangan baru ini.
Heran tinggal beberapa bulan lagi pisah eh malah pada "jadian" dan rupanya ini gak hanya terjadi di III Bio 1 saja tapi juga di kelas III yang lain. Seperti di BIO 2 yang baru jadian itu Mr D n Miss D. Wah anak-anak geger pas anak-anak tau kalau mereka "jadian". Kesempatan terakhir kali untuk mewujudkan impiannya. Ayo .... siapa lagi yang menyusul???
Semakin dekat ujian semakin banyak yang gak masuk karena sakit. Fini, Nelly, Edy, Ebeth dan masih banyak anak yang lain. Baik karena flu-flu biasa saja atau yang parah seperti Fini terkena gejala tipus atau Edy yang sempat dirawat di rumah sakit atau Ebeth yang kena cacar air. Ada-ada aja, udah mau ujian sih jadi pada stress dan gak mikirin kesehatan lagi kali.
Kelakuan anak-anak juga pada aneh-aneh deh. Yang cowok main perang-perangan lawan BIO 2. Ini sebenarnya sudah berlangsung lama, malah sejak masuk kelas III cuma makin lama permainannya makin parah saja. Sekarang gak cukup hanya menawan tapi udah mengarah ke hal yang berbahaya. Masa anak yang ditawan mau ditelanjangin. Memang sih cuma bercanda, cuma kalau beneran bisa-bisa ceweknya pada kabur dong.....
Yang lagi heppi bulan ini Sorta dan Poppy ... biasa deh kita berbeng-beng ria...
MARET 1991
Lucu juga kalau ngeliatin anak-anak yang maju ke depan memperagakan kemampuannya menghafal "proverbs" di hadapan bu Gultom. Ada yang ngetok-ngetok meja kaya Sinta (padahal mejanya gak salah apa-apa tuh). Ada yang kepalanya goyang-goyang kayak layangan putus seperti Iman dan Iwan. Ada yang matanya merem gak mau liat apa-apa kayak Fini. Ada yang tangannya gak bisa diam menghitung seperti Nelly, Diah dan Felis. Tapi ada juga yang tenang aja, kalem malah seperti Yeni, Popi atau Silva. Lagak mereka semua kalo difilim - in barangkali bisa menangin piala citra untuk film paling konyol sedunia kali ya ... ???
Ada seorang guru yang bikin aneh2 dan bikin anak-anak panik. Sejak bulan Januari Pak Bch ngadain les di sekolah setiap minggu pagi. Mulanya beliau dulu bilang gratis, jadi banyak anak yang ikut. Eh tiba-tiba beliau bilang, perlu uang buat beli kapur dan perlengkapan lainnya buat ngajar. Anak-anak masih maklum, jadi kita berela hati ngasih sumbangan. Eh... setelah sumbangan diserahkan, dia gak mau terima malah dikembalikan. Katanya kita gak menghargai dia dengan hanya memberikan sumbangan yang jumlahnya minim itu. Dia mau jumlah yang lebih besar lagi.
Bayangin bagaimana gondoknya anak-anak dengan beliau. Kalau misalnya dia minta dibayar mahal, kenapa gak bilang dari dulu, sehingga anak-anak akan memberikan uang sejumlah yang dia ingini. Sekarang setelah "uang sumbangang" diserahkan, beliau minta lebih! Kalau hanya soal uang yang tidak begitu besar itu nilai anak-anak jadi taruhannya, siapa yang gak gondok coba
Tapi akhirnya persoalan itu dapat diselesaikan, setelah anak-anak memberikan "sumbangan" sesuai dengan yang beliau ingini. tapi kasihan mereka-mereka yang lupa untuk membayar atau memang tidak punya uang untuk itu, mereka berkali-kali dipanggil pak Bch....
Tanggal 16 - 22 Maret kita libur awal puasa. Sebelum berlibur kita saling memaafkan dulu.
Beberapa minggu yang lalu, kelas kita berencana bikin jaket kelas. Tadinya kita mau bikin sweater cuma karena bahan dan bentuknya tidak sesuai dengan keinginan yang lain, akhirnya disepakati untuk membuat jaket saja yang lebih keren.
Tanggal 25 maret, tuh jaket sudah jadi. Wah keren banget deh. Lengannya berwarna putih, sedang dada dan punggungnya terbuat dari bahan kain berwarna hitam. Jaket yang bisa dibolak-balik itu bahan dalamnya terbuat dari kain tipis berwarna merah. Pokoknya keren deh ! Dan anak-anak Bio 2 langung iri.
Karena sedang bulan puasa, maka anak-anak mengadakan acara buka puasa bersama di rumah Yeni tanggal 30 maret 1991. Sayangnya waktu itu hujan turun lebat sekali sehingga hanya sekitar 30 anak ditambah sedikit anak bio 2 yang bisa datang. Padahal makanan berlimpah ruah, sate, bola-bola daging, gulai, es buah dan kue-kue. Wah pokoknya enak-enak semua deh.
Hari itu entah kenapa banyak yang ketiban sial. Hijet 1000-nya Nanda , ban depan kirinya masuk got di samping rumah Yeni. Mana waktu itu cowok yang lain belum pada datang lagi. Akhirnya dengan dibantu bapaknya Yeni dan Iwan yang datang tak lama kemudian, mobil bisa terangkat dari got.
Udah gitu, Aang yang sedang memberi aba-aba pada Beni yang sedang memundurkan mobil Pipin kakinya kejeblos got juga! Kasian banget sampai bengkak. Lain lagi si Yuli, dia berkali-kali menelpon Yeni menanyakan alamat serta letak rumahnya dan hampir tersesat. Untung akhirnya dia bisa juga sampai dengan selamat di rumah Yeni.
Kemudian setelah shalat Isya dan taraweh bareng yang diimani oleh Nanda, kita pulang deh ke rumah masing-masing.
Teta yang ulang tahun bulan ini bawa beng-beng demikian juga dengan Merry dan Lia. Padahal waktu Lia ulang tahun, masih bulan puasa tapi tetap aja dia berela hati bawain beng-beng ... asyik ya...
Ada lagi yang diam-diam jadian, Mr A dan Miss T di Bio 1, dan topik pergosipin pun beralih ke pasangan baru ini.
Heran tinggal beberapa bulan lagi pisah eh malah pada "jadian" dan rupanya ini gak hanya terjadi di III Bio 1 saja tapi juga di kelas III yang lain. Seperti di BIO 2 yang baru jadian itu Mr D n Miss D. Wah anak-anak geger pas anak-anak tau kalau mereka "jadian". Kesempatan terakhir kali untuk mewujudkan impiannya. Ayo .... siapa lagi yang menyusul???
Semakin dekat ujian semakin banyak yang gak masuk karena sakit. Fini, Nelly, Edy, Ebeth dan masih banyak anak yang lain. Baik karena flu-flu biasa saja atau yang parah seperti Fini terkena gejala tipus atau Edy yang sempat dirawat di rumah sakit atau Ebeth yang kena cacar air. Ada-ada aja, udah mau ujian sih jadi pada stress dan gak mikirin kesehatan lagi kali.
Kelakuan anak-anak juga pada aneh-aneh deh. Yang cowok main perang-perangan lawan BIO 2. Ini sebenarnya sudah berlangsung lama, malah sejak masuk kelas III cuma makin lama permainannya makin parah saja. Sekarang gak cukup hanya menawan tapi udah mengarah ke hal yang berbahaya. Masa anak yang ditawan mau ditelanjangin. Memang sih cuma bercanda, cuma kalau beneran bisa-bisa ceweknya pada kabur dong.....
Yang lagi heppi bulan ini Sorta dan Poppy ... biasa deh kita berbeng-beng ria...
MARET 1991
Lucu juga kalau ngeliatin anak-anak yang maju ke depan memperagakan kemampuannya menghafal "proverbs" di hadapan bu Gultom. Ada yang ngetok-ngetok meja kaya Sinta (padahal mejanya gak salah apa-apa tuh). Ada yang kepalanya goyang-goyang kayak layangan putus seperti Iman dan Iwan. Ada yang matanya merem gak mau liat apa-apa kayak Fini. Ada yang tangannya gak bisa diam menghitung seperti Nelly, Diah dan Felis. Tapi ada juga yang tenang aja, kalem malah seperti Yeni, Popi atau Silva. Lagak mereka semua kalo difilim - in barangkali bisa menangin piala citra untuk film paling konyol sedunia kali ya ... ???
Ada seorang guru yang bikin aneh2 dan bikin anak-anak panik. Sejak bulan Januari Pak Bch ngadain les di sekolah setiap minggu pagi. Mulanya beliau dulu bilang gratis, jadi banyak anak yang ikut. Eh tiba-tiba beliau bilang, perlu uang buat beli kapur dan perlengkapan lainnya buat ngajar. Anak-anak masih maklum, jadi kita berela hati ngasih sumbangan. Eh... setelah sumbangan diserahkan, dia gak mau terima malah dikembalikan. Katanya kita gak menghargai dia dengan hanya memberikan sumbangan yang jumlahnya minim itu. Dia mau jumlah yang lebih besar lagi.
Bayangin bagaimana gondoknya anak-anak dengan beliau. Kalau misalnya dia minta dibayar mahal, kenapa gak bilang dari dulu, sehingga anak-anak akan memberikan uang sejumlah yang dia ingini. Sekarang setelah "uang sumbangang" diserahkan, beliau minta lebih! Kalau hanya soal uang yang tidak begitu besar itu nilai anak-anak jadi taruhannya, siapa yang gak gondok coba
Tapi akhirnya persoalan itu dapat diselesaikan, setelah anak-anak memberikan "sumbangan" sesuai dengan yang beliau ingini. tapi kasihan mereka-mereka yang lupa untuk membayar atau memang tidak punya uang untuk itu, mereka berkali-kali dipanggil pak Bch....
Tanggal 16 - 22 Maret kita libur awal puasa. Sebelum berlibur kita saling memaafkan dulu.
Beberapa minggu yang lalu, kelas kita berencana bikin jaket kelas. Tadinya kita mau bikin sweater cuma karena bahan dan bentuknya tidak sesuai dengan keinginan yang lain, akhirnya disepakati untuk membuat jaket saja yang lebih keren.
Tanggal 25 maret, tuh jaket sudah jadi. Wah keren banget deh. Lengannya berwarna putih, sedang dada dan punggungnya terbuat dari bahan kain berwarna hitam. Jaket yang bisa dibolak-balik itu bahan dalamnya terbuat dari kain tipis berwarna merah. Pokoknya keren deh ! Dan anak-anak Bio 2 langung iri.
Karena sedang bulan puasa, maka anak-anak mengadakan acara buka puasa bersama di rumah Yeni tanggal 30 maret 1991. Sayangnya waktu itu hujan turun lebat sekali sehingga hanya sekitar 30 anak ditambah sedikit anak bio 2 yang bisa datang. Padahal makanan berlimpah ruah, sate, bola-bola daging, gulai, es buah dan kue-kue. Wah pokoknya enak-enak semua deh.
Hari itu entah kenapa banyak yang ketiban sial. Hijet 1000-nya Nanda , ban depan kirinya masuk got di samping rumah Yeni. Mana waktu itu cowok yang lain belum pada datang lagi. Akhirnya dengan dibantu bapaknya Yeni dan Iwan yang datang tak lama kemudian, mobil bisa terangkat dari got.
Udah gitu, Aang yang sedang memberi aba-aba pada Beni yang sedang memundurkan mobil Pipin kakinya kejeblos got juga! Kasian banget sampai bengkak. Lain lagi si Yuli, dia berkali-kali menelpon Yeni menanyakan alamat serta letak rumahnya dan hampir tersesat. Untung akhirnya dia bisa juga sampai dengan selamat di rumah Yeni.
Kemudian setelah shalat Isya dan taraweh bareng yang diimani oleh Nanda, kita pulang deh ke rumah masing-masing.
Teta yang ulang tahun bulan ini bawa beng-beng demikian juga dengan Merry dan Lia. Padahal waktu Lia ulang tahun, masih bulan puasa tapi tetap aja dia berela hati bawain beng-beng ... asyik ya...
KALEIDOSKOP III BIO 1 (BAGIAN 4)
DESEMBER 1990
Ulangan umum bersama dijalani. Mana soalnya dari kelas I lagi. Yach hitung-hitung nyicil buat ebtanas. Gila ! Soal-soal prakiraan ulangan umum dari berbagai lembaga bimbingan tes itu mirip banget sama soal yang keluar! Jadinya anak-anak berebut foto kopi. Hehehe... bocor nich ye....
Kemudian habis ulangan umum, belajarnya gak efektif lagi. Habis gak semua guru ngajar sich! Jadinya dimanfaatin oleh anak-anak untuk main-main.
Terkadang kita meniru acara Kuis Keluarga Lifebuoy yang ada di RCTI. Wah seru deh. Regu cowok lawan regu cewek. Yang menang sih ceweknya, maklum mereka jago mencari kata-kata yang susah buat digambar sih! Regu cowok jadi terkadang suka gondok, sehingga keluarlah kata-kata yang aneh yang gambarnya aja susah. Dan kalau sudah kaya gitu giliran ceweknya yang gondok. Satu-satu deh !
Tanggal 22 Desember kita dibagiin raport. Juara kelasnya Maria, kemudian disusul Yeni dan Lia. Tiga cewek yang memang udah diperkirakan bakalan juara. Setelah itu kita libur seminggu.
Selain Yayuk yang bawa kue untuk ulang tahunnya, Aryo, Putu dan Marlina gak bawa apa-apa untuk ulang tahunnya.
JANUARI 1991
Pergantian aparat kelas. Aang digantiin Septi, cowok yang ngakunya mirip Mac Gyver itu. Padahal mirip ama kakinya aja gak. Ngaku-ngaku mirip ama dia lagi ! Masalahnya dia itu sirik gak dimiripin sama siapa-siapa.... hehehe.... Sedang Iman digantiin sama Beni. Bendahara dan Sekretaris dipegang oleh Tenny dan Iwan. Bisa bayangin nggak si Iwan yang tulisannya susah kebaca itu jadi sekretaris. Anak-anak langsung protes waktu dia nulis di papan tulis. Makanya dia langsung trauma, jadi nyuruh anak lain untuk nulis di papan tulis.
Ada kejutan yang menggemparkan di awal tahun ini. Mr T, cowok yang ngakunya pendiam itu "jadi" ama Miss E, cewek Bio 2 yang manis itu. Wah langsung gosip minggu ini topiknya T n E terus. Bio 1 dan Bio 2 jadi besanan deh.
Sementara itu cowok lain yang belum bisa juga mewujudkan impiannya dengan cewek pujaan masing-masing langsung bertekad meniru jejak langkah Mr T. Ada aja ..... !
Pernah waktu pelajaran bahasa Inggris, ada peribahasa yang bunyinya gini "Still waters run deep" dan ilustrasinya mengenai T yang pendiam tapi akhirnya dia orang pertama diantara teman-temannya yang dapat tunanngan lebih dulu. Jadi waktu bu Gultom tanya... "Is that true ...?" .... anak-anak dengan kompaknya menjawab ... "YES .... !" sambil menengok ke arah Mr. T.
Witri, satu-satunya yang ulang tahun bulan ini mentraktir beberapa anak dan sewaktu makan-makan itu apalagi pokok pembicaraannnya selain T n E. Wah pasangan itu tenar banget deh bulan ini. Mana mereka mentraktir anak-anak lagi dalam rangka "jadinya" itu.
Ulangan umum bersama dijalani. Mana soalnya dari kelas I lagi. Yach hitung-hitung nyicil buat ebtanas. Gila ! Soal-soal prakiraan ulangan umum dari berbagai lembaga bimbingan tes itu mirip banget sama soal yang keluar! Jadinya anak-anak berebut foto kopi. Hehehe... bocor nich ye....
Kemudian habis ulangan umum, belajarnya gak efektif lagi. Habis gak semua guru ngajar sich! Jadinya dimanfaatin oleh anak-anak untuk main-main.
Terkadang kita meniru acara Kuis Keluarga Lifebuoy yang ada di RCTI. Wah seru deh. Regu cowok lawan regu cewek. Yang menang sih ceweknya, maklum mereka jago mencari kata-kata yang susah buat digambar sih! Regu cowok jadi terkadang suka gondok, sehingga keluarlah kata-kata yang aneh yang gambarnya aja susah. Dan kalau sudah kaya gitu giliran ceweknya yang gondok. Satu-satu deh !
Tanggal 22 Desember kita dibagiin raport. Juara kelasnya Maria, kemudian disusul Yeni dan Lia. Tiga cewek yang memang udah diperkirakan bakalan juara. Setelah itu kita libur seminggu.
Selain Yayuk yang bawa kue untuk ulang tahunnya, Aryo, Putu dan Marlina gak bawa apa-apa untuk ulang tahunnya.
JANUARI 1991
Pergantian aparat kelas. Aang digantiin Septi, cowok yang ngakunya mirip Mac Gyver itu. Padahal mirip ama kakinya aja gak. Ngaku-ngaku mirip ama dia lagi ! Masalahnya dia itu sirik gak dimiripin sama siapa-siapa.... hehehe.... Sedang Iman digantiin sama Beni. Bendahara dan Sekretaris dipegang oleh Tenny dan Iwan. Bisa bayangin nggak si Iwan yang tulisannya susah kebaca itu jadi sekretaris. Anak-anak langsung protes waktu dia nulis di papan tulis. Makanya dia langsung trauma, jadi nyuruh anak lain untuk nulis di papan tulis.
Ada kejutan yang menggemparkan di awal tahun ini. Mr T, cowok yang ngakunya pendiam itu "jadi" ama Miss E, cewek Bio 2 yang manis itu. Wah langsung gosip minggu ini topiknya T n E terus. Bio 1 dan Bio 2 jadi besanan deh.
Sementara itu cowok lain yang belum bisa juga mewujudkan impiannya dengan cewek pujaan masing-masing langsung bertekad meniru jejak langkah Mr T. Ada aja ..... !
Pernah waktu pelajaran bahasa Inggris, ada peribahasa yang bunyinya gini "Still waters run deep" dan ilustrasinya mengenai T yang pendiam tapi akhirnya dia orang pertama diantara teman-temannya yang dapat tunanngan lebih dulu. Jadi waktu bu Gultom tanya... "Is that true ...?" .... anak-anak dengan kompaknya menjawab ... "YES .... !" sambil menengok ke arah Mr. T.
Witri, satu-satunya yang ulang tahun bulan ini mentraktir beberapa anak dan sewaktu makan-makan itu apalagi pokok pembicaraannnya selain T n E. Wah pasangan itu tenar banget deh bulan ini. Mana mereka mentraktir anak-anak lagi dalam rangka "jadinya" itu.
KALEIDOSKOP III BIO1 (BAGIAN 3)
OKTOBER 1990
Bulan Oktober ini kita dapat raport bayangan, yang nilainya bagus sih tenang-tenang aja, cuman yang jelek nach pada deg deg kan deh....
Ada kejadian yang ngeselin banget. Tanggal 20 Oktober kita ulangan Biologi. Anak dengan nomor urut 1-24 kebagian ulangan yang kedua. Sewaktu mereka mau masuk, semuanya bergerombol di depan pintu menunggu anak yang nomor urutnya 25-47 keluar. Rupanya entah siapa ada yang bicara dengan anak yang baru keluar itu. Bu Win melihat dan beliau menyangka mereka berbicara mengenai soal yang baru diujikan. Beliau marah-marah dan menyuruh anak itu untuk mengaku, tapi tidak ada satupun anak yang mengaku berbicara dengan rombongan yang baru keluar. Kemudian beliau memberikan hukuman bagi kita dengan memberikan soal essay 5 buah! Padahal rombongan sebelumnya mendapat pilihan berganda. Mana waktu tinggal lima menit sewaktu dia membacakan soal.
Kita hanya diberi kesempatan mengerjakan soal selama 10 menit dan langsung kertas ulangan dikumpulkan ! Bagaimana bisa semua soal selesai dalam waktu sesingkat itu. Mana ada yang disuruh gambar lagi. Menggambar proses sintesis protein kan lama. Wah pokoknya semua anak merasa diperlakukan tidak adil oleh bu Win. Mulai saat itu banyak yang gak suka dengan beliau, karena dia selalu keras pada kita. Apalagi kalau beliau sedang mengajukan pertanyaan atau membuat kesimpulan percobaan di papan tulis. Beliau mau apa yang diinginkannya itu yang dijawab atau ditulis oleh anak-anak. Mungkin memang tujuannya baik tapi caranya itu yang terkadang membuat kita semua kesal.
Bulan Oktober sepi, karena gak ada yang ulang tahun.
NOVEMBER 1990
Sejak akhir Oktober kita mendapat tugas menanam dan merawat berbagai bibit tanaman untuk penghijauan sebagai tugas kelompok. Jadi setiap pagi lahan kosong di sebelah kelas menjadi ramai oleh anak-anak yang menyiram dan mencatat perkembangan tanamannya.
Ada kelompok yang tanamannya tumbuh subur, ada juga yang gagal total karena bibit yang ditanam tidak menampakkan tanda-tanda akan tumbuh. Kelompok yang gagal terpaksa mengulang dari awal dengan mengganti bibit yang ditanam dengan tanaman lain.
Percobaan-percobaan Biologi juga semakin bertambah banyak. Setelah percobaan dengan kancing-kancing gen, maka mulailah percobaan di luar mengenai penyebaran makhluk hidup dengan memakai kuadran yang dilempar pada sebidang rumput. Kemudian dilihat jenis makhluk hidup apa saja yang hidup disitu.
Selain itu kita juga mendapat tugas mengenai "Bibit Unggul" . Wah sibuknya anak-anak pergi kesana kemari mencari data. Tapi akhirnya tugas itu dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Fidia, Tenny, Edy, Iis dan Diah giliran ulang tahun bulan ini. Si Edy ngundangin anak cowok ke rumahnya sedang ceweknya gak ada satu pun. Curang ya .... ! Apa enaknya pesta tanpa cewek ... de... sirik .... !
Bulan Oktober ini kita dapat raport bayangan, yang nilainya bagus sih tenang-tenang aja, cuman yang jelek nach pada deg deg kan deh....
Ada kejadian yang ngeselin banget. Tanggal 20 Oktober kita ulangan Biologi. Anak dengan nomor urut 1-24 kebagian ulangan yang kedua. Sewaktu mereka mau masuk, semuanya bergerombol di depan pintu menunggu anak yang nomor urutnya 25-47 keluar. Rupanya entah siapa ada yang bicara dengan anak yang baru keluar itu. Bu Win melihat dan beliau menyangka mereka berbicara mengenai soal yang baru diujikan. Beliau marah-marah dan menyuruh anak itu untuk mengaku, tapi tidak ada satupun anak yang mengaku berbicara dengan rombongan yang baru keluar. Kemudian beliau memberikan hukuman bagi kita dengan memberikan soal essay 5 buah! Padahal rombongan sebelumnya mendapat pilihan berganda. Mana waktu tinggal lima menit sewaktu dia membacakan soal.
Kita hanya diberi kesempatan mengerjakan soal selama 10 menit dan langsung kertas ulangan dikumpulkan ! Bagaimana bisa semua soal selesai dalam waktu sesingkat itu. Mana ada yang disuruh gambar lagi. Menggambar proses sintesis protein kan lama. Wah pokoknya semua anak merasa diperlakukan tidak adil oleh bu Win. Mulai saat itu banyak yang gak suka dengan beliau, karena dia selalu keras pada kita. Apalagi kalau beliau sedang mengajukan pertanyaan atau membuat kesimpulan percobaan di papan tulis. Beliau mau apa yang diinginkannya itu yang dijawab atau ditulis oleh anak-anak. Mungkin memang tujuannya baik tapi caranya itu yang terkadang membuat kita semua kesal.
Bulan Oktober sepi, karena gak ada yang ulang tahun.
NOVEMBER 1990
Sejak akhir Oktober kita mendapat tugas menanam dan merawat berbagai bibit tanaman untuk penghijauan sebagai tugas kelompok. Jadi setiap pagi lahan kosong di sebelah kelas menjadi ramai oleh anak-anak yang menyiram dan mencatat perkembangan tanamannya.
Ada kelompok yang tanamannya tumbuh subur, ada juga yang gagal total karena bibit yang ditanam tidak menampakkan tanda-tanda akan tumbuh. Kelompok yang gagal terpaksa mengulang dari awal dengan mengganti bibit yang ditanam dengan tanaman lain.
Percobaan-percobaan Biologi juga semakin bertambah banyak. Setelah percobaan dengan kancing-kancing gen, maka mulailah percobaan di luar mengenai penyebaran makhluk hidup dengan memakai kuadran yang dilempar pada sebidang rumput. Kemudian dilihat jenis makhluk hidup apa saja yang hidup disitu.
Selain itu kita juga mendapat tugas mengenai "Bibit Unggul" . Wah sibuknya anak-anak pergi kesana kemari mencari data. Tapi akhirnya tugas itu dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Fidia, Tenny, Edy, Iis dan Diah giliran ulang tahun bulan ini. Si Edy ngundangin anak cowok ke rumahnya sedang ceweknya gak ada satu pun. Curang ya .... ! Apa enaknya pesta tanpa cewek ... de... sirik .... !
KALEIDOSKOP III BIO 1 (BAGIAN 2)
AGUSTUS 1990
Tanggal 3 Agustus kita dapat ulangan pertama, yaitu ulangan If Conditional dan Kimia Redoks! Gak khusuk sih, perasaan baru liburan, eh sekarang otak udah diasalah lagi buat ulangan.
Kemudian tanggal 18 Agustus kelas kita pertama kali kena marah sama guru, yaitu pak Bachtiar. Masalahnya jadwal pelajaran diganti dan rupanya dia belum tahu. Jadi sewaktu dia masuk, anak-anak memberitahu dia bahwa sekarang bukan jam pelajarannya dia. Akibatnya dia ngamuk-ngamuk ke kita. Dibilangnya kita gak sopanlah karena ngusir guru yang sudah masuk ke kelas. Aduh.... anak-anak gak ada yang berani ngelawan sebab pasti dia tambah marah. Padahal itu kan bukan salah kita kalau dia belum tahu bahwa jadwal pelajaran sudah diganti.
Kemudian mulailah kita dapat tugas macem-macem. Tugas Geografi misalnya yang mewajibkan anak-anak secara berkelompok membuat karya tulis mengenai berbagai negara di dunia dan tugas-tugas lainnya.
Ulangan Biologi yang pertama diadakan tanggal 25 Agustus, pilihan berganda. Mungkin karena ini ulangan pertama maka banyak anak yang mendapat nilai jelek... biasalah....
Yang berbahagia bulan ini Pipin, Rosa, Nina, Silva, Tiwi, Primi dan Maria. Si Maria mentang-mentang ulang tahunnya jatuh pada hari minggu, sombong dia, karena tidak perlu membawa beng-beng buat kita-kita. Padahal itu kan wajib lho ... hehehe....
SEPTEMBER 1990
Nggak tahu kenapa, anak-anak sudah pada mulai stres. Tampangnya pada kuyu semua. Apa karena ulangan sudah semakin banyak dan susah-susah, gak tahu deh?
Cara ngilangin stres itu juga macem-macem. Ada yang jadi suka nyanyi keras-keras kaya Yuli. Nich anak gak malu-malunya nyanyi keras-keras di kala kelas lagi sepi. Pertama-tama sih suka ngagetin, tapi lama-lama jadi biasa dengar suara dia. Kata yang lain anggap aja radio kelas... ada-ada aja...
Lain lagi dengan cowok-cowok. Waktu itu David Copperfield lagi tenar, jadi mereka pun ikut-ikutan ngadain pertunjukan sulap kecil-kecilan di kelas. Katanya sih dalam rangka amal untuk menyumbang korban patah hati (Lho!) Terkadang Iman atau Iwan yang jadi pesulapnya, terus dia nyulap kertas atau apa gitu biar ngilang. Wah tampangnya udah profesional banget deh, cuma teknik nyulapnya aja yang belum semulus David Copperfield. Suatu hari malah Iman berniat nyulap Aryo biar ngilang. Nach lu, gimana cara nyembunyiinnya tuh !? Tapi akhirnya niat jelek itu tidak terlaksana, masalahnya Aryo udah protes berat waktu tahu mau diilangin !
Tanggal 24-25 September kita gak belajar, karena 12 ulang tahun yang ke 26. Ih sudah tua banget ya sekolah kita ini. Tanggal 24 September ada bazaar. Kelas kita jualan makanan kecil yang dibikin sendiri, seperti misalnya donat, risol, asinan dan lain-lain. Si Yayuk juga ikutan jual pengikat rambut. Semuanya laku keras, habis yang beli kita-kita juga sih !
Tanggal 25 nya kita pesta kelas. Wah asyik banget tuh ! Kita yang nggak tahu kalau bakalan ada arak-arakan tumpeng lagi, dengan mendadak nyiapin untuk arak-arakan itu. Untung ada yang bawa lagu dangdut entah judulnya apa, lupa sih! Jadi dengan nekatnya Fini, Pipin, Yayuk, Lia, Tenny, Juli dengan dipandu oleh Iis bergoyang dengan asyiknya di depan para juri.
Kemudian sambil menunggu kelas lain usai mengarak tumpengnya, kita adain joget bareng sama anak kelas I dengan Fini jadi pelopornya. Wah lucu banget ! Anak kelas I itu pada malu-malu diajak turun, jadi akhirnya ya kita-kita yang merajai arena.
Sehabis itu acara makan-makan deh. Ih mendadak semuanya jadi rakus, sebab lapar sih habis ketawa-tawa dan berjoget ria. Sebelum makan bu Win berkenan meniup lilin dan memotong kue ulang tahun barengan sama bu Suliyati. Setelah itu makanan yang ada di atas meja habis diserbu anak-anak.
Setelah foto bersama, pesta pun usai dan tahun depan kita nggak bakal menikmatinya lagi. Pesta ulang tahun sekolah terakhir buat kita.
Si Iman dan juga Septi yang ulang tahun bulan ini GR banget waktu disalamin anak-anak. Maklum aja mereka jarang-jarang tuh disalamin ama cewek-cewek kece sebanyak itu.
Tanggal 3 Agustus kita dapat ulangan pertama, yaitu ulangan If Conditional dan Kimia Redoks! Gak khusuk sih, perasaan baru liburan, eh sekarang otak udah diasalah lagi buat ulangan.
Kemudian tanggal 18 Agustus kelas kita pertama kali kena marah sama guru, yaitu pak Bachtiar. Masalahnya jadwal pelajaran diganti dan rupanya dia belum tahu. Jadi sewaktu dia masuk, anak-anak memberitahu dia bahwa sekarang bukan jam pelajarannya dia. Akibatnya dia ngamuk-ngamuk ke kita. Dibilangnya kita gak sopanlah karena ngusir guru yang sudah masuk ke kelas. Aduh.... anak-anak gak ada yang berani ngelawan sebab pasti dia tambah marah. Padahal itu kan bukan salah kita kalau dia belum tahu bahwa jadwal pelajaran sudah diganti.
Kemudian mulailah kita dapat tugas macem-macem. Tugas Geografi misalnya yang mewajibkan anak-anak secara berkelompok membuat karya tulis mengenai berbagai negara di dunia dan tugas-tugas lainnya.
Ulangan Biologi yang pertama diadakan tanggal 25 Agustus, pilihan berganda. Mungkin karena ini ulangan pertama maka banyak anak yang mendapat nilai jelek... biasalah....
Yang berbahagia bulan ini Pipin, Rosa, Nina, Silva, Tiwi, Primi dan Maria. Si Maria mentang-mentang ulang tahunnya jatuh pada hari minggu, sombong dia, karena tidak perlu membawa beng-beng buat kita-kita. Padahal itu kan wajib lho ... hehehe....
SEPTEMBER 1990
Nggak tahu kenapa, anak-anak sudah pada mulai stres. Tampangnya pada kuyu semua. Apa karena ulangan sudah semakin banyak dan susah-susah, gak tahu deh?
Cara ngilangin stres itu juga macem-macem. Ada yang jadi suka nyanyi keras-keras kaya Yuli. Nich anak gak malu-malunya nyanyi keras-keras di kala kelas lagi sepi. Pertama-tama sih suka ngagetin, tapi lama-lama jadi biasa dengar suara dia. Kata yang lain anggap aja radio kelas... ada-ada aja...
Lain lagi dengan cowok-cowok. Waktu itu David Copperfield lagi tenar, jadi mereka pun ikut-ikutan ngadain pertunjukan sulap kecil-kecilan di kelas. Katanya sih dalam rangka amal untuk menyumbang korban patah hati (Lho!) Terkadang Iman atau Iwan yang jadi pesulapnya, terus dia nyulap kertas atau apa gitu biar ngilang. Wah tampangnya udah profesional banget deh, cuma teknik nyulapnya aja yang belum semulus David Copperfield. Suatu hari malah Iman berniat nyulap Aryo biar ngilang. Nach lu, gimana cara nyembunyiinnya tuh !? Tapi akhirnya niat jelek itu tidak terlaksana, masalahnya Aryo udah protes berat waktu tahu mau diilangin !
Tanggal 24-25 September kita gak belajar, karena 12 ulang tahun yang ke 26. Ih sudah tua banget ya sekolah kita ini. Tanggal 24 September ada bazaar. Kelas kita jualan makanan kecil yang dibikin sendiri, seperti misalnya donat, risol, asinan dan lain-lain. Si Yayuk juga ikutan jual pengikat rambut. Semuanya laku keras, habis yang beli kita-kita juga sih !
Tanggal 25 nya kita pesta kelas. Wah asyik banget tuh ! Kita yang nggak tahu kalau bakalan ada arak-arakan tumpeng lagi, dengan mendadak nyiapin untuk arak-arakan itu. Untung ada yang bawa lagu dangdut entah judulnya apa, lupa sih! Jadi dengan nekatnya Fini, Pipin, Yayuk, Lia, Tenny, Juli dengan dipandu oleh Iis bergoyang dengan asyiknya di depan para juri.
Kemudian sambil menunggu kelas lain usai mengarak tumpengnya, kita adain joget bareng sama anak kelas I dengan Fini jadi pelopornya. Wah lucu banget ! Anak kelas I itu pada malu-malu diajak turun, jadi akhirnya ya kita-kita yang merajai arena.
Sehabis itu acara makan-makan deh. Ih mendadak semuanya jadi rakus, sebab lapar sih habis ketawa-tawa dan berjoget ria. Sebelum makan bu Win berkenan meniup lilin dan memotong kue ulang tahun barengan sama bu Suliyati. Setelah itu makanan yang ada di atas meja habis diserbu anak-anak.
Setelah foto bersama, pesta pun usai dan tahun depan kita nggak bakal menikmatinya lagi. Pesta ulang tahun sekolah terakhir buat kita.
Si Iman dan juga Septi yang ulang tahun bulan ini GR banget waktu disalamin anak-anak. Maklum aja mereka jarang-jarang tuh disalamin ama cewek-cewek kece sebanyak itu.
Rabu, 16 September 2015
OPSPEK - SEBUAH KENANGAN (PART 2)
Bunyi jam weker diabaikan oleh Nina. Rasanya baru sekejap dia memejamkan mata. Lima menit lagi, gumamnya dalam hati dan kembali memeluk guling. Lima menit ternyata menjadi setengah jam. Dengan panik Nina segera masuk ke kamar mandi. Rambut ikalnya harus dikuncir dan itu membutuhkan waktu lama. Pagi ini sang rambut tidak mau diajak bekerja sama, hasil kuncirannya tidak karuan. Masa bodohlah, pikir Nina, dia tidak berniat tampil cantik di hadapan para Raka itu.
Untunglah saat Nina tiba di kampus, barisan masih belum rapi. Pukul 6 pagi waktu KH tidak jelas tepatnya pukul berapa. Semaunya para Raka menetapkan kapan saatnya pukul 6 itu. Diingatnya hari pertama opspek Fakultas, pukul 6 waktu KH ternyata adalah pukul 5.30! Banyak temannya yang dihukum karena dianggap terlambat datang.
Pagi ini para Raka agak baik hati, hukuman yang diberikan cenderung lunak. Nina banyak tertawa pagi itu. Ah kenapa tidak dari kemarin mengalami opspek yang menyenangkan seperti ini? Hari ini peserta dibagi dalam kelompok-kelompok dan diberi berbagai macam tugas.
Dalam kelompok Nina terdapat Ana. Nina senang, setidaknya ada yang dia kenal. Seorang lelaki berwajah bayi mengambil peran sebagai pembagi tugas. Nina menuruti saja apa kata lelaki itu. Salah satu tugas mereka adalah meminta tanda tangan dosen dan kakak kelas. Segera mereka menghambur ke dalam kampus.
Kampus FKH yang terletak di Sekip ini terlihat nyaman untuk belajar. Berlantai 2 dengan bukaan jendela yang besar-besar. Sepertinya tidak diperlukan pendingin udara di dalamnya. Kipas angin besar terletak di posisi yang strategis di setiap ruangan. Di bagian bawah terdapat ruang dekan dan staf administrasi. Juga ada beberapa laboratorium di sisi kanan dan kirinya. Nina belum tahu laboratorium apa saja yang terdapat di lantai bawah.
Di tengah-tengah gedung, terdapat lapangan kecil yang digunakan untuk bermain bulutangkis. Di depannya terdapat perpustakaan yang isinya lumayan lengkap. Buku-buku tebal dan tampak tua seperti menantang untuk dibaca. Kantin ada di ujung, hanya kecil saja tampaknya. Kamar mandi terletak di ujung kanan dan kiri. Kamar mandi model lama yang setiap biliknya besar-besar. Kabarnya bangunan ini dibangun di tahun 60an, dimasa presiden Soekarno. Di bawah tangga belakang kanan dan kiri disekat menjadi ruangan kecil. Masing-masing ruangan BEM dan mushola.
Terdapat beberapa ruangan kelas di lantai 2, mulai dari ruangan yang hanya cukup untuk 5-10 orang hingga ruangan besar yang cukup untuk 100 orang lebih. Terdapat juga beberapa laboratorium di sudut-sudutnya. Yang disukai Nina dari gedung ini adalah tangga utamanya. Nina membayangkan memiliki foto disana bersama teman-teman kelasnya nanti.
Setelah berburu tanda tangan, mereka mengikuti berbagai macam permainan yang dipandu oleh para Raka. Sekali lagi lelaki berwajah bayi yang belakangan diketahui bernama Anto itu mengambil alih pimpinan kelompok. Dalam kelompok Nina juga terdapat Hans, lelaki bertubuh tinggi yang bersamanya mendaftar ulang. Selain itu juga ada Wina, perempuan tomboy yang saat daftar ulang ada di belakangnya.
Nina melirik jam tangannya, sebentar lagi pukul 14. Menurut jadwal, acara penutupan sebentar lagi dimulai. Mereka digiring masuk ke ruangan kelas besar di lantai 2. Nina merasa kepanasan, jaket almamater berwarna tidak jelas itu (entah abu-abu atau hijau keabuan) tidak nyaman dipakai di dalam ruangan. Deru kipas angin di atas kepalanya sedikit mengurangi hawa panas. Acara penutupan pun dimulai
Akhirnya opspek benar-benar usai. Mereka bernyanyi bersama, tidak ada lagi para Raka yang sanger. Dilihatnya di ujung, lelaki berkumis rapi itu. Nina penasaran ingin tahu namanya. Mereka belum sempat berkenalan. Anto mendekati Nina dan Ana, mengajak mereka untuk berfoto bersama Raka. Tetiba tidak ada lagi batasan antara peserta dan para Raka. Semua tertawa dan berfoto bersama.


Kelelahan fisik dan mental beberapa hari belakangan langsung lenyap. Dia berlari kesana kemari mengikuti kamera berada. Terlupakan kekesalan karena tugas-tugas yang absurd dan tak masuk akal. Dipikir-pikir lagi masa kuliah nanti akan berbeda dengan masa SMA. Nina yakin dia akan menjalani saat dimana kurang tidur dan tugas bertumpuk adalah makanan sehari-hari. Apa yang sudah dilakukan beberapa hari belakangan masih belum apa-apa.
Nina bertekad akan satu hal... Empat tahun lebih disini dia harus banyak bersenang-senang dan berteman. Having fun and making friends. Dilihatnya Ana dan Anto. Mereka berdua akan banyak mewarnai hari-harinya nanti.
Dedicated to all songosijier.
Silver year reunion is coming up ... Miss you all
Untunglah saat Nina tiba di kampus, barisan masih belum rapi. Pukul 6 pagi waktu KH tidak jelas tepatnya pukul berapa. Semaunya para Raka menetapkan kapan saatnya pukul 6 itu. Diingatnya hari pertama opspek Fakultas, pukul 6 waktu KH ternyata adalah pukul 5.30! Banyak temannya yang dihukum karena dianggap terlambat datang.
Pagi ini para Raka agak baik hati, hukuman yang diberikan cenderung lunak. Nina banyak tertawa pagi itu. Ah kenapa tidak dari kemarin mengalami opspek yang menyenangkan seperti ini? Hari ini peserta dibagi dalam kelompok-kelompok dan diberi berbagai macam tugas.
Dalam kelompok Nina terdapat Ana. Nina senang, setidaknya ada yang dia kenal. Seorang lelaki berwajah bayi mengambil peran sebagai pembagi tugas. Nina menuruti saja apa kata lelaki itu. Salah satu tugas mereka adalah meminta tanda tangan dosen dan kakak kelas. Segera mereka menghambur ke dalam kampus.
Kampus FKH yang terletak di Sekip ini terlihat nyaman untuk belajar. Berlantai 2 dengan bukaan jendela yang besar-besar. Sepertinya tidak diperlukan pendingin udara di dalamnya. Kipas angin besar terletak di posisi yang strategis di setiap ruangan. Di bagian bawah terdapat ruang dekan dan staf administrasi. Juga ada beberapa laboratorium di sisi kanan dan kirinya. Nina belum tahu laboratorium apa saja yang terdapat di lantai bawah.
Di tengah-tengah gedung, terdapat lapangan kecil yang digunakan untuk bermain bulutangkis. Di depannya terdapat perpustakaan yang isinya lumayan lengkap. Buku-buku tebal dan tampak tua seperti menantang untuk dibaca. Kantin ada di ujung, hanya kecil saja tampaknya. Kamar mandi terletak di ujung kanan dan kiri. Kamar mandi model lama yang setiap biliknya besar-besar. Kabarnya bangunan ini dibangun di tahun 60an, dimasa presiden Soekarno. Di bawah tangga belakang kanan dan kiri disekat menjadi ruangan kecil. Masing-masing ruangan BEM dan mushola.
Terdapat beberapa ruangan kelas di lantai 2, mulai dari ruangan yang hanya cukup untuk 5-10 orang hingga ruangan besar yang cukup untuk 100 orang lebih. Terdapat juga beberapa laboratorium di sudut-sudutnya. Yang disukai Nina dari gedung ini adalah tangga utamanya. Nina membayangkan memiliki foto disana bersama teman-teman kelasnya nanti.
Setelah berburu tanda tangan, mereka mengikuti berbagai macam permainan yang dipandu oleh para Raka. Sekali lagi lelaki berwajah bayi yang belakangan diketahui bernama Anto itu mengambil alih pimpinan kelompok. Dalam kelompok Nina juga terdapat Hans, lelaki bertubuh tinggi yang bersamanya mendaftar ulang. Selain itu juga ada Wina, perempuan tomboy yang saat daftar ulang ada di belakangnya.
Nina melirik jam tangannya, sebentar lagi pukul 14. Menurut jadwal, acara penutupan sebentar lagi dimulai. Mereka digiring masuk ke ruangan kelas besar di lantai 2. Nina merasa kepanasan, jaket almamater berwarna tidak jelas itu (entah abu-abu atau hijau keabuan) tidak nyaman dipakai di dalam ruangan. Deru kipas angin di atas kepalanya sedikit mengurangi hawa panas. Acara penutupan pun dimulai
Akhirnya opspek benar-benar usai. Mereka bernyanyi bersama, tidak ada lagi para Raka yang sanger. Dilihatnya di ujung, lelaki berkumis rapi itu. Nina penasaran ingin tahu namanya. Mereka belum sempat berkenalan. Anto mendekati Nina dan Ana, mengajak mereka untuk berfoto bersama Raka. Tetiba tidak ada lagi batasan antara peserta dan para Raka. Semua tertawa dan berfoto bersama.


Kelelahan fisik dan mental beberapa hari belakangan langsung lenyap. Dia berlari kesana kemari mengikuti kamera berada. Terlupakan kekesalan karena tugas-tugas yang absurd dan tak masuk akal. Dipikir-pikir lagi masa kuliah nanti akan berbeda dengan masa SMA. Nina yakin dia akan menjalani saat dimana kurang tidur dan tugas bertumpuk adalah makanan sehari-hari. Apa yang sudah dilakukan beberapa hari belakangan masih belum apa-apa.
Nina bertekad akan satu hal... Empat tahun lebih disini dia harus banyak bersenang-senang dan berteman. Having fun and making friends. Dilihatnya Ana dan Anto. Mereka berdua akan banyak mewarnai hari-harinya nanti.
Dedicated to all songosijier.
Silver year reunion is coming up ... Miss you all
Labels:
#aboutme,
#memoar,
#songosiji
Selasa, 15 September 2015
PERFUME
Pagi ini sebelum suami berangkat ke kantor, saya mencium wangi yang tidak biasa.
"Papa pakai minyak wangi baru ya?"
Suamiku tertawa, "Hahaha ... bukan ini leher Papa seperti kejetit. Tadi minta tolong Reihan ngolesin Salonpas Gel"
Aku pun ikut tertawa. Bau Salonpas Gel kukira bau perfume baru. Suami saya adalah penggemar minyak wangi alias perfume nomor satu. Hanya keluar sebentar saja, dia kurang percaya diri kalau tidak menggunakan perfume. Sementara saya kurang suka menggunakannya. Pernah diberi hadiah perfume oleh suami dari luar negeri, hingga sekarang isi di dalam botol hanya berkurang sedikit.
Ada seorang teman perempuan penggemar berat perfume, sebut saja namanya S. S terutama sangat menggemari bau perfume di tubuh seseorang. Dia selalu suka bila ada teman laki-laki duduk dekat kami dan bau perfume yang menguar dari tubuhnya harum semerbak. Sementara saya tidak suka lelaki yang terlalu wangi. Saya lebih suka bau harum sabun mandi di tubuh lelaki daripada bau perfume.
Suatu hari kami berboncengan motor berdua, S di depan. Kami berhenti di sebuah lampu merah di perempatan yang ramai. Di sebelah kami berhenti seorang lelaki. Saat lampu merah berganti hijau, lelaki itu berbelok ke kanan. Kami sedianya lurus, tetapi S membelokkan setang motor ke kanan mengikuti lelaki tadi.
"Woiiii ..." seruku kaget, "Kita kan mau lurus, kenapa belok kanan?"
"Gila may, cowok itu enak banget baunya. Gak nyadar aku ngikutin dia. Bentar kita belok di depan ya," kata S sambil tertawa-tawa.
Hadeeeuhhh ... akibatnya kami pun agak terlambat datang ke tempat tujuan kami.
Kejadian S tiba-tiba berbelok mengikuti lelaki yang berbau wangi tidak hanya sekali itu. Dia seperti dicucuk hidungnya bila ada lelaki semacam itu. Sayalah yang biasanya menyadarkannya.
Ada seorang teman lelaki yang cukup dekat dengan kami berdua, sebut namanya H. Bila H datang pagi hari, S selalu mendekatinya. Menurut S, bau perfume H enak. Sedang saya tidak terlalu suka dengan wanginya. Saya malah mendekat ke H bila hari telah siang. Bau badan H dengan wangi perfume yang sudah tersamar keringat lebih nyaman di hidung saya.
Suatu saat kami koas bersama dan harus tinggal di pemondokan yang sama pula. H pun akhirnya mengetahui kebiasaan kami, sehingga di pagi hari dia mendekati S, sedang bila siang telah menjelang dia baru mendekati saya. Hahaha...
Hingga sekarang saya belum menemukan perfume yang saya rasa cocok dengan bau tubuh saya. Sehingga saya hanya menggunakan bedak bayi di sekujur tubuh atau pelembab di tangan dan kaki. Ternyata suami sangat menyukai kebiasaan saya ini. Bau saya khas katanya, bikin kangen. Sayangnya saya belum berhasil meminta dia untuk mengurangi kebiasaannya menggunakan perfume secara berlebihan. Menurut saya, bau sabun mandi di badannya lebih enak di hidung saya daripada bau perfume yang dia gunakan di sekujur tubuhnya.
Seorang teman seumuran saya baru-baru ini hamil. Kehamilannya agak sulit, karena dia terus menerus merasa tidak enak badan dan mual ingin muntah. Akibatnya kemana pun dia pergi, dia selalu membawa minyak kayu putih. Sebentar-sebentar dioleskannya minyak kayu putih itu ke leher dan beberapa bagian tubuhnya.
Suatu hari, kami menghadap dosen untuk keperluan konsultasi disertasi. Dosen saya tiba-tiba mengkerutkan hidungnya dan bersuara lantang...
'Ini siapa yang baunya seperti nenek-nenek di terminal?"
Hahahaha ... kami para mahasiswanya pun tertawa terbahak-bahak karenanya. Sedang teman saya yang hamil itu hanya bisa tersenyum kecut.
This note is dedicated to SS dan WH
plus my beloved dear Blues
and the pregnant woman RSD
"Papa pakai minyak wangi baru ya?"
Suamiku tertawa, "Hahaha ... bukan ini leher Papa seperti kejetit. Tadi minta tolong Reihan ngolesin Salonpas Gel"
Aku pun ikut tertawa. Bau Salonpas Gel kukira bau perfume baru. Suami saya adalah penggemar minyak wangi alias perfume nomor satu. Hanya keluar sebentar saja, dia kurang percaya diri kalau tidak menggunakan perfume. Sementara saya kurang suka menggunakannya. Pernah diberi hadiah perfume oleh suami dari luar negeri, hingga sekarang isi di dalam botol hanya berkurang sedikit.
Ada seorang teman perempuan penggemar berat perfume, sebut saja namanya S. S terutama sangat menggemari bau perfume di tubuh seseorang. Dia selalu suka bila ada teman laki-laki duduk dekat kami dan bau perfume yang menguar dari tubuhnya harum semerbak. Sementara saya tidak suka lelaki yang terlalu wangi. Saya lebih suka bau harum sabun mandi di tubuh lelaki daripada bau perfume.
Suatu hari kami berboncengan motor berdua, S di depan. Kami berhenti di sebuah lampu merah di perempatan yang ramai. Di sebelah kami berhenti seorang lelaki. Saat lampu merah berganti hijau, lelaki itu berbelok ke kanan. Kami sedianya lurus, tetapi S membelokkan setang motor ke kanan mengikuti lelaki tadi.
"Woiiii ..." seruku kaget, "Kita kan mau lurus, kenapa belok kanan?"
"Gila may, cowok itu enak banget baunya. Gak nyadar aku ngikutin dia. Bentar kita belok di depan ya," kata S sambil tertawa-tawa.
Hadeeeuhhh ... akibatnya kami pun agak terlambat datang ke tempat tujuan kami.
Kejadian S tiba-tiba berbelok mengikuti lelaki yang berbau wangi tidak hanya sekali itu. Dia seperti dicucuk hidungnya bila ada lelaki semacam itu. Sayalah yang biasanya menyadarkannya.
Ada seorang teman lelaki yang cukup dekat dengan kami berdua, sebut namanya H. Bila H datang pagi hari, S selalu mendekatinya. Menurut S, bau perfume H enak. Sedang saya tidak terlalu suka dengan wanginya. Saya malah mendekat ke H bila hari telah siang. Bau badan H dengan wangi perfume yang sudah tersamar keringat lebih nyaman di hidung saya.
Suatu saat kami koas bersama dan harus tinggal di pemondokan yang sama pula. H pun akhirnya mengetahui kebiasaan kami, sehingga di pagi hari dia mendekati S, sedang bila siang telah menjelang dia baru mendekati saya. Hahaha...
Hingga sekarang saya belum menemukan perfume yang saya rasa cocok dengan bau tubuh saya. Sehingga saya hanya menggunakan bedak bayi di sekujur tubuh atau pelembab di tangan dan kaki. Ternyata suami sangat menyukai kebiasaan saya ini. Bau saya khas katanya, bikin kangen. Sayangnya saya belum berhasil meminta dia untuk mengurangi kebiasaannya menggunakan perfume secara berlebihan. Menurut saya, bau sabun mandi di badannya lebih enak di hidung saya daripada bau perfume yang dia gunakan di sekujur tubuhnya.
Seorang teman seumuran saya baru-baru ini hamil. Kehamilannya agak sulit, karena dia terus menerus merasa tidak enak badan dan mual ingin muntah. Akibatnya kemana pun dia pergi, dia selalu membawa minyak kayu putih. Sebentar-sebentar dioleskannya minyak kayu putih itu ke leher dan beberapa bagian tubuhnya.
Suatu hari, kami menghadap dosen untuk keperluan konsultasi disertasi. Dosen saya tiba-tiba mengkerutkan hidungnya dan bersuara lantang...
'Ini siapa yang baunya seperti nenek-nenek di terminal?"
Hahahaha ... kami para mahasiswanya pun tertawa terbahak-bahak karenanya. Sedang teman saya yang hamil itu hanya bisa tersenyum kecut.
This note is dedicated to SS dan WH
plus my beloved dear Blues
and the pregnant woman RSD
Rabu, 09 September 2015
TIGA YANG PERTAMA
Suasana panas di Bulaksumur pagi itu tidak menyurutkan langkah semangatku. Pagi itu adalah hari pendaftaran ulang bagi mahasiswa baru di UGM. Aku baru saja sampai dari Jakarta, setelah sebelumnya sempat tersesat saat menuju ke arah kampus. Supir yang membawa kendaraan kami dari Jakarta kurang begitu mengenal jalanan di Yogyakarta. Saat masuk kota, kami bertanya pada seorang tukang becak arah menuju UGM. Si mas becak memberi arah dengan kata ..."Bangjo ngetan, lalu bapak lurus. Mengko ketemu bangjo ngulon. UGM sudah dekat situ pak."
Bangjo? Ngetan? Ngulon? Apa itu?? Mama yang orang Jawa pun hanya tahu bahwa ngetan dan ngulon itu maksudnya adalah arah Wetan alias Timur sedang ngulon itu adalah Kulon alias Barat. Tapi Bangjo ... waduh. Alhasil kami pun tersesat.
Tapi kebingungan pagi tadi sudah terlupakan. Aku sudah mengantre di loket daftar ulang. Suasana sangat ramai. Di depanku, berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dan kurus dengan tampang culun. Di belakangku berdiri seorang wanita bergaya tomboi. Wanita dibelakangku menyapa dengan bahasa Jawa ngoko. Walau separuh berdarah Jawa, aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh si wanita tadi. Memahami kebingunganku, dia kembali mengulang kata-katanya dengan bahasa Indonesia.
"Ini loket untuk mahasiswa FKH kan? Takutnya saya salah antri."
Aku mengiyakan kata-katanya dan kami berdua mencocokkan berkas yang harus kami serahkan dengan daftar yang kami terima sebelumnya. Lelaki di depanku menoleh ke belakang. Dia tidak berkata-kata hanya sepertinya mendengar dan mecocokkan berkas yang kami sebutkan dengan berkas yang dipegangnya.
Setelah selesai mendaftar, kulihat Wiwin, demikian si wanita itu mengenalkan dirinya, menuju ke arah parkiran motor. Sedang si lelaki tadi entah menuju kemana. Aku menghampiri Mama yang menunggu di dekat tempat penjual minuman, ketika seseorang menyapaku.
"Mbak, tadi daftar ulang FKH ya? Sehabis ini kita kemana ya?"
Kulihat berkas di tanganku, kartu mahasiswa dengan nomor NIM terketik disana. Kulihat NIM si wanita yang menyapaku tadi. Tertera nama Hana dan NIM berbeda beberapa angka di atasku. Berarti, gumamku dalam hati, si Wiwin tadi NIM-nya terpaut satu angka di bawah aku. Sedangkan si lelaki yang belum kuketahui namanya itu memiliki NIM dengan beda 1 angka pula. Dikarenakan sebelumnya si Hana ini antri tidak jauh di depan kami.
Kukatakan pada Hana, bahwa berdasar petunjuk di berkas tersebut, setelah daftar ulang kami harus menuju FKH untuk tes buta warna. Hana mengucapkan terima kasih dan berlalu.
Sesampainya di FKH, aku pun bertemu dengan si lelaki tadi yang baru saja dipanggil masuk ke sebuah ruangan. Wiwin tidak terlihat di sana. Beberapa saat kemudian, namaku pun dipanggil. Seorang wanita menyuruhku untuk menyebutkan warna-warna yang terletak di sebuah kartu. Dia menuliskan beberapa kalimat di kertas dan menyerahkan kertas itu ke aku. Aku dinyatakan bebas buta warna. Mahasiswa FKH diwajibkan untuk bebas buta warna, dikarenakan kemampuan melihat dan mengenali perbedaan warna sangat diperlukan untuk pendiagnosaan penyakit.
Saat aku keluar, aku bertemu dengan Hana lagi. Kami sempat mengobrol beberapa jenak. Ternyata dia berasal dari Palembang. Pantaslah logatnya familiar di telingaku. Beberapa saudara Papa tinggal di Palembang dan beberapa kali pula kami berkunjung kesana.
Kami pun berpisah, aku harus mencari tempat kost hari itu juga. Esok hari Papa dan Mama harus segera kembali ke Jakarta. Setelah melihat beberapa lokasi kost, diputuskan oleh Papa dan Mama bahwa aku kost di dekat kampus Sekip. Hanya berjarak selemparan batu dari kampus.
Saat mengambil jaket almamater di KOPMA UGM, aku bertemu lagi dengan si gadis tomboy, Wiwin. Gayanya yang santai membuat aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Rumahnya di daerah Sleman dan dia memutuskan untuk pulang pergi dari rumah ke kampus. Aku tidak bisa membayangkan mengendarai motor, sendirian pula untuk pulang pergi sejauh itu. Aku sendiri jarang naik motor, hampir tidak pernah malah. Orang tua melarang dan menyarankan aku untuk naik kendaraan umum bila mobil kami sedang tidak bisa digunakan. Tak heran, aku tidak bisa membayangkan seperti apa Wiwin yang melaju dengan motornya setiap hari.
Di kemudian hari, dibonceng naik motor sering kulakukan. Bahkan aku belajar mengendarai motor, walau aku tidak pernah bercerita ke kedua orangtuaku bahwa aku belajar dan bisa naik motor. Sayangnya keberanian naik motor sendiri itu jarang kulakukan. Pertama memang tidak memiliki motor dan yang kedua jarang diberi kesempatan oleh teman yang lebih ahli. Saat ini, keberanian naik motor benar-benar hilang. Opsi menggunakan motor di Jakarta tidak pernah terlintas dalam pikiran.
Aku bertemu Hana lagi saat opspek. Kami berada dalam satu kelompok bersama lelaki culun yang kutemui saat daftar ulang itu. Kuketahui namanya Widi, asalnya dari Solo. Hana dan aku sama-sama bengong bila teman-teman dalam 1 kelompok berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Untunglah akhirnya satu dua orang di antara mereka bersedia menerjemahkan apa yang dimaksud dalam obrolan kelompok tersebut.
Aku ingat dipanggil seorang Rakanita...
"Kamu orang Jakarta ya?" tanya beliau sambil memandangku dari atas ke bawah. Aku yang ketakutan tiba-tiba dipanggil oleh dia mengangguk mengiyakan.
"Pantas. Dari tadi kamu memanggil kami-kami ini dengan sebutan kak. Panggilan untuk orang yang lebih tua disini itu mbak dan mas. Bukan Kakak!"
"Iya Kak.. eh maksud saya Mbak," kataku gugup.
Untunglah si Mbak baik hati dan menyuruh aku segera masuk ke kelompok.
Tugas untuk besok adalah membawa caplak jantan dan betina serta tulang untuk dikalungkan di leher. Widi menawarkan untuk mencarikan caplak bagi kami semua. Sedang aku dan Hana bertugas mencari tulang untuk hiasan kalung kami. Malam itu, aku dan Hana naik becak mencari tulang ke daerah Lempuyangan.
Di kemudian hari, Widi selalu menjadi partnerku dalam praktikum berpasangan. Hingga koas pun, kami berada dalam satu kelompok yang sama. Satu hal yang kuingat soal dia adalah, dia selalu menampilkan wajah terganggu bila aku memanggilnya dari jarak jauh ... "Widiiiiiiiii....." Biasanya menjelang kuliah dimulai, dia duduk di depan ruangan kelas bersama beberapa anak lain. Aku yang baru datang, melihat dia dan dari ujung tangga aku selalu berteriak memanggilnya. Semakin terganggu wajahnya, semakin senang aku memanggilnya hahaha... Dia selalu menjadi anggota dewan penasehatku. Menasehati panjang lebar bila yang kulakukan salah dimatanya. Tetapi dia selalu ada, bila aku membutuhkan bantuan dalam pelajaran. Walau dia tidak lupa mencela sebelum memberikan bantuan. Celaan dia tidak pernah masuk ke hati, karena aku tahu walau dia bersungut-sungut mengerjakan yang aku minta, bantuan dia selalu sempurna.
Hana dan aku ternyata memiliki tanggal lahir yang sama. Sehingga aku tidak kesulitan untuk bersahabat dengannya. Saat opspek, kami berkenalan dengan seorang lelaki yang berasal dari Kudus dengan logat Jawa yang sangat kental. Lelaki bernama Ugie ini akhirnya selalu mengikuti kemana pun Hana dan aku pergi. Kami bertiga bersahabat erat. Obrolan kami 'nyambung", kesukaan kami pun hampir mirip. Kami bertiga bersama beberapa orang membentuk semacam kelompok. Kelompok ini rutin menghabiskan waktu untuk menjelajah Yogya dan sekitarnya saat libur tiba. Nilai-nilai Hana dan Ugie lebih bagus dari aku, sehingga mereka lulus duluan dan Koas terlebih dulu pula. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi persahabatan kami.
Itulah Hana, Widi dan Wiwin... tiga orang pertama yang kutemui saat mendaftar ulang di FKH UGM. Mereka jugalah tiga sahabat pertamaku saat kuliah. Semoga persahabatan kami tidak terhapus oleh masa.
This one is dedicated to HANA, WIDI dan WIWIN...
Bangjo? Ngetan? Ngulon? Apa itu?? Mama yang orang Jawa pun hanya tahu bahwa ngetan dan ngulon itu maksudnya adalah arah Wetan alias Timur sedang ngulon itu adalah Kulon alias Barat. Tapi Bangjo ... waduh. Alhasil kami pun tersesat.
Tapi kebingungan pagi tadi sudah terlupakan. Aku sudah mengantre di loket daftar ulang. Suasana sangat ramai. Di depanku, berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dan kurus dengan tampang culun. Di belakangku berdiri seorang wanita bergaya tomboi. Wanita dibelakangku menyapa dengan bahasa Jawa ngoko. Walau separuh berdarah Jawa, aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh si wanita tadi. Memahami kebingunganku, dia kembali mengulang kata-katanya dengan bahasa Indonesia.
"Ini loket untuk mahasiswa FKH kan? Takutnya saya salah antri."
Aku mengiyakan kata-katanya dan kami berdua mencocokkan berkas yang harus kami serahkan dengan daftar yang kami terima sebelumnya. Lelaki di depanku menoleh ke belakang. Dia tidak berkata-kata hanya sepertinya mendengar dan mecocokkan berkas yang kami sebutkan dengan berkas yang dipegangnya.
Setelah selesai mendaftar, kulihat Wiwin, demikian si wanita itu mengenalkan dirinya, menuju ke arah parkiran motor. Sedang si lelaki tadi entah menuju kemana. Aku menghampiri Mama yang menunggu di dekat tempat penjual minuman, ketika seseorang menyapaku.
"Mbak, tadi daftar ulang FKH ya? Sehabis ini kita kemana ya?"
Kulihat berkas di tanganku, kartu mahasiswa dengan nomor NIM terketik disana. Kulihat NIM si wanita yang menyapaku tadi. Tertera nama Hana dan NIM berbeda beberapa angka di atasku. Berarti, gumamku dalam hati, si Wiwin tadi NIM-nya terpaut satu angka di bawah aku. Sedangkan si lelaki yang belum kuketahui namanya itu memiliki NIM dengan beda 1 angka pula. Dikarenakan sebelumnya si Hana ini antri tidak jauh di depan kami.
Kukatakan pada Hana, bahwa berdasar petunjuk di berkas tersebut, setelah daftar ulang kami harus menuju FKH untuk tes buta warna. Hana mengucapkan terima kasih dan berlalu.
Sesampainya di FKH, aku pun bertemu dengan si lelaki tadi yang baru saja dipanggil masuk ke sebuah ruangan. Wiwin tidak terlihat di sana. Beberapa saat kemudian, namaku pun dipanggil. Seorang wanita menyuruhku untuk menyebutkan warna-warna yang terletak di sebuah kartu. Dia menuliskan beberapa kalimat di kertas dan menyerahkan kertas itu ke aku. Aku dinyatakan bebas buta warna. Mahasiswa FKH diwajibkan untuk bebas buta warna, dikarenakan kemampuan melihat dan mengenali perbedaan warna sangat diperlukan untuk pendiagnosaan penyakit.
Saat aku keluar, aku bertemu dengan Hana lagi. Kami sempat mengobrol beberapa jenak. Ternyata dia berasal dari Palembang. Pantaslah logatnya familiar di telingaku. Beberapa saudara Papa tinggal di Palembang dan beberapa kali pula kami berkunjung kesana.
Kami pun berpisah, aku harus mencari tempat kost hari itu juga. Esok hari Papa dan Mama harus segera kembali ke Jakarta. Setelah melihat beberapa lokasi kost, diputuskan oleh Papa dan Mama bahwa aku kost di dekat kampus Sekip. Hanya berjarak selemparan batu dari kampus.
Saat mengambil jaket almamater di KOPMA UGM, aku bertemu lagi dengan si gadis tomboy, Wiwin. Gayanya yang santai membuat aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Rumahnya di daerah Sleman dan dia memutuskan untuk pulang pergi dari rumah ke kampus. Aku tidak bisa membayangkan mengendarai motor, sendirian pula untuk pulang pergi sejauh itu. Aku sendiri jarang naik motor, hampir tidak pernah malah. Orang tua melarang dan menyarankan aku untuk naik kendaraan umum bila mobil kami sedang tidak bisa digunakan. Tak heran, aku tidak bisa membayangkan seperti apa Wiwin yang melaju dengan motornya setiap hari.
Di kemudian hari, dibonceng naik motor sering kulakukan. Bahkan aku belajar mengendarai motor, walau aku tidak pernah bercerita ke kedua orangtuaku bahwa aku belajar dan bisa naik motor. Sayangnya keberanian naik motor sendiri itu jarang kulakukan. Pertama memang tidak memiliki motor dan yang kedua jarang diberi kesempatan oleh teman yang lebih ahli. Saat ini, keberanian naik motor benar-benar hilang. Opsi menggunakan motor di Jakarta tidak pernah terlintas dalam pikiran.
Aku bertemu Hana lagi saat opspek. Kami berada dalam satu kelompok bersama lelaki culun yang kutemui saat daftar ulang itu. Kuketahui namanya Widi, asalnya dari Solo. Hana dan aku sama-sama bengong bila teman-teman dalam 1 kelompok berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Untunglah akhirnya satu dua orang di antara mereka bersedia menerjemahkan apa yang dimaksud dalam obrolan kelompok tersebut.
Aku ingat dipanggil seorang Rakanita...
"Kamu orang Jakarta ya?" tanya beliau sambil memandangku dari atas ke bawah. Aku yang ketakutan tiba-tiba dipanggil oleh dia mengangguk mengiyakan.
"Pantas. Dari tadi kamu memanggil kami-kami ini dengan sebutan kak. Panggilan untuk orang yang lebih tua disini itu mbak dan mas. Bukan Kakak!"
"Iya Kak.. eh maksud saya Mbak," kataku gugup.
Untunglah si Mbak baik hati dan menyuruh aku segera masuk ke kelompok.
Tugas untuk besok adalah membawa caplak jantan dan betina serta tulang untuk dikalungkan di leher. Widi menawarkan untuk mencarikan caplak bagi kami semua. Sedang aku dan Hana bertugas mencari tulang untuk hiasan kalung kami. Malam itu, aku dan Hana naik becak mencari tulang ke daerah Lempuyangan.
Di kemudian hari, Widi selalu menjadi partnerku dalam praktikum berpasangan. Hingga koas pun, kami berada dalam satu kelompok yang sama. Satu hal yang kuingat soal dia adalah, dia selalu menampilkan wajah terganggu bila aku memanggilnya dari jarak jauh ... "Widiiiiiiiii....." Biasanya menjelang kuliah dimulai, dia duduk di depan ruangan kelas bersama beberapa anak lain. Aku yang baru datang, melihat dia dan dari ujung tangga aku selalu berteriak memanggilnya. Semakin terganggu wajahnya, semakin senang aku memanggilnya hahaha... Dia selalu menjadi anggota dewan penasehatku. Menasehati panjang lebar bila yang kulakukan salah dimatanya. Tetapi dia selalu ada, bila aku membutuhkan bantuan dalam pelajaran. Walau dia tidak lupa mencela sebelum memberikan bantuan. Celaan dia tidak pernah masuk ke hati, karena aku tahu walau dia bersungut-sungut mengerjakan yang aku minta, bantuan dia selalu sempurna.
Hana dan aku ternyata memiliki tanggal lahir yang sama. Sehingga aku tidak kesulitan untuk bersahabat dengannya. Saat opspek, kami berkenalan dengan seorang lelaki yang berasal dari Kudus dengan logat Jawa yang sangat kental. Lelaki bernama Ugie ini akhirnya selalu mengikuti kemana pun Hana dan aku pergi. Kami bertiga bersahabat erat. Obrolan kami 'nyambung", kesukaan kami pun hampir mirip. Kami bertiga bersama beberapa orang membentuk semacam kelompok. Kelompok ini rutin menghabiskan waktu untuk menjelajah Yogya dan sekitarnya saat libur tiba. Nilai-nilai Hana dan Ugie lebih bagus dari aku, sehingga mereka lulus duluan dan Koas terlebih dulu pula. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi persahabatan kami.
Itulah Hana, Widi dan Wiwin... tiga orang pertama yang kutemui saat mendaftar ulang di FKH UGM. Mereka jugalah tiga sahabat pertamaku saat kuliah. Semoga persahabatan kami tidak terhapus oleh masa.
This one is dedicated to HANA, WIDI dan WIWIN...
Labels:
#aboutme,
#memoar,
#songosiji
Kamis, 28 Mei 2015
RAMADHAN SUATU HARI YANG LALU (PART 2-ANTARA CIBITUNG DAN JAKARTA)
Di awal tahun 2011, saya dipindahkan ke Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP). Saat itu sedikit kecewa, karena tadinya berharap ditempatkan di laboratorium Karantina yang terletak di Jalan Pemuda Jakarta Timur, yang lokasinya dekat rumah. Tetapi saat ini tidak ada seberkas pun rasa kecewa karena tidak jadi ditempatkan di sana, karena saya jatuh cinta setengah mati dengan pekerjaan saya di BUTTMKP.
BUTTMKP adalah instansi baru di Badan Karantina Pertanian, dengan tugas pokok yang sangat jauh berbeda dengan unit pelaksana teknis karantina yang lain. Untuk menuju ke BUTTMKP dari rumah di Jakarta Timur saya menggunakan kendaraan dinas kantor. Bila menggunakan kendaraan umum tidak praktis karena harus berkali-kali ganti moda serta waktu yang lumayan lama. BUTTMKP secara administratif berlokasi di wilayah kecamatan Cikarang Barat, tetapi orang lebih mengenai wilayah ini sebagai bagian dari Cibitung Bekasi.
Saat bertugas di Merak, dari rumah ke kantor saya hanya berganti kendaraan 3 kali. Dari rumah ke terminal Pulogadung dua kali angkot kemudian naik bis AKAP hingga di depan kantor. Sedangkan menuju BUTTMKP, saya harus berganti kendaraan hingga 7 kali. Entah mengapa biaya angkot di Bekasi lebih mahal daripada di Jakarta dengan jarak tempuh yang sama.
Untuk itu akhirnya kendaraan dinas saya gunakan untuk menghemat waktu dan biaya. Kebetulan ada dua orang teman yang rumahnya berdekatan sehingga kami bertiga sering menggunakan satu mobil yang sama.
Seorang teman berkomentar, "May, kalau kamu pake mobil sendiri dan gak naik bis lagi, jangan-jangan gak ada lagi yang bisa kamu ceritakan dari perjalanan pulang pergimu. Tidak seperti saat kemarin dari Merak-Jakarta..."
Iya sih bisa dibilang seperti itu, karena kegemaran saya mengamati orang lain tidak terjadi. Tapi ternyata banyak hal yang bisa diceritakan dari lima tahun menyusuri jalanan antara Cibitung-Jakarta.
Di tahun 2011 menempuh jarak 35 km dari rumah ke kantor hanya membutuhkan waktu kurang dari 45 menit via Tol JORR lanjut Tol Jakarta-Cikampek. Saat ini minimal butuh waktu 60 menit itupun harus keluar rumah maksimal jam 5.45. Lewat dari jam 5.45 huhuhu siap-siap pegel hati dan pegel kaki "nginjak" kopling. Arus keluar Jakarta ternyata sama padatnya dengan menuju Jakarta di hari kerja. Kemungkinan semakin banyak orang yang bekerja di daerah Cibitung, Cikarang, Karawang dan sekitarnya tetapi berumah di Jakarta.
Jam masuk kantor di bulan puasa biasanya lebih lambat 30 menit dan jam pulang 1 jam lebih cepat (08.00-15.00 WIB). Walaupun demikian saya dan teman yang biasa bareng tetap berangkat seperti biasa yaitu antara pukul 5.45-06.00 WIB. Selama bulan Ramadhan tidak ada lagi kehebohan pagi hari setelah shalat subuh seperti di hari biasa, karena anak-anak tidak tidur lagi setelah sahur dan shalat subuh. Mereka biasanya langsung mandi dan siap berangkat sekolah. Alhasil mamanya sudah dandan cantik sebelum jam 5.15.
Tiga minggu pertama di bulan Ramadhan, berangkat pagi hari adalah saat yang menyenangkan. Bebas stres dari kemacetan. Jalan tol lancar tanpa hambatan. Bahkan motor-motor yang biasanya sudah berseliweran di daerah Cibitung pun tidak sebanyak hari biasa. Tapi jangan harap hal yang sama terjadi saat pulang kantor.
Sore hari di saat Ramadhan apalagi bila waktu telah menunjukkan pukul 17.00 ke atas adalah saat yang mengerikan bagi saya bila harus menyetir sendirian. Sepertinya semua orang ingin buru-buru pulang ke rumah. Lampu merah tidak diperdulikan, saling sikat, serobot, ngebut apa pun dilakukan hanya demi mengejar saat berbuka puasa di rumah masing-masing.
Sangat jarang sebenarnya saya bisa pulang tepat waktu, di bulan Ramadhan sekalipun. Biasanya saya putuskan menunggu waktu shalat Ashar baru pulang. Sehingga paling cepat keluar kantor jam 16.00 WIB. Saat itu merupakan jam pulang dari beberapa pabrik di sekitar kawasan Industri MM 2100 Cibitung. Ada sebuah jembatan di Kalimalang yang merupakan titik kemacetan di sore hari. Siap-siap "stuck" di jembatan tersebut minimal 30 menit, kemudian harus terseok-seok menempuh lautan motor dalam perjalanan ke pintu tol Grand Wisata/Tambun. Sekeluarnya di pintu tol Bintara/Pondok Kopi siap-siap lagi "stuck" di dekat flyover Pondok Kopi. Alhasil minimal 2 jam perjalanan harus ditempuh untuk pulang.
Biasanya saya selalu menyiapkan botol air minum dan makanan ringan di mobil untuk membatalkan puasa. Apalagi bila keluar kantor di atas jam 16.30. Tetapi bila pekerjaan baru selesai menjelang jam 17.00, saya biasanya memilih untuk berbuka puasa di kantor serta shalat Magrib sebelum pulang.
Ada suatu kejadian berkesan. Saat itu entah mengapa jalanan macet tak terhingga dari kantor hingga di dekat rumah. Padahal saya dan seorang teman keluar kantor kurang dari jam 15.30. Sebebasnya dari kemacetan di flyover Pondok Kopi menjelang flyover Raden Inten mendadak arus jalan terhenti. Mobil tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Stuck. Saya kira bisa sampai rumah sebelum jam 17 sehingga tidak menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk membatalkan puasa. Bahkan sebungkus permen pun tidak ada di tas ataupun di mobil. Lima belas menit menjelang berbuka, mobil kami masih belum bergerak juga. Anehnya tidak ada satu pun pedagang asongan yang menjual minuman di sekitar kami. Sehingga saat adzan Magrib berkumandang kami hanya bisa pasrah dan diam tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kami tertawa terbahak-bahak menertawakan diri sendiri untuk membuang rasa kesal. Rasanya "gondok" karena kok ya kena macet sudah di dekat rumah. Sebuah pelajaran untuk selalu menyelipkan botol air di mobil menjelang pulang kantor di bulan puasa.
Menjelang lebaran, mulailah pemandangan unik dan khas terjadi di jalan raya. Kami saling tebak menebak kira-kira kemana mobil-mobil itu mudik atau dari mana mobil tersebut berasal saat arus balik, berdasarkan bawaan yang terlihat di atap mobil ataupun bagasi belakang.
Ternyata apa pun moda transportasi mudiknya, tetap ciri khas mudik selalu terlihat. Kardus. Ya kardus. Kardus terletak di atap mobil, kardus terselip di bagasi belakang. Orang menyempil duduk di antara kardus. Tiada mudik yang berkesan tanpa kardus. Tidak hanya penumpang bis ekonomi non AC antara Jakarta-Merak yang sering membawa kardus tetapi juga pemudik yang menggunakan mobil pribadi.
Belum lagi kardus yang terikat rapi di motor. Ada motor yang sengaja menambahkan beberapa senti meter kayu di bagian belakang tempat duduk untuk menaruh kardus. Kardus juga ditaruh di atas bagasi motor yang sering disebut "magic jar" itu. Kardus sering ditemui terapit di kaki depan antara bangku dan setang.
Hal yang menyedihkan saat arus mudik berlangsung adalah melihat anak-anak yang duduk di atas motor bersama orang tuanya. Setiap kali melihat bayi digendong ibunya dan sang kakak duduk di depan ayahnya, saya hanya berharap bahwa tujuan yang mereka tempuh hanya dekat saja. Paling jauh Cikampek atau Subang. Anak kecil yang duduk di depan adalah yang paling membuat miris. Merekalah yang menerima angin kencang dan debu jalanan pertama kali sebelum sang ayah.
Pernah saya melihat, satu motor berisi lima orang yang terdiri dari bayi yang digendong ibunya, anak nomor dua di tengah antara bayi dan ayah serta kakak nomor satu di depan. Belum kardus, tas dan plastik yang bergelantungan di motor. Kalau sudah seperti ini saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Apalah saya ini, yang duduk manis di mobil ber AC kemudian menyalahkan sang ayah dan ibu yang nekat membawa anak-anaknya untuk mudik. Pastilah banyak pertimbangan di pikiran mereka. Sekali lagi saya hanya bisa berdoa bahwa tujuan mereka hanya dekat saja. Masih di wilayah Jawa Barat yang bisa ditempuh kurang dari 6 jam perjalanan.
Yang unik menjelang lebaran adalah munculnya posko-posko peristirahatan sepanjang jalan Kalimalang yang diorganisir oleh Partai politik atau organisasi pendukung partai. Terutama menjelang pemilu kemarin. Posko ini terutama menyasar pemudik yang menggunakan sepeda motor. Ada posko standar dalam arti dilengkapi dengan tempat duduk-duduk serta makanan minuman gratis saat berbuka puasa tetapi juga ada yang komplit. Komplit semua ada. Ada pijat gratis, petugas kesehatan dan eng ing eng.... panggung dengan penyanyi serta sound system gebyar.
Selain posko peristirahatan, sepanjang jalan Kalimalang juga diwarnai oleh penukar uang recehan. Mereka sengaja memajang gepokan uang ribuan, lima ribuan hingga sepuluh dan dua puluh ribuan di pinggir jalan tanpa rasa takut uang-uang tersebut disambar orang. Untuk segepok uang ribuan bernilai Rp. 100.000,00 kita harus menyiapkan uang antara Rp. 105.000-110.000 rupiah.
Penjaja makanan dan minuman untuk berbuka puasa jangan dilewatkan. Ini yang sering membuat jalanan tersendat karena motor dan mobil sering parkir sembarangan untuk membeli jajanan yang dijual mereka. Saya sendiri belum pernah membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa yang dijajakan di pinggir jalan tersebut sehingga tidak bisa merekomendasikan makanan dan minuman apa yang terenak. Sekilas melihat yang dijajakan sepertinya semacam kolak, gorengan, bubur sumsum, es buah, es kelapa muda dan sebangsanya.
Menjelang puasa hingga H-7 lebaran, truk dan kontainer yang mendistribusikan barang jumlahnya meningkat drastis. Dikarenakan H-7 dan H+7, truk dan kontainer dilarang melintas di jalan tol dan pantura, kecuali yang mengangkut sembako dan ternak.
Berada di jalan tol di hari-hari mendekati lebaran rasanya berbeda. Berada di antara mobil dengan bagasi penuh dan wajah-wajah ceria, kami yang masih patuh berangkat kantor dan menggunakan seragam lengkap serasa "out of place".
Satu hal menggelitik, saat puasa sebenarnya adalah saat menahan diri. Menahan diri dari emosi apa pun. Godaan terbesar dari menahan emosi adalah saat terjebak macet menjelang magrib. Heran melihat orang sengaja melanggar aturan lalu lintas yang kemudian menyebabkan macet parah di setiap perempatan. Alasan yang terlontar pasti ingin segera sampai di rumah untuk berbuka puasa bersama dengan yang tercinta. Tetapi apakah alasan tersebut cukup untuk melakukan pelanggaran lalu lintas yang pada akhirnya malah membuat banyak orang berbuka puasa jamaah di jalan?
Seorang muslim yang baik tidak hanya mematuhi aturan agamanya, tetapi juga aturan negara dalam hal ini aturan berlalu lintas. Jangan melanggar lampu lalu lintas, jangan lawan arus, bersabar dan mendahulukan yang lain saat di perempatan/pertigaan tanpa lampu lintas. Insha Allah Magrib tidak terlewat dan masih bisa berbuka bersama di rumah.
This note is dedicated to my best friends, ACH and URH. Thanks for the time we share for the past 5 years.
BUTTMKP adalah instansi baru di Badan Karantina Pertanian, dengan tugas pokok yang sangat jauh berbeda dengan unit pelaksana teknis karantina yang lain. Untuk menuju ke BUTTMKP dari rumah di Jakarta Timur saya menggunakan kendaraan dinas kantor. Bila menggunakan kendaraan umum tidak praktis karena harus berkali-kali ganti moda serta waktu yang lumayan lama. BUTTMKP secara administratif berlokasi di wilayah kecamatan Cikarang Barat, tetapi orang lebih mengenai wilayah ini sebagai bagian dari Cibitung Bekasi.
Saat bertugas di Merak, dari rumah ke kantor saya hanya berganti kendaraan 3 kali. Dari rumah ke terminal Pulogadung dua kali angkot kemudian naik bis AKAP hingga di depan kantor. Sedangkan menuju BUTTMKP, saya harus berganti kendaraan hingga 7 kali. Entah mengapa biaya angkot di Bekasi lebih mahal daripada di Jakarta dengan jarak tempuh yang sama.
Untuk itu akhirnya kendaraan dinas saya gunakan untuk menghemat waktu dan biaya. Kebetulan ada dua orang teman yang rumahnya berdekatan sehingga kami bertiga sering menggunakan satu mobil yang sama.
Seorang teman berkomentar, "May, kalau kamu pake mobil sendiri dan gak naik bis lagi, jangan-jangan gak ada lagi yang bisa kamu ceritakan dari perjalanan pulang pergimu. Tidak seperti saat kemarin dari Merak-Jakarta..."
Iya sih bisa dibilang seperti itu, karena kegemaran saya mengamati orang lain tidak terjadi. Tapi ternyata banyak hal yang bisa diceritakan dari lima tahun menyusuri jalanan antara Cibitung-Jakarta.
Di tahun 2011 menempuh jarak 35 km dari rumah ke kantor hanya membutuhkan waktu kurang dari 45 menit via Tol JORR lanjut Tol Jakarta-Cikampek. Saat ini minimal butuh waktu 60 menit itupun harus keluar rumah maksimal jam 5.45. Lewat dari jam 5.45 huhuhu siap-siap pegel hati dan pegel kaki "nginjak" kopling. Arus keluar Jakarta ternyata sama padatnya dengan menuju Jakarta di hari kerja. Kemungkinan semakin banyak orang yang bekerja di daerah Cibitung, Cikarang, Karawang dan sekitarnya tetapi berumah di Jakarta.
Jam masuk kantor di bulan puasa biasanya lebih lambat 30 menit dan jam pulang 1 jam lebih cepat (08.00-15.00 WIB). Walaupun demikian saya dan teman yang biasa bareng tetap berangkat seperti biasa yaitu antara pukul 5.45-06.00 WIB. Selama bulan Ramadhan tidak ada lagi kehebohan pagi hari setelah shalat subuh seperti di hari biasa, karena anak-anak tidak tidur lagi setelah sahur dan shalat subuh. Mereka biasanya langsung mandi dan siap berangkat sekolah. Alhasil mamanya sudah dandan cantik sebelum jam 5.15.
Tiga minggu pertama di bulan Ramadhan, berangkat pagi hari adalah saat yang menyenangkan. Bebas stres dari kemacetan. Jalan tol lancar tanpa hambatan. Bahkan motor-motor yang biasanya sudah berseliweran di daerah Cibitung pun tidak sebanyak hari biasa. Tapi jangan harap hal yang sama terjadi saat pulang kantor.
Sore hari di saat Ramadhan apalagi bila waktu telah menunjukkan pukul 17.00 ke atas adalah saat yang mengerikan bagi saya bila harus menyetir sendirian. Sepertinya semua orang ingin buru-buru pulang ke rumah. Lampu merah tidak diperdulikan, saling sikat, serobot, ngebut apa pun dilakukan hanya demi mengejar saat berbuka puasa di rumah masing-masing.
Sangat jarang sebenarnya saya bisa pulang tepat waktu, di bulan Ramadhan sekalipun. Biasanya saya putuskan menunggu waktu shalat Ashar baru pulang. Sehingga paling cepat keluar kantor jam 16.00 WIB. Saat itu merupakan jam pulang dari beberapa pabrik di sekitar kawasan Industri MM 2100 Cibitung. Ada sebuah jembatan di Kalimalang yang merupakan titik kemacetan di sore hari. Siap-siap "stuck" di jembatan tersebut minimal 30 menit, kemudian harus terseok-seok menempuh lautan motor dalam perjalanan ke pintu tol Grand Wisata/Tambun. Sekeluarnya di pintu tol Bintara/Pondok Kopi siap-siap lagi "stuck" di dekat flyover Pondok Kopi. Alhasil minimal 2 jam perjalanan harus ditempuh untuk pulang.
Biasanya saya selalu menyiapkan botol air minum dan makanan ringan di mobil untuk membatalkan puasa. Apalagi bila keluar kantor di atas jam 16.30. Tetapi bila pekerjaan baru selesai menjelang jam 17.00, saya biasanya memilih untuk berbuka puasa di kantor serta shalat Magrib sebelum pulang.
Ada suatu kejadian berkesan. Saat itu entah mengapa jalanan macet tak terhingga dari kantor hingga di dekat rumah. Padahal saya dan seorang teman keluar kantor kurang dari jam 15.30. Sebebasnya dari kemacetan di flyover Pondok Kopi menjelang flyover Raden Inten mendadak arus jalan terhenti. Mobil tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Stuck. Saya kira bisa sampai rumah sebelum jam 17 sehingga tidak menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk membatalkan puasa. Bahkan sebungkus permen pun tidak ada di tas ataupun di mobil. Lima belas menit menjelang berbuka, mobil kami masih belum bergerak juga. Anehnya tidak ada satu pun pedagang asongan yang menjual minuman di sekitar kami. Sehingga saat adzan Magrib berkumandang kami hanya bisa pasrah dan diam tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kami tertawa terbahak-bahak menertawakan diri sendiri untuk membuang rasa kesal. Rasanya "gondok" karena kok ya kena macet sudah di dekat rumah. Sebuah pelajaran untuk selalu menyelipkan botol air di mobil menjelang pulang kantor di bulan puasa.
Menjelang lebaran, mulailah pemandangan unik dan khas terjadi di jalan raya. Kami saling tebak menebak kira-kira kemana mobil-mobil itu mudik atau dari mana mobil tersebut berasal saat arus balik, berdasarkan bawaan yang terlihat di atap mobil ataupun bagasi belakang.
Ternyata apa pun moda transportasi mudiknya, tetap ciri khas mudik selalu terlihat. Kardus. Ya kardus. Kardus terletak di atap mobil, kardus terselip di bagasi belakang. Orang menyempil duduk di antara kardus. Tiada mudik yang berkesan tanpa kardus. Tidak hanya penumpang bis ekonomi non AC antara Jakarta-Merak yang sering membawa kardus tetapi juga pemudik yang menggunakan mobil pribadi.
Belum lagi kardus yang terikat rapi di motor. Ada motor yang sengaja menambahkan beberapa senti meter kayu di bagian belakang tempat duduk untuk menaruh kardus. Kardus juga ditaruh di atas bagasi motor yang sering disebut "magic jar" itu. Kardus sering ditemui terapit di kaki depan antara bangku dan setang.
Hal yang menyedihkan saat arus mudik berlangsung adalah melihat anak-anak yang duduk di atas motor bersama orang tuanya. Setiap kali melihat bayi digendong ibunya dan sang kakak duduk di depan ayahnya, saya hanya berharap bahwa tujuan yang mereka tempuh hanya dekat saja. Paling jauh Cikampek atau Subang. Anak kecil yang duduk di depan adalah yang paling membuat miris. Merekalah yang menerima angin kencang dan debu jalanan pertama kali sebelum sang ayah.
Pernah saya melihat, satu motor berisi lima orang yang terdiri dari bayi yang digendong ibunya, anak nomor dua di tengah antara bayi dan ayah serta kakak nomor satu di depan. Belum kardus, tas dan plastik yang bergelantungan di motor. Kalau sudah seperti ini saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Apalah saya ini, yang duduk manis di mobil ber AC kemudian menyalahkan sang ayah dan ibu yang nekat membawa anak-anaknya untuk mudik. Pastilah banyak pertimbangan di pikiran mereka. Sekali lagi saya hanya bisa berdoa bahwa tujuan mereka hanya dekat saja. Masih di wilayah Jawa Barat yang bisa ditempuh kurang dari 6 jam perjalanan.
Yang unik menjelang lebaran adalah munculnya posko-posko peristirahatan sepanjang jalan Kalimalang yang diorganisir oleh Partai politik atau organisasi pendukung partai. Terutama menjelang pemilu kemarin. Posko ini terutama menyasar pemudik yang menggunakan sepeda motor. Ada posko standar dalam arti dilengkapi dengan tempat duduk-duduk serta makanan minuman gratis saat berbuka puasa tetapi juga ada yang komplit. Komplit semua ada. Ada pijat gratis, petugas kesehatan dan eng ing eng.... panggung dengan penyanyi serta sound system gebyar.
Selain posko peristirahatan, sepanjang jalan Kalimalang juga diwarnai oleh penukar uang recehan. Mereka sengaja memajang gepokan uang ribuan, lima ribuan hingga sepuluh dan dua puluh ribuan di pinggir jalan tanpa rasa takut uang-uang tersebut disambar orang. Untuk segepok uang ribuan bernilai Rp. 100.000,00 kita harus menyiapkan uang antara Rp. 105.000-110.000 rupiah.
Penjaja makanan dan minuman untuk berbuka puasa jangan dilewatkan. Ini yang sering membuat jalanan tersendat karena motor dan mobil sering parkir sembarangan untuk membeli jajanan yang dijual mereka. Saya sendiri belum pernah membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa yang dijajakan di pinggir jalan tersebut sehingga tidak bisa merekomendasikan makanan dan minuman apa yang terenak. Sekilas melihat yang dijajakan sepertinya semacam kolak, gorengan, bubur sumsum, es buah, es kelapa muda dan sebangsanya.
Menjelang puasa hingga H-7 lebaran, truk dan kontainer yang mendistribusikan barang jumlahnya meningkat drastis. Dikarenakan H-7 dan H+7, truk dan kontainer dilarang melintas di jalan tol dan pantura, kecuali yang mengangkut sembako dan ternak.
Berada di jalan tol di hari-hari mendekati lebaran rasanya berbeda. Berada di antara mobil dengan bagasi penuh dan wajah-wajah ceria, kami yang masih patuh berangkat kantor dan menggunakan seragam lengkap serasa "out of place".
Satu hal menggelitik, saat puasa sebenarnya adalah saat menahan diri. Menahan diri dari emosi apa pun. Godaan terbesar dari menahan emosi adalah saat terjebak macet menjelang magrib. Heran melihat orang sengaja melanggar aturan lalu lintas yang kemudian menyebabkan macet parah di setiap perempatan. Alasan yang terlontar pasti ingin segera sampai di rumah untuk berbuka puasa bersama dengan yang tercinta. Tetapi apakah alasan tersebut cukup untuk melakukan pelanggaran lalu lintas yang pada akhirnya malah membuat banyak orang berbuka puasa jamaah di jalan?
Seorang muslim yang baik tidak hanya mematuhi aturan agamanya, tetapi juga aturan negara dalam hal ini aturan berlalu lintas. Jangan melanggar lampu lalu lintas, jangan lawan arus, bersabar dan mendahulukan yang lain saat di perempatan/pertigaan tanpa lampu lintas. Insha Allah Magrib tidak terlewat dan masih bisa berbuka bersama di rumah.
This note is dedicated to my best friends, ACH and URH. Thanks for the time we share for the past 5 years.
RAMADHAN SUATU HARI YANG LALU (PART 1- ANTARA MERAK DAN JAKARTA)
Sebagai dokter hewan karantina, saya pernah bertugas di pelabuhan Merak Banten selama tujuh tahun. Saat itu, saya memutuskan untuk tidak pindah ke Merak tetapi melakukan perjalanan pulang pergi Merak-Jakarta setiap hari atau sesuai jadwal piket. Rumah berlokasi di Jakarta Timur dan perjalanan dari dan ke Merak dilakukan dengan menggunakan bis AKAP dari Terminal Pulogadung. Hanya sesekali menggunakan mobil dinas kantor, itu pun bila ada keperluan mendesak.
Selama di bis, selain membaca buku dan tidur saya suka sekali mengamati orang di sekeliling. Menjelang dan selama Ramadhan dan terutama menjelang Idul Fitri adalah waktu-waktu yang paling menarik untuk mengamati orang.
Sebelum puasa, banyak orang melakukan perjalanan dengan tujuan "nyekar" ke makam orang tua. Di awal-awal puasa penumpang bis dengan tujuan jauh jarang ditemui. Seminggu menjelang Idul Fitri mulailah arus mudik dan tarif bis mendadak dangdut meroket.
Sebagai penumpang rutin, tentu saja kenalan supir dan kenek bis Merak-Pulogadung wajib dipunyai. Selain untuk keamanan di jalan, juga untuk membunuh rasa bosan dengan mengobrol sepanjang jalan. keuntungannya adalah, saat yang lain ditarik tarif tinggi saat menjelang Idul Fitri, saya tetap membayar dengan tarif biasa. Tetapi ini tidak berlaku bila saya melakukan perjalanan H-2 hingga H+2. Tarif tuslah Lebaran tetap diberlakukan pada siapa pun tanpa pandang bulu.
Hal yang menarik saat menjelang Idul Fitri adalah memperhatikan kostum dan bawaan penumpang. Orang Indonesia sepertinya bila melakukan perjalanan jauh kurang lengkap tanpa membawa kardus. Kardus ukuran kecil hingga besar memenuhi bis dan diletakkan di antara bangku hingga di atap bis. Kadang ada kardus yang dikemas rapi tetapi lebih banyak yang diikat tali rafia sekedarnya, sehingga isi di dalamnya terlihat dan bila si pemilik sedang apes kardus bisa tercerai berai tak karuan. Isi kardus bervariasi mulai dari pakaian, buah-buahan, mainan anak bahkan peralatan rumah tangga seperti kompor sampai bantal guling. Itu adalah varian isi kardus dalam perjalanan sebelum lebaran. Sesudah lebaran, isinya beda lagi, biasanya hasil panen di kampung seperti beras, kelapa butiran, duren, petai dan lain-lain.
Menggunakan baju baru atau terlihat menarik saat tiba di kampung halaman adalah salah satu kewajiban para perantau yang mudik. Nah ini yang menarik. Bis Merak-Pulogadung saat itu (2003-2010) lebih banyak bis ekonomi non AC, jumlah bis AC sangat sedikit. Menggunakan baju keren berlapis-lapis atau celana jeans sebenarnya kurang nyaman di bis tanpa AC. Bahkan syal yang dililit di bagian leher dan jaket kulit atau jaket kain tebal tidaklah tepat digunakan di bis yang penuh sesak. Tetapi demi terlihat keren, walau keringat berbulir-bulir sudah mengalir kostum keren itu tetap dipertahankan.
Make up untuk para wanita tentu saja harus maksimal bila ingin terlihat gaya di kampung halaman. Tetapi foundation yang dioleskan tebal plus bulu mata palsu yang sudah terpasang dari rumah padahal perjalanan memakan waktu lebih dari 6 jam rasanya sungguh berlebihan. Yang terjadi akhirnya make up sudah luntur bahkan sebelum bis memasuki terminal Serang.
Hal yang menyedihkan dari perjalanan mudik ini adalah banyaknya penumpang yang tidak berpuasa dengan alasan musafir. Di awal puasa, masih banyak penumpang berpuasa bahkan bersama-sama berbuka puasa di bis. Supir terkadang berbaik hati menyetel radio sehingga jelas kapan waktunya berbuka. Tetapi menjelang lebaran, lebih banyak penumpang yang tidak puasa dengan beragam alasan. Asap rokok, bau makanan dan botol aqua dingin sungguh menggoda siapa pun yang sedang berpuasa.
Kenikmatan saat berbuka bersama dengan orang yang tidak dikenal di bis sangatlah tak ternilai. Tetiba orang sebelah saya menawarkan bakwan, orang yang di depan menawarkan arem-arem plus teh kotak bahkan ada yang pernah menawarkan saya nasi bungkus! Saya pernah naik bis yang supir dan keneknya berpuasa, dan mereka sengaja meminggirkan kendaraannya di jalan tol guna sekedar melepas dahaga dan shalat magrib di pinggir jalan, karena lokasi rest area masih jauh dan saat itu jalanan agak padat.
Ah sungguh banyak kenangan berharga di perjalanan antara Merak dan Jakarta, Tunggu bagian dua ya mengenai suasana ramadhan antara Cibitung dan Jakarta
Selama di bis, selain membaca buku dan tidur saya suka sekali mengamati orang di sekeliling. Menjelang dan selama Ramadhan dan terutama menjelang Idul Fitri adalah waktu-waktu yang paling menarik untuk mengamati orang.
Sebelum puasa, banyak orang melakukan perjalanan dengan tujuan "nyekar" ke makam orang tua. Di awal-awal puasa penumpang bis dengan tujuan jauh jarang ditemui. Seminggu menjelang Idul Fitri mulailah arus mudik dan tarif bis mendadak dangdut meroket.
Sebagai penumpang rutin, tentu saja kenalan supir dan kenek bis Merak-Pulogadung wajib dipunyai. Selain untuk keamanan di jalan, juga untuk membunuh rasa bosan dengan mengobrol sepanjang jalan. keuntungannya adalah, saat yang lain ditarik tarif tinggi saat menjelang Idul Fitri, saya tetap membayar dengan tarif biasa. Tetapi ini tidak berlaku bila saya melakukan perjalanan H-2 hingga H+2. Tarif tuslah Lebaran tetap diberlakukan pada siapa pun tanpa pandang bulu.
Hal yang menarik saat menjelang Idul Fitri adalah memperhatikan kostum dan bawaan penumpang. Orang Indonesia sepertinya bila melakukan perjalanan jauh kurang lengkap tanpa membawa kardus. Kardus ukuran kecil hingga besar memenuhi bis dan diletakkan di antara bangku hingga di atap bis. Kadang ada kardus yang dikemas rapi tetapi lebih banyak yang diikat tali rafia sekedarnya, sehingga isi di dalamnya terlihat dan bila si pemilik sedang apes kardus bisa tercerai berai tak karuan. Isi kardus bervariasi mulai dari pakaian, buah-buahan, mainan anak bahkan peralatan rumah tangga seperti kompor sampai bantal guling. Itu adalah varian isi kardus dalam perjalanan sebelum lebaran. Sesudah lebaran, isinya beda lagi, biasanya hasil panen di kampung seperti beras, kelapa butiran, duren, petai dan lain-lain.
Menggunakan baju baru atau terlihat menarik saat tiba di kampung halaman adalah salah satu kewajiban para perantau yang mudik. Nah ini yang menarik. Bis Merak-Pulogadung saat itu (2003-2010) lebih banyak bis ekonomi non AC, jumlah bis AC sangat sedikit. Menggunakan baju keren berlapis-lapis atau celana jeans sebenarnya kurang nyaman di bis tanpa AC. Bahkan syal yang dililit di bagian leher dan jaket kulit atau jaket kain tebal tidaklah tepat digunakan di bis yang penuh sesak. Tetapi demi terlihat keren, walau keringat berbulir-bulir sudah mengalir kostum keren itu tetap dipertahankan.
Make up untuk para wanita tentu saja harus maksimal bila ingin terlihat gaya di kampung halaman. Tetapi foundation yang dioleskan tebal plus bulu mata palsu yang sudah terpasang dari rumah padahal perjalanan memakan waktu lebih dari 6 jam rasanya sungguh berlebihan. Yang terjadi akhirnya make up sudah luntur bahkan sebelum bis memasuki terminal Serang.
Hal yang menyedihkan dari perjalanan mudik ini adalah banyaknya penumpang yang tidak berpuasa dengan alasan musafir. Di awal puasa, masih banyak penumpang berpuasa bahkan bersama-sama berbuka puasa di bis. Supir terkadang berbaik hati menyetel radio sehingga jelas kapan waktunya berbuka. Tetapi menjelang lebaran, lebih banyak penumpang yang tidak puasa dengan beragam alasan. Asap rokok, bau makanan dan botol aqua dingin sungguh menggoda siapa pun yang sedang berpuasa.
Kenikmatan saat berbuka bersama dengan orang yang tidak dikenal di bis sangatlah tak ternilai. Tetiba orang sebelah saya menawarkan bakwan, orang yang di depan menawarkan arem-arem plus teh kotak bahkan ada yang pernah menawarkan saya nasi bungkus! Saya pernah naik bis yang supir dan keneknya berpuasa, dan mereka sengaja meminggirkan kendaraannya di jalan tol guna sekedar melepas dahaga dan shalat magrib di pinggir jalan, karena lokasi rest area masih jauh dan saat itu jalanan agak padat.
Ah sungguh banyak kenangan berharga di perjalanan antara Merak dan Jakarta, Tunggu bagian dua ya mengenai suasana ramadhan antara Cibitung dan Jakarta
Labels:
#aboutme,
#memoar,
#quarantine
Langganan:
Postingan (Atom)