Minggu, 03 Juni 2018

TIA KAU ITU BERHARGA

 

 

TIA, KAU ITU BERHARGA!
#JuliaRosmaya
 

Kupandang sekeliling, hijau dimana-mana. Udara dingin Kaliurang menusuk tulang. Kurapatkan jaket dan kupandang lelaki yang duduk di sebelahku. Rahang dengan garis yang tegas, rambut tipis tertiup angin serta mata yang sering melihatku dengan kilauan cinta. Dia hanya sedikit berbicara sejak kami berangkat dari Yogya pagi tadi. 

"Kita harus putus!" katanya perlahan.

Aku kaget. Hubungan kami masih baru, masih dalam hitungan bulan. Sekilas pun dia tidak menyiratkan bahwa hubungan kami harus diakhiri. 

"Kenapa?" aku bertanya lirih. Dadaku serasa sesak. Kebahagiaan yang beberapa detik lalu meraja disana tergantikan oleh rasa perih tak terkira. 

"Karena memang harus," jawabnya perlahan. Kali ini dia melihat mataku yang sudah mulai berkaca-kaca. 

"Jangan menangis. Aku sayang kamu, tetapi kita tidak ditakdirkan bersama," katanya lagi sambil menggenggam erat tanganku. 

Aku tergugu. Air mataku mengalir deras tanpa suara.

"Kenapa? Kenapa Har? Kau tidak bisa tiba-tiba memutuskan kita untuk berpisah, tanpa aku tahu apa alasannya."

Dia hanya memandangku lama dan kemudian memelukku erat. Aku menumpahkan air mata di jaket yang dia kenakan. Parfum yang dikenakannya pagi itu sudah pudar wanginya, bau badannya yang kusuka memenuhi cuping hidungku. Kuserusukkan lagi kepalaku di dalam pelukannya untuk menghirup bau yang kusuka. 

Dia masih memelukku saat dia berkata lagi, "Aku sayang kamu. Kamu harus yakin akan hal itu. Tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku terima dari hubungan kita."

Dia mengusap rambutku dan berkata, "Beberapa hari lalu, Angko datang ke kosku. Dia menanyakan bentuk hubungan kita berdua. Kata dia, kau masih pacarnya!"

Aku tersentak. Kulepaskan pelukannya, "Angko bukan pacarku. Kamu tahu itu. Hubungan kita sudah lama berakhir, bahkan sebelum aku memutuskan untuk benar-benar meninggalkan dia."

"Tapi tidak seperti itu yang dia katakan ke aku. Dia bilang, kau masih miliknya dan menyuruh aku untuk mundur!"

Dengan nanar kutatap matanya, "Kamu memilih mundur? Kamu tidak percaya kata-kataku bahwa aku dan Angko sudah berakhir?"

"Kau membohongiku Tia. Kalau kau dan dia sudah berakhir, kenapa kamu masih ramah padanya? Kamu tahu perasaanku saat kamu beramah tamah dengan dia di depanku?"

"Har, dia temanku. Walau dulu kami pernah punya hubungan yang istimewa tidak berarti saat hubungan itu berakhir, aku dan dia menjadi musuh. Dia adalah salah satu sahabatku, selain kamu," air mataku berhenti mengalir. Rasa marah perlahan mendesak keluar dari hatiku. 

Sasangko yang biasa kupanggil Angko adalah kekasihku dulu. Kami sudah lama berpisah. Hubungan kami putus sambung. Aku tidak tahan dengan sikapnya. Dia ramah, baik pada siapa saja, terutama pada perempuan cantik. Keramahannya itu kadang disalahartikan oleh para perempuan yang dekat dengannya. Celakanya bagiku, Angko membalas setiap perhatian para perempuan itu. Tidak terhitung beberapa orang perempuan terutama adik kelas yang menjadi korbannya. Sementara aku memaafkan lagi dan lagi setiap kali dia kembali padaku. 

Sahabatku yang lain pernah berkata bahwa aku perempuan bodoh, yang mau saja diperlakukan semena-mena oleh Angko. Aku lelah berurai air mata setiap kali dia punya hubungan baru dengan perempuan lain. Akhirnya kuputuskan bahwa hubungan kami harus benar-benar berakhir. Saat Angko meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki hubungan kami, aku menyatakan tidak. 

Aku melakukan tindakan drastis. Pindah kos dan sengaja meminta staf akademik untuk tidak menempatkanku dalam satu kelompok koas dengannya. Sebisa mungkin menghindar saat bertemu di kampus. Barulah Angko sadar, bahwa kali ini aku serius untuk berpisah. Tetapi walau bagaimanapun dia adalah salah satu temanku, sehingga kami masih sesekali mengobrol di rapat organisasi yang kami ikuti. Dia juga masih duduk di sisiku saat kuliah, tetapi ajakannya untuk kembali bersama selalu kutolak dengan halus. 

Saat yang sama, aku menemukan bentuk hubungan baru dengan Harsono. Kami sudah berteman sejak lama. Dia selalu ada saat aku ingin berdiskusi hal-hal lain di luar kuliah. Wawasannya luas dan tak kusangka dia ternyata tipe yang sangat perhatian. Lambat laun aku jatuh hati dengannya dan melupakan Angko. Kami pun memutuskan untuk bersama. Tetapi kebahagiaan yang kurasakan bersama Harsono ternyata hanya dalam hitungan bulan. Saat ini dia dengan tegas menyatakan bahwa kami harus berpisah. 

"Har tahukah kamu, walau hubungan kita masih baru perasaanku ke kamu lebih dalam daripada aku ke Angko," kuulurkan tangan untuk mengusap pipinya. "Aku tidak bisa berpisah dari kamu," lanjutku lirih. 

Harsono memegang tanganku yang masih berada di pipinya. Kami bertatapan. 

"Tia, maafkan aku. Aku tidak bisa memiliki perempuan yang masih dimiliki lelaki lain."

Kutemukan ketegasan di matanya, di antara binar cinta yang sesekali masih terlihat. Aku tahu dia serius dengan kata-katanya. Hatiku retak berkeping-keping. 

Aku cukup mengenalnya untuk mengetahui bahwa bila dia memutuskan sesuatu, maka akan susah untuk digoyahkan. Aku membalikkan badan sambil berurai air mata. Aku berlari menyusuri jalan setapak yang tadi kami susuri. Tidak percaya bahwa beberapa saat yang lalu kami melewati jalan ini sambil bergandengan tangan. 

Terdengar derap kaki di belakang. Harsono berhasil menyusul dan memelukku dari belakang, Aku terisak. 

"Tia, aku sayang kamu. Tapi kita tidak bisa bersama. Maafkan aku," Harsono membalikkan badanku dan menarik ke dalam pelukannya. 

Aku tidak berkata apa-apa. Baru kali ini kurasakan rasa sakit seperti ini. Saat putus dengan Angko, rasanya tidak seperti ini. Kusadari bahwa Harsono-lah yang lebih kucintai daripada Angko. Dialah lelaki yang ingin kuserahkan seluruh hidupku. 

Kuhirup parfumnya yang mulai memudar, mematrinya di dalam ingatan. Setitik harapan timbul di hatiku, bahwa suatu hari nanti Harsono akan tahu sedalam apa cintaku padanya. Biarlah kami berpisah kali ini. Biarlah. Waktu yang akan membuktikan bahwa Harsono salah, akulah satu-satunya perempuan di dunia ini yang mencintainya sepenuh hati. 

Cintanya mungkin bisa memudar seperti parfum yang digunakannya, tetapi tidak dengan cintaku.

 

Tiga bulan berlalu dan aku masih teronggok dalam selimut kesedihan.

 

Aku  hanya bisa mendengar suara lelaki itu dari jauh. Semakin samar seiring kepergiannya. Setelah memastikan bahwa memang dia sudah pergi, barulah ku turun. Siapa tahu siaran TV malam ini dapat mengalihkan perhatian.

 

“Tia, tumben gak keluar,” sapa seseorang sambil membuka jaketnya. “Aku lagi cari teman nonton pameran lukisan nih. Ada pameran di Bentara Budaya, yuk kita nonton!” lanjutnya lagi.

 

Aku menatap heran padanya. Mas Anto adalah teman kuliah bapak kost yang sering datang ke rumah. Kami berbeda fakultas dan tingkatan. Dia 3 tingkat di atasku. Percakapan kami selama ini hanya sekedar basa-basi, Dia menatapku yang masih terbengong-bengong. “Ayo, ambil jaketmu. Angin malam dingin. Tawaran ini hanya berlaku satu kali loh!”

 

Setelah menimbang antara menghabiskan malam menonton TV sendiri atau keluar melihat pameran lukisan bersamanya, kuputuskan untuk segera mengambil jaket dan keluar. Keputusan yang tidak salah, karena pameran lukisan kali ini berisikan lukisan karya pelukis terkenal yang sudah kunantikan.

 

Sejak malam itu, sering kuhabiskan waktu bersamanya. Ternyata dia cukup menyenangkan menjadi teman bicara. Mas Anto pun menyenangi kehadiranku sebagai temannya. Katanya, hanya aku, teman wanitanya yang dapat mengimbangi dia bercakap dalam bahasa Inggris dengan baik. Koasku di Kedokteran Hewan hanya tinggal beberapa departemen lagi, sudah hampir selesai. Waktu luangku banyak. Aku sekarang jarang kumpul-kumpul dengan teman kuliah, karena Harsono dan Angko

 

Tapi menghindari Harsono sepenuhnya tidak mudah. Dialah yang sering datang ke kostku. Suara yang kudengar dari kamar tadi adalah suaranya yang mengajak pergi teman baikku. Mereka sekarang dekat. Sebenarnya sudah dari dulu mereka dekat, tapi dulu kami selalu bertiga. Harsono, Aku dan Aya. Kami selalu satu kelompok koas. Pergi kemana pun selalu bertiga. Saat ini pun kami masih satu kelompok.

 

Perlahan aku harus menerima kenyataan bahwa di antara Harsono dan Aya berkembang sesuatu yang lain. Bukan lagi pergaulan dua orang teman. Sebenarnya fakta ini tanpa sadar sudah kuketahui dari dulu. Aku tahu Aya memiliki perasaan yang sama ke Harsono. Tapi kusingkirkan pengetahuan itu. Harsono memilihku bukan Aya, dan buatku itu cukup. Sempat terbersit rasa tak enak hati pada Aya. Tapi kuabaikan. Saat Harsono memilih putus dari aku, tak kusangka dia langsung mendekati Aya. Kami satu kost walau beda kamar. Inilah yang membuat aku tahu apa yang terjadi.

 

Kuingat suatu hari dulu. Sambil bercanda kukatakan pada Harsono, “Kalau kau tidak bisa kumiliki, hanya satu orang yang kurelakan bersamamu. Aya. Hanya Aya yang boleh memilikimu, kalau aku tak bisa!” Kalimat candaan itu menjadi kenyataan.

 

Setiap Sabtu sore, segera setelah Ashar, bergegas ku keluar. Pergi kemana saja. Aku hanya tak ingin melihat Harsono datang untuk Aya. Beberapa kali, Mas Anto memergokiku yang sedang jalan sendiri. Beberapa kali pula aku menuruti ajakannya untuk pergi kemana saja. Tapi dia selalu mengembalikan aku ke kost sebelum pukul 19. Dia sendiri memiliki kekasih saat itu. Hubungan kami hanya sebatas teman. Tidak lebih.

 

Bulan berganti, masa koas sudah usai. Hanya tinggal Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan ujian akhir sebelum kami resmi dilantik sebagai Dokter Hewan.  Saat KKN, aku ditempatkan di sebuah desa di kawasan Sleman. Walau Sleman terkenal sebagai kawasan makmur dan subur, desaku ini termasuk dalam kategori desa tertinggal. Saat itu musim kemarau dan air susah didapat. Air harus dibeli untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kunikmati masa KKN ini walau air susah. Saat inilah aku belajar menghargai air. Kami hanya dijatah air segayung untuk mandi. Harus cukup.

 

Serunya dipanggil “Bu Dokter” hanya gegara berkalung stetoskop saat memeriksa sapi. Serunya bermain dengan anak-anak desa saat sore tiba. Asyiknya naik turun bukit untuk memeriksa ternak penduduk. Aku yang notabene orang kota, sangat menikmati masa KKN ini.

 

Suatu sore, aku dikagetkan dengan seruan anak-anak memanggil-manggil. “Bu Dokter… Bu Dokter ada tamu dari Jakarta!” Kulihat mas Anto keluar dari mobil bersama kedua orangtuaku!

 

Papa dan Mama memang berkata bahwa akan menengokku di lokasi KKN. Tapi tak kusangka mereka menghubungi Mas Anto dan memintanya untuk menjadi penunjuk arah ke lokasi. Sebelumnya Mas Anto sudah berkenalan dengan orangtuaku via telepon, tapi kepada mereka kukatakan bahwa Mas Anto hanya teman biasa. Aku ikut turun ke Yogya malam itu. Kebetulan jatah pulang masih ada. Saat Mas Anto sudah pulang ke rumahnya, Papa Mama mencecarku dengan pertanyaan dan desakan. Mereka jatuh hati pada Mas Anto. Aku berusaha mengelak, setahuku Mas Anto masih punya pacar dan perasaanku kepadanya juga biasa saja.

 

Desakan dan pertanyaan terus berlanjut saat masa KKN usai, tapi semua kuabaikan. Hubunganku dengan Mas Anto berjalan seperti biasa. Sesekali keluar makan bersama atau nonton bareng. Mas Anto sudah lulus setahun sebelumnya dan sudah bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Ujianku sudah rampung, hanya tinggal menunggu nilai keluar. Aku masih sesekali menangis saat melihat foto Harsono yang kuletakkan di samping tempat tidurku. Menghindari Harsono dan Aya sudah tidak lagi kulakukan. Aku berpikir bahwa Aya adalah sahabat baikku. Dia pantas untuk bahagia. Bila Aya bahagia bersama Harsono, maka itulah yang akan kulakukan. Ikut berbahagia. Kami pun kembali pergi bertiga. Saat naik mobil, Aku duduk di belakang tentu saja. Rasanya? Menyaksikan seseorang yang pernah di hati, duduk di depan bersama wanita yang dikasihinya bagaimana rasanya? Perlukah hal itu kulukiskan?

 

Saat pelantikan dokter hewan tiba. Kami bertiga tersenyum saat menandatangi ijazah dan mengucap sumpah. Kupandang sosok Harsono yang sedang bersama Aya. Aku harus rela… Aku harus rela … mantra itu kuucapkan berulang. Mas Anto datang di malam hari saat acara usai. Saat melihat kehadirannya yang masih menggunakan dasi dan baju rapi usai mengajar, hatiku sedikit bergetar. Dia menertawakan rambutku yang kaku karena sasakan. Memuji fotoku yang kubeli dari tukang foto tadi siang. “Kau tampak bahagia,” katanya.

 

Usai pelantikan, aku masih di Yogya. Ada beberapa urusan administrasi yang harus kuselesaikan. Kuhabiskan waktu dengan mengajari Mas Anto dan beberapa teman menyetir mobil. Saat itu, kemampuan menyetir mobil diperlukan oleh lulusan dokter hewan baru seperti kami. Salah satu syarat yang diajukan oleh perusahaan obat hewan. Aku sendiri sudah bisa menyetir sejak SMA dan membawa mobil sejak Koas. Mas Anto senang sekali diajari olehku. Tapi dia curang, lebih memilih disetiri daripada menyetiri. Katanya, kalau disetiri aku, dia bisa tidur  karena cara menyetirku aman dan membuat dia mengantuk. Hah… alasan yang membuat aku sebal, tapi senang karena bisa menghabiskan waktu dengannya. Kadang kuantar dan kutunggui dia saat mengajar. Melihat wajahnya saat dia usai dan menghampiri mobilku rasanya berbeda sekarang. Ada sesuatu disana.

 

Suatu senja, kami berdua baru pulang dari suatu tempat. Aku yang menyetir mobil melalui jalan tembus sebuah perumahan. Dia tiba-tiba meraih tangan kiriku yang sedang memegang tongkat persneling serta mengatakan, “Aku ingin menghabiskan sisa umur dengan kamu…”

 

Reflek aku mengerem mobil dan berhenti di tengah jalan serta memandang dia, terpana. Untung jalanan sepi saat itu. Selama ini kami hanya teman. Sesekali dia bercerita mengenai mantan-mantan kekasihnya. Atau wanita yang dia suka. Aku pun bercerita banyak mengenai hubungan kacau balau antara aku, Harsono dan Tia. Tidak pernah sekali pun pembicaraan kami mengarah ke perasaan dia ke aku dan sebaliknya. Apalagi dia masih terikat hubungan dengan orang lain. Tidak heran kata-katanya membuat aku kaget dan terpana. Dia melanjutkan, masih sambil memegang tanganku. 

"Kamu mau…?”

Aku terdiam dan melanjutkan lagi menyetir mobil. Pertanyaan itu tidak kujawab.

 

Hubungan kami masih seperti biasa, walau terasa ada yang berbeda. Suatu hari Angko  menemuiku. “Kudengar kamu dekat ya sama Mas Anto? Kamu tahu gak mas Anto itu punya pacar?”

 

“Aku tahu!” jawabku segera. Kuabaikan semua kata-kata Angko setelah itu. Dia terus memberi fakta keburukan Mas Anto. Bukan urusan dia, aku dekat dengan siapa saat ini.

 

Akhirnya aku harus kembali ke Jakarta. Desakan Papa untuk segera menggantikan beliau di tempat praktek membuat aku terburu kesana. Kuhabiskan hari untuk belajar melayani pemilik hewan dengan baik. Hal yang tak diajarkan oleh Kampus. Banyak temanku yang ikut magang sambil menunggu panggilan kerja di tempat praktek Papa. Termasuk Harsono.

 

“Kau telaten melayani para klien. Kemampuanmu mengobati hewan sebenarnya standar aja. Tapi caramu melayani pemilik hewan yang akan membuat mereka kembali dan kembali lagi,” pujinya.

 

Kutekan rasa GR – ku. Hubungan dia dan Aya masih berlanjut. Bahkan lebih serius. Kedatangan dia ke Jakarta selain untuk magang, juga untuk melamar sebagai PNS. Kuantar dia ke lokasi ujian tulis dan wawancara serta kutunggu hingga selesai. Dia sahabatku, inilah yang bisa kulakukan untuknya.

 

Seusai praktek, biasanya dia minta kami mampir dulu ke wartel (warung telekomunikasi). Saat itu belum ada telpon genggam. Dia menelpon Aya yang masih di Yogya dan aku menghibur diri dengan menelpon Mas Anto. Sesekali aku masuk ke bilik wartelnya dan kami berdua mengobrol seru dengan Aya. Kutekan seluruh perasaanku, kuingin Aya dan Harsono bahagia.

 

Usai magang dan ujian PNS, Harsono kembali ke kotanya. Kuantar dia ke Stasiun. Dia tetiba berkata, “Tia, aku tahu apa yang ada di dalam hatimu. Ijinkan aku bahagia bersama Aya. Kamu harus tahu bahwa aku menyayangi kalian berdua. Tapi masa depanku bersama Aya. Terima kasih telah menemaniku selama di Jakarta. Nanti kalau uangku sudah banyak, kubelikan kau Bajay ya!” dan kami pun tertawa.

 

Harsono terobsesi dengan Bajay, katanya naik Bajay itu seru. Tidak ada bajay di kotanya, sehingga sensasi naik Bajay baru dirasakannya di Jakarta bersamaku. Kulepas Harsono pergi, walau perasaanku masih ada untuknya, kali ini kupastikan Aya dan Harsono harus bahagia.

 

Suatu malam usai praktek, kusempatkan mampir di Wartel untuk menelepon mas Anto. Hubungan kami berlanjut via surat dan sesekali telepon. Kami  terlibat percakapan seru di telepon ketika dia bertanya,"Kita pacaran aja yuk…”

Aku langsung terdiam. Beberapa saat kemudian kujawab, "Gak mau, aku gak mau pacaran sama dirimu …!”

Suaranya terdengar kecewa saat dia mendengar kalimatku itu. Kenapa, tanyanya.

"Karena aku gak mau pacaran dan dikecewakan lagi. Kalau mau, lamar aku dan kita menikah!” tantangku.

 

Sengaja kuucapkan hal itu. Kutahu reputasi dia dengan sederet pacar. Aku yakin kali ini dia hanya ingin iseng denganku. Makanya pertanyaan dia kujawab dengan niat iseng pula. Menikahi aku pasti tak ada dalam kamusnya.

 

Beberapa hari kemudian, saat dia menelponku. Mas Anto mengatakan bahwa habis lebaran, kurang lebih 4 bulan lagi, kakak sulungnya akan datang ke Jakarta untuk melamar. Aku mengiyakan tapi tak percaya. Tak mungkin, kata hatiku.

 

Suatu hari, Aya menelponku, “Tia, kau tahu gak kalau mas Anto serius ingin nikah sama kamu?”

 

“Iya dia bilang sih. Tapi aku gak percaya. Kau tahu kan gimana mas Anto dengan segudang pacarnya itu. Mana mungkin dia mau sama aku. Pacar terakhirnya kan cantik dan imut banget. Jauhlah aku sama dia,” jawabku.

 

“Aku juga gak terlalu percaya sih. Tapi dia bilang kemarin sama kakak dan ibu loh. Dia bilang mau kawin sama kamu! Kalau beneran gimana?”

 

“Ya… kalau beneran dia ngelamar aku gimana ya?”

 

Sejujurnya aku masih ragu dengan kata-kata Mas Anto. Harsono masih merajai hatiku, tapi aku juga merindukan kebersamaan dengan mas Anto. Aku sadar mengharapkan Harsono adalah hal yang tak mungkin, melalui Aya aku tahu bahwa hubungan mereka semakin serius. Kupasrahkan semua pada waktu. Waktulah yang menentukan nanti.

 

Seminggu setelah lebaran, Mas Anto menelpon dan mengatakan bahwa Sabtu berikutnya Kakak sulungnya dari Surabaya akan datang ke rumah.

 

“Mas, mas Anto serius?” tanyaku masih tak percaya.

 

“Tia, kau gak percaya? Ini serius … bukan main-main ! Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan kamu. Kamulah yang kuinginkan!” tegas mas Anto.

 

Hari lamaran tiba. Sebelumnya Mama dan papa bertanya padaku, apa yang harus mereka jawab ke kakak Mas Anto saat lamaran nanti. Aku tidak tahu harus menjawab apa, kupasrahkan semua ke orangtuaku. Terserah mereka mau menerima atau tidak lamaran Mas Anto.

 

Sesaat sebelum kedatangan Mas Anto dan rombongan, kurasakan suhu badanku meningkat. Saat rombongan tiba, badanku demam tinggi. Padahal paginya tak ada gejala apa pun. Kupaksakan duduk manis dan mendengarkan uraian Kakak mas Anto. Sejujurnya tak ada satu kata pun yang kuingat dari momen lamaran ini. Semua terasa kabur. Untung aku tidak jatuh pingsan. Demam dan pusing yang kurasakan hanya aku yang tahu. Tak kukatakan satu patah kata pun ke orang tua dan saudara lain bahwa tubuhku demam. Kondisi demam naik turun ini berlanjut hingga 3 hari kemudian. Hanya demam tanpa gejala lain. Demam stress sepertinya.

 

Kakak dan orangtua mas Anto ingin pernikahan dilangsungkan sesegera mungkin. Ayah mas Anto sering sakit, sedangkan ibunya sudah tak ada. Keluarga mereka menginginkan acara akad dan resepsi dilangsungkan kurang dari 40 hari sejak tanggal lamaran. Kalang kabutlah kami. Undangan segera dicetak dan disebar. Aku tidak menginginkan pernikahan yang mewah. Hanya pernikahan sederhana di masjid dekat rumah. Praktekku belum stabil, mas Anto pun baru mulai bekerja. Secara ekonomi, kami tidak mampu menyelenggarakan pesta yang mewah. Tapi orangtuaku bersikeras mengadakan pesta, karena aku anak pertama. Kupasrahkan sekali lagi pada orangtua. Beberapa kali aku harus meminta mereka untuk menghilangkan hal yang tak begitu penting tapi berpengaruh terhadap budget pesta.

 

Perasaanku saat itu? Bingung.

 

Seperti berada di atas awan. Melayang tak tentu arah, ikut kemana awan berhembus. Semua bergerak cepat di sekitarku mempersiapkan akad dan resepsi. Aku hanya memandang tak percaya. Teman sekolahku yang diberi undangan pun tak percaya bahwa aku akan menikah.

 

“Hai Tia, katanya kau gak punya pacar! Kok mendadak ngasih undangan nikah sih?” pekik mereka tak percaya.

 

Ah, jangankan kalian. Aku pun tak percaya bahwa aku akan menikah, jerit bathinku membalas..

 

Suatu hari, Angko menelpon di tempat praktek. “Kau mau nikah sama si Anto itu?”

 

Tidak disebutnya panggilan mas di depan nama mas Anto. “Kenapa?” tanyaku balik

 

“Kenapa kau nikah sama dia. Kamu tahu siapa dia kan. Pacarnya banyak. Apa bedanya dia sama aku? Kau bilang, gak tahan sama aku karena pacarku banyak!” tambahnya lagi dengan nada marah.

 

“Karena dia melamarku untuk menikah. Bukan untuk pacaran!” jawabku kalem.

 

“Tia, aku pun ingin melamarmu untuk menikah. Tapi kau gak mau. Kau sengaja menghindariku bahkan sejak kita mulai Koas. Kau biarkan Harsono mendekat, tapi kesempatan buat aku tak ada. Kau tahu… Harsono kuancam untuk menjauh dari kamu ! Dan dia cukup pengecut untuk menuruti ancamanku !” tambahnya lagi.

 

“Tia, menikahlah denganku. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Kusadari sekarang bahwa kaulah yang terbaik untuk aku. Tia … kau dengar kan? Maafkan aku. Lepaskan Anto dan kita menikah. Segera!”

 

Aku segera menukas kata-katanya “Angko, dulu kuberi kau kesempatan 4 tahun untuk menyadari bahwa aku selalu ada di sisimu. Kau menoleh wanita lain, kumaafkan. Kau pergi, kutunggu kau kembali. Harsono pergi karena kau usir, kukira kau ingin kembali. Ada masa aku menunggumu. Tapi tidak … kau tak ingin kembali. Kau hanya kaget, aku menikah. Kau hanya tak rela aku akhirnya menikah, karena kalau kau punya niat menikahi aku. Kesempatan itu ada!”

 

“Angko, kalau kau benar sayang padaku. Datanglah saat akad nanti. Saksikan aku bahagia dengan mas Anto!” imbuhku lagi.

 

Kali ini aku merasa, aku harus benar tegas untuk Anto. Sikapku yang masih manis padanya disalahartikan. Beberapa kali sejak aku di Jakarta, aku bertemu dengannya. Pergi berdua dalam urusan praktek pun beberapa kali kulakukan. Dia bekerja sebagai dokter hewan di sebuah peternakan di daerah Bogor. Kesempatan ada kalau dia ingin aku kembali. Tapi tak sepatah katapun dia mengatakan bahwa dia ingin menikahiku atau minimal dia ingin kita kembali bersama.

 

Sebelum tanggal pernikahan, Mas Anto datang ke Jakarta. Entah mengapa dia tahu bahwa aku galau dan gamang menghadapi pernikahan ini. Walau tak pernah kunyatakan secara langsung padanya.

 

Didudukkannya aku, diseretnya sebuah kursi, ditaruhnya di depanku. Dia duduk, memegang kedua belah pipiku dan berkata, “Tia, kau lihat aku sekarang. Tatap mataku. Siapa yang ada di depanmu saat ini? AKU … AKU yang ada di depanmu saat ini. Singkirkan semua lelaki yang ada di hatimu. Harsono, Angko atau siapa pun. Apa yang mereka bisa berikan ke kamu? Hanya hati yang patah dan kau menerima dan menerima begitu saja diperlakukan seperti itu. Kau masih mau menunggu Harsono? Sampai kapan? Lihat aku Tia … lihat siapa yang ada di depanmu saat ini. Akulah yang ada disitu kini dan nanti …!”

 

Dan …aku merasa seperti ditampar, dibangunkan dari ketidaksadaran. Membuka mata.

 

Hari pernikahan tiba. Harsono dan Tia hadir saat akad nikah dilangsungkan. Aku berusaha keras tidak menatap Harsono. Mas Anto tahu hal itu. Seusai akad, digenggamnya erat tanganku. Apalagi saat Harsono datang mengucapkan selamat. Seakan ingin menyatakan bahwa aku telah dimilikinya.

 

Aku ingat waktu masih di Yogya, mas Anto pernah berkata, “Tia, kamu itu ngapain sih masih sedih kalau liat Aya pergi sama Harsono. Terus ngapain juga kamu mau pergi bertiga gitu. Jadi obat nyamuk doang. Harsono itu tidak punya cukup cinta untuk kamu. Kamu itu gak nyadar ya. Kamu berharga, kamu tidak pantas disia-sia oleh orang seperti dia!” kata mas Anto dulu. Saat itu, dia memergokiku terpuruk sedih melihat Tia dan Harsono pergi berdua di malam minggu.

 

Melalu genggaman tangannya, mas Anto seakan ingin mengatakan bahwa aku berharga. Berharga untuk dia. Saat resepsi, giliran Angko yang hadir. Angko dengan tulus mengucapkan selamat berbahagia. Bahkan dia memeluk mas Anto dan mengucapkan sesuatu ditelinganya. Belakangan kudengar, Angko pergi ke suatu negara di Afrika. Tawaran menjadi dokter hewan di sebuah penangkaran buaya diterimanya. Kabarnya lagi, dia mengatakan kepada seorang teman bahwa kepergiannya ini adalah untuk menghindariku. Dia tidak ingin bertemu lagi denganku.

 

Satu setengah tahun dan dua keguguran kemudian. Aku melahirkan si sulung. Rencana awal kami untuk hidup terpisah sementara gagal. Sehabis menikah, aku ikut mas Anto untuk sowan ke keluarga besar dia di Yogya. Rencananya hanya 1 minggu, setelah itu aku kembali ke Jakarta untuk praktek sedangkan mas Anto tetap di Yogya sambil berusaha mencari kerja di Jakarta. Mendadak ayah mas Anto masuk rumah sakit karena stroke dan dirawat 3 bulan sebelum akhirnya berpulang. Kubatalkan kepulanganku ke Jakarta dan membantu merawat ayah mertua. Akhirnya praktek di Jakarta kuserahkan kembali ke Papa. Setelah menjalani hidup berdua sebagai suami istri, tak sanggup aku berpisah dengannya walau hanya sekejap. Ya, akhirnya aku jatuh cinta padanya setelah menikah. Kusadari bahwa Mas Antolah yang ditakdirkan untukku. Bukan yang lain.

 

“Tia, kau berharga,” adalah kalimat ajaib yang telah menggerakkan hatiku.

Pengikut