Selasa, 18 September 2018

Baru Sebatas Ini part 1

#BaruSebatasIni part 1
#JuliaSays_romance

Rasa sayang membludak di dada saat kubelai wajahnya. Kuingin dia merasakan aliran sayang dari jemariku. Memandang wajah itu dalam jarak sedemikian dekat adalah impian. Menelusuri kulit wajahnya adalah keinginanku dari dulu. Wajah dengan rahang kukuh yang dihiasi helaian janggut yang mulai tumbuh, lekukan kecil di dagu, alis tipis, semua kuraba perlahan.

Dia memandang balik. Rasa sayang yang sama terpancar dari sana. Didorong kekuatan entah dari mana kusentuh bibirnya dengan bibirku. Dia membalas dan aku makin terhanyut dalam mimpi yang jadi nyata.

Perkiraanku salah.

Tak kusangka bibir itu hangat dan mampu memberi janji. Janji yang dalam khayalan terliar sekalipun tak pernah kubayangkan. Dia memelukku semakin erat dan akhirnya secara perlahan mengangkat wajahnya. Memandangku dengan sinar mata yang semakin membuat grogi.

Mendadak aku malu setengah mati. Mengapa seberani itu aku melangkah. Aku ini siapa. Dia itu siapa. Kami bukan siapa-siapa. Rangkaian peristiwa berkelebat dalam pikiran. Saat rasa tertarik itu muncul.

Pekerjaan menghubungkan kami. Di sela pekerjaan, tanpa disadari kami sering terlibat pembicaraan seru, tentang apa saja. Perlahan tapi pasti, titik demi titik kekaguman muncul di hati. Tanpa berbicara dengannya setengah hari saja, terasa ada yang kurang. Secara naluri, kusadari dia juga memiliki ketertarikan yang sama. Tanpa terlalu terlihat dia menjadi pelindungku dari beberapa orang yang bermulut usil. Terkadang dia sengaja menungguku yang harus pulang larut karena pekerjaan. Hingga suatu saat, kurasakan rasa tertarik ini tidak lagi memberi rasa nyaman bagi diriku pribadi.

Beberapa kali terlibat dalam hubungan yang mengecewakan, membuat aku tidak ingin mengambil langkah yang membuat dia mengetahui rasa tertarikku. Aku tidak ingin dikecewakan lagi. Rasa sakit karena hubungan sebelumnya masih terasa dan membayangkan kehilangan dia sebagai sahabat rasanya tak tertahankan.

Aku harus menghindar. Maka kuambil tawaran magang di luar negeri. Tak dinyana, kepergianku malah membuat kami semakin dekat. Kami tetap berbicara melalui aplikasi chatting, dengan frekuensi yang lebih sering. Dia ternyata kehilangan. Secara tersirat dia menyatakan bahwa dia menyukaiku dan aku pun terpana.

Suatu hari, dia menghilang. Aku diblokir dari seluruh media sosial yang dimilikinya. Panik melanda diri. Ada apa. Aku galau dan merasa kehilangan. Walau kami terpisahkan jarak, kedekatan kami seperti tak berjarak. Bisa dibilang, dialah sahabat terbaikku. Dengannya aku sukar berbohong. Dia seperti dapat melihat aku secara transparan sehingga sukar menyembunyikan apapun darinya.

Kucoba memahami, inilah jalan terbaik bagi kami. Mungkin dia sadar bahwa rasa tertarik antara kami hanya semu. Bahwa kami tak bermasa depan. Ku mantra diri sendiri. Ini yang terbaik … ini yang terbaik … terus berulang setiap kali melihat aplikasi chattingnya yang masih diblokir.

Tetapi kebutuhan untuk bercerita padanya terus membara. Pada akhirnya tetap kutuliskan berpanjang-panjang masalahku, kegelisahanku, tawaku … dan cerita apa pun pada aplikasi itu. Tahu pasti tulisan itu tak akan pernah terkirim dan tak akan dibacanya. Tapi aku lega. Setidaknya rasa rindu akan celotehnya tersalurkan. Kadang kubayangkan adegan adegan pertemuan kembali dengannya. Hanya dengan berkhayal, rasa rindu di dada sedikit terobati.

Aku sempat sakit karena sangat merindukannya. Di tengah demam yang melanda, seperti kulihat sosoknya di ujung tempat tidur. Memandangku … hanya memandang. Kugapai bayangannya, tapi ternyata sosok itu hanya dalam angan. Tetapi sejak saat itu, kubulatkan tekad untuk melupakannya. Bila dia menghindariku sampai sedemikian, sudah sepatutnya aku juga menghindari dia dan melupakan persahabatan serta rasa apa pun yang menyertainya.

Kufokuskan diri pada pekerjaan. Kucoba melupakan ...

.
.
.
Dapatkah si aku melupakan dia?

Minggu, 03 Juni 2018

TIA KAU ITU BERHARGA

 

 

TIA, KAU ITU BERHARGA!
#JuliaRosmaya
 

Kupandang sekeliling, hijau dimana-mana. Udara dingin Kaliurang menusuk tulang. Kurapatkan jaket dan kupandang lelaki yang duduk di sebelahku. Rahang dengan garis yang tegas, rambut tipis tertiup angin serta mata yang sering melihatku dengan kilauan cinta. Dia hanya sedikit berbicara sejak kami berangkat dari Yogya pagi tadi. 

"Kita harus putus!" katanya perlahan.

Aku kaget. Hubungan kami masih baru, masih dalam hitungan bulan. Sekilas pun dia tidak menyiratkan bahwa hubungan kami harus diakhiri. 

"Kenapa?" aku bertanya lirih. Dadaku serasa sesak. Kebahagiaan yang beberapa detik lalu meraja disana tergantikan oleh rasa perih tak terkira. 

"Karena memang harus," jawabnya perlahan. Kali ini dia melihat mataku yang sudah mulai berkaca-kaca. 

"Jangan menangis. Aku sayang kamu, tetapi kita tidak ditakdirkan bersama," katanya lagi sambil menggenggam erat tanganku. 

Aku tergugu. Air mataku mengalir deras tanpa suara.

"Kenapa? Kenapa Har? Kau tidak bisa tiba-tiba memutuskan kita untuk berpisah, tanpa aku tahu apa alasannya."

Dia hanya memandangku lama dan kemudian memelukku erat. Aku menumpahkan air mata di jaket yang dia kenakan. Parfum yang dikenakannya pagi itu sudah pudar wanginya, bau badannya yang kusuka memenuhi cuping hidungku. Kuserusukkan lagi kepalaku di dalam pelukannya untuk menghirup bau yang kusuka. 

Dia masih memelukku saat dia berkata lagi, "Aku sayang kamu. Kamu harus yakin akan hal itu. Tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku terima dari hubungan kita."

Dia mengusap rambutku dan berkata, "Beberapa hari lalu, Angko datang ke kosku. Dia menanyakan bentuk hubungan kita berdua. Kata dia, kau masih pacarnya!"

Aku tersentak. Kulepaskan pelukannya, "Angko bukan pacarku. Kamu tahu itu. Hubungan kita sudah lama berakhir, bahkan sebelum aku memutuskan untuk benar-benar meninggalkan dia."

"Tapi tidak seperti itu yang dia katakan ke aku. Dia bilang, kau masih miliknya dan menyuruh aku untuk mundur!"

Dengan nanar kutatap matanya, "Kamu memilih mundur? Kamu tidak percaya kata-kataku bahwa aku dan Angko sudah berakhir?"

"Kau membohongiku Tia. Kalau kau dan dia sudah berakhir, kenapa kamu masih ramah padanya? Kamu tahu perasaanku saat kamu beramah tamah dengan dia di depanku?"

"Har, dia temanku. Walau dulu kami pernah punya hubungan yang istimewa tidak berarti saat hubungan itu berakhir, aku dan dia menjadi musuh. Dia adalah salah satu sahabatku, selain kamu," air mataku berhenti mengalir. Rasa marah perlahan mendesak keluar dari hatiku. 

Sasangko yang biasa kupanggil Angko adalah kekasihku dulu. Kami sudah lama berpisah. Hubungan kami putus sambung. Aku tidak tahan dengan sikapnya. Dia ramah, baik pada siapa saja, terutama pada perempuan cantik. Keramahannya itu kadang disalahartikan oleh para perempuan yang dekat dengannya. Celakanya bagiku, Angko membalas setiap perhatian para perempuan itu. Tidak terhitung beberapa orang perempuan terutama adik kelas yang menjadi korbannya. Sementara aku memaafkan lagi dan lagi setiap kali dia kembali padaku. 

Sahabatku yang lain pernah berkata bahwa aku perempuan bodoh, yang mau saja diperlakukan semena-mena oleh Angko. Aku lelah berurai air mata setiap kali dia punya hubungan baru dengan perempuan lain. Akhirnya kuputuskan bahwa hubungan kami harus benar-benar berakhir. Saat Angko meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki hubungan kami, aku menyatakan tidak. 

Aku melakukan tindakan drastis. Pindah kos dan sengaja meminta staf akademik untuk tidak menempatkanku dalam satu kelompok koas dengannya. Sebisa mungkin menghindar saat bertemu di kampus. Barulah Angko sadar, bahwa kali ini aku serius untuk berpisah. Tetapi walau bagaimanapun dia adalah salah satu temanku, sehingga kami masih sesekali mengobrol di rapat organisasi yang kami ikuti. Dia juga masih duduk di sisiku saat kuliah, tetapi ajakannya untuk kembali bersama selalu kutolak dengan halus. 

Saat yang sama, aku menemukan bentuk hubungan baru dengan Harsono. Kami sudah berteman sejak lama. Dia selalu ada saat aku ingin berdiskusi hal-hal lain di luar kuliah. Wawasannya luas dan tak kusangka dia ternyata tipe yang sangat perhatian. Lambat laun aku jatuh hati dengannya dan melupakan Angko. Kami pun memutuskan untuk bersama. Tetapi kebahagiaan yang kurasakan bersama Harsono ternyata hanya dalam hitungan bulan. Saat ini dia dengan tegas menyatakan bahwa kami harus berpisah. 

"Har tahukah kamu, walau hubungan kita masih baru perasaanku ke kamu lebih dalam daripada aku ke Angko," kuulurkan tangan untuk mengusap pipinya. "Aku tidak bisa berpisah dari kamu," lanjutku lirih. 

Harsono memegang tanganku yang masih berada di pipinya. Kami bertatapan. 

"Tia, maafkan aku. Aku tidak bisa memiliki perempuan yang masih dimiliki lelaki lain."

Kutemukan ketegasan di matanya, di antara binar cinta yang sesekali masih terlihat. Aku tahu dia serius dengan kata-katanya. Hatiku retak berkeping-keping. 

Aku cukup mengenalnya untuk mengetahui bahwa bila dia memutuskan sesuatu, maka akan susah untuk digoyahkan. Aku membalikkan badan sambil berurai air mata. Aku berlari menyusuri jalan setapak yang tadi kami susuri. Tidak percaya bahwa beberapa saat yang lalu kami melewati jalan ini sambil bergandengan tangan. 

Terdengar derap kaki di belakang. Harsono berhasil menyusul dan memelukku dari belakang, Aku terisak. 

"Tia, aku sayang kamu. Tapi kita tidak bisa bersama. Maafkan aku," Harsono membalikkan badanku dan menarik ke dalam pelukannya. 

Aku tidak berkata apa-apa. Baru kali ini kurasakan rasa sakit seperti ini. Saat putus dengan Angko, rasanya tidak seperti ini. Kusadari bahwa Harsono-lah yang lebih kucintai daripada Angko. Dialah lelaki yang ingin kuserahkan seluruh hidupku. 

Kuhirup parfumnya yang mulai memudar, mematrinya di dalam ingatan. Setitik harapan timbul di hatiku, bahwa suatu hari nanti Harsono akan tahu sedalam apa cintaku padanya. Biarlah kami berpisah kali ini. Biarlah. Waktu yang akan membuktikan bahwa Harsono salah, akulah satu-satunya perempuan di dunia ini yang mencintainya sepenuh hati. 

Cintanya mungkin bisa memudar seperti parfum yang digunakannya, tetapi tidak dengan cintaku.

 

Tiga bulan berlalu dan aku masih teronggok dalam selimut kesedihan.

 

Aku  hanya bisa mendengar suara lelaki itu dari jauh. Semakin samar seiring kepergiannya. Setelah memastikan bahwa memang dia sudah pergi, barulah ku turun. Siapa tahu siaran TV malam ini dapat mengalihkan perhatian.

 

“Tia, tumben gak keluar,” sapa seseorang sambil membuka jaketnya. “Aku lagi cari teman nonton pameran lukisan nih. Ada pameran di Bentara Budaya, yuk kita nonton!” lanjutnya lagi.

 

Aku menatap heran padanya. Mas Anto adalah teman kuliah bapak kost yang sering datang ke rumah. Kami berbeda fakultas dan tingkatan. Dia 3 tingkat di atasku. Percakapan kami selama ini hanya sekedar basa-basi, Dia menatapku yang masih terbengong-bengong. “Ayo, ambil jaketmu. Angin malam dingin. Tawaran ini hanya berlaku satu kali loh!”

 

Setelah menimbang antara menghabiskan malam menonton TV sendiri atau keluar melihat pameran lukisan bersamanya, kuputuskan untuk segera mengambil jaket dan keluar. Keputusan yang tidak salah, karena pameran lukisan kali ini berisikan lukisan karya pelukis terkenal yang sudah kunantikan.

 

Sejak malam itu, sering kuhabiskan waktu bersamanya. Ternyata dia cukup menyenangkan menjadi teman bicara. Mas Anto pun menyenangi kehadiranku sebagai temannya. Katanya, hanya aku, teman wanitanya yang dapat mengimbangi dia bercakap dalam bahasa Inggris dengan baik. Koasku di Kedokteran Hewan hanya tinggal beberapa departemen lagi, sudah hampir selesai. Waktu luangku banyak. Aku sekarang jarang kumpul-kumpul dengan teman kuliah, karena Harsono dan Angko

 

Tapi menghindari Harsono sepenuhnya tidak mudah. Dialah yang sering datang ke kostku. Suara yang kudengar dari kamar tadi adalah suaranya yang mengajak pergi teman baikku. Mereka sekarang dekat. Sebenarnya sudah dari dulu mereka dekat, tapi dulu kami selalu bertiga. Harsono, Aku dan Aya. Kami selalu satu kelompok koas. Pergi kemana pun selalu bertiga. Saat ini pun kami masih satu kelompok.

 

Perlahan aku harus menerima kenyataan bahwa di antara Harsono dan Aya berkembang sesuatu yang lain. Bukan lagi pergaulan dua orang teman. Sebenarnya fakta ini tanpa sadar sudah kuketahui dari dulu. Aku tahu Aya memiliki perasaan yang sama ke Harsono. Tapi kusingkirkan pengetahuan itu. Harsono memilihku bukan Aya, dan buatku itu cukup. Sempat terbersit rasa tak enak hati pada Aya. Tapi kuabaikan. Saat Harsono memilih putus dari aku, tak kusangka dia langsung mendekati Aya. Kami satu kost walau beda kamar. Inilah yang membuat aku tahu apa yang terjadi.

 

Kuingat suatu hari dulu. Sambil bercanda kukatakan pada Harsono, “Kalau kau tidak bisa kumiliki, hanya satu orang yang kurelakan bersamamu. Aya. Hanya Aya yang boleh memilikimu, kalau aku tak bisa!” Kalimat candaan itu menjadi kenyataan.

 

Setiap Sabtu sore, segera setelah Ashar, bergegas ku keluar. Pergi kemana saja. Aku hanya tak ingin melihat Harsono datang untuk Aya. Beberapa kali, Mas Anto memergokiku yang sedang jalan sendiri. Beberapa kali pula aku menuruti ajakannya untuk pergi kemana saja. Tapi dia selalu mengembalikan aku ke kost sebelum pukul 19. Dia sendiri memiliki kekasih saat itu. Hubungan kami hanya sebatas teman. Tidak lebih.

 

Bulan berganti, masa koas sudah usai. Hanya tinggal Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan ujian akhir sebelum kami resmi dilantik sebagai Dokter Hewan.  Saat KKN, aku ditempatkan di sebuah desa di kawasan Sleman. Walau Sleman terkenal sebagai kawasan makmur dan subur, desaku ini termasuk dalam kategori desa tertinggal. Saat itu musim kemarau dan air susah didapat. Air harus dibeli untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kunikmati masa KKN ini walau air susah. Saat inilah aku belajar menghargai air. Kami hanya dijatah air segayung untuk mandi. Harus cukup.

 

Serunya dipanggil “Bu Dokter” hanya gegara berkalung stetoskop saat memeriksa sapi. Serunya bermain dengan anak-anak desa saat sore tiba. Asyiknya naik turun bukit untuk memeriksa ternak penduduk. Aku yang notabene orang kota, sangat menikmati masa KKN ini.

 

Suatu sore, aku dikagetkan dengan seruan anak-anak memanggil-manggil. “Bu Dokter… Bu Dokter ada tamu dari Jakarta!” Kulihat mas Anto keluar dari mobil bersama kedua orangtuaku!

 

Papa dan Mama memang berkata bahwa akan menengokku di lokasi KKN. Tapi tak kusangka mereka menghubungi Mas Anto dan memintanya untuk menjadi penunjuk arah ke lokasi. Sebelumnya Mas Anto sudah berkenalan dengan orangtuaku via telepon, tapi kepada mereka kukatakan bahwa Mas Anto hanya teman biasa. Aku ikut turun ke Yogya malam itu. Kebetulan jatah pulang masih ada. Saat Mas Anto sudah pulang ke rumahnya, Papa Mama mencecarku dengan pertanyaan dan desakan. Mereka jatuh hati pada Mas Anto. Aku berusaha mengelak, setahuku Mas Anto masih punya pacar dan perasaanku kepadanya juga biasa saja.

 

Desakan dan pertanyaan terus berlanjut saat masa KKN usai, tapi semua kuabaikan. Hubunganku dengan Mas Anto berjalan seperti biasa. Sesekali keluar makan bersama atau nonton bareng. Mas Anto sudah lulus setahun sebelumnya dan sudah bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Ujianku sudah rampung, hanya tinggal menunggu nilai keluar. Aku masih sesekali menangis saat melihat foto Harsono yang kuletakkan di samping tempat tidurku. Menghindari Harsono dan Aya sudah tidak lagi kulakukan. Aku berpikir bahwa Aya adalah sahabat baikku. Dia pantas untuk bahagia. Bila Aya bahagia bersama Harsono, maka itulah yang akan kulakukan. Ikut berbahagia. Kami pun kembali pergi bertiga. Saat naik mobil, Aku duduk di belakang tentu saja. Rasanya? Menyaksikan seseorang yang pernah di hati, duduk di depan bersama wanita yang dikasihinya bagaimana rasanya? Perlukah hal itu kulukiskan?

 

Saat pelantikan dokter hewan tiba. Kami bertiga tersenyum saat menandatangi ijazah dan mengucap sumpah. Kupandang sosok Harsono yang sedang bersama Aya. Aku harus rela… Aku harus rela … mantra itu kuucapkan berulang. Mas Anto datang di malam hari saat acara usai. Saat melihat kehadirannya yang masih menggunakan dasi dan baju rapi usai mengajar, hatiku sedikit bergetar. Dia menertawakan rambutku yang kaku karena sasakan. Memuji fotoku yang kubeli dari tukang foto tadi siang. “Kau tampak bahagia,” katanya.

 

Usai pelantikan, aku masih di Yogya. Ada beberapa urusan administrasi yang harus kuselesaikan. Kuhabiskan waktu dengan mengajari Mas Anto dan beberapa teman menyetir mobil. Saat itu, kemampuan menyetir mobil diperlukan oleh lulusan dokter hewan baru seperti kami. Salah satu syarat yang diajukan oleh perusahaan obat hewan. Aku sendiri sudah bisa menyetir sejak SMA dan membawa mobil sejak Koas. Mas Anto senang sekali diajari olehku. Tapi dia curang, lebih memilih disetiri daripada menyetiri. Katanya, kalau disetiri aku, dia bisa tidur  karena cara menyetirku aman dan membuat dia mengantuk. Hah… alasan yang membuat aku sebal, tapi senang karena bisa menghabiskan waktu dengannya. Kadang kuantar dan kutunggui dia saat mengajar. Melihat wajahnya saat dia usai dan menghampiri mobilku rasanya berbeda sekarang. Ada sesuatu disana.

 

Suatu senja, kami berdua baru pulang dari suatu tempat. Aku yang menyetir mobil melalui jalan tembus sebuah perumahan. Dia tiba-tiba meraih tangan kiriku yang sedang memegang tongkat persneling serta mengatakan, “Aku ingin menghabiskan sisa umur dengan kamu…”

 

Reflek aku mengerem mobil dan berhenti di tengah jalan serta memandang dia, terpana. Untung jalanan sepi saat itu. Selama ini kami hanya teman. Sesekali dia bercerita mengenai mantan-mantan kekasihnya. Atau wanita yang dia suka. Aku pun bercerita banyak mengenai hubungan kacau balau antara aku, Harsono dan Tia. Tidak pernah sekali pun pembicaraan kami mengarah ke perasaan dia ke aku dan sebaliknya. Apalagi dia masih terikat hubungan dengan orang lain. Tidak heran kata-katanya membuat aku kaget dan terpana. Dia melanjutkan, masih sambil memegang tanganku. 

"Kamu mau…?”

Aku terdiam dan melanjutkan lagi menyetir mobil. Pertanyaan itu tidak kujawab.

 

Hubungan kami masih seperti biasa, walau terasa ada yang berbeda. Suatu hari Angko  menemuiku. “Kudengar kamu dekat ya sama Mas Anto? Kamu tahu gak mas Anto itu punya pacar?”

 

“Aku tahu!” jawabku segera. Kuabaikan semua kata-kata Angko setelah itu. Dia terus memberi fakta keburukan Mas Anto. Bukan urusan dia, aku dekat dengan siapa saat ini.

 

Akhirnya aku harus kembali ke Jakarta. Desakan Papa untuk segera menggantikan beliau di tempat praktek membuat aku terburu kesana. Kuhabiskan hari untuk belajar melayani pemilik hewan dengan baik. Hal yang tak diajarkan oleh Kampus. Banyak temanku yang ikut magang sambil menunggu panggilan kerja di tempat praktek Papa. Termasuk Harsono.

 

“Kau telaten melayani para klien. Kemampuanmu mengobati hewan sebenarnya standar aja. Tapi caramu melayani pemilik hewan yang akan membuat mereka kembali dan kembali lagi,” pujinya.

 

Kutekan rasa GR – ku. Hubungan dia dan Aya masih berlanjut. Bahkan lebih serius. Kedatangan dia ke Jakarta selain untuk magang, juga untuk melamar sebagai PNS. Kuantar dia ke lokasi ujian tulis dan wawancara serta kutunggu hingga selesai. Dia sahabatku, inilah yang bisa kulakukan untuknya.

 

Seusai praktek, biasanya dia minta kami mampir dulu ke wartel (warung telekomunikasi). Saat itu belum ada telpon genggam. Dia menelpon Aya yang masih di Yogya dan aku menghibur diri dengan menelpon Mas Anto. Sesekali aku masuk ke bilik wartelnya dan kami berdua mengobrol seru dengan Aya. Kutekan seluruh perasaanku, kuingin Aya dan Harsono bahagia.

 

Usai magang dan ujian PNS, Harsono kembali ke kotanya. Kuantar dia ke Stasiun. Dia tetiba berkata, “Tia, aku tahu apa yang ada di dalam hatimu. Ijinkan aku bahagia bersama Aya. Kamu harus tahu bahwa aku menyayangi kalian berdua. Tapi masa depanku bersama Aya. Terima kasih telah menemaniku selama di Jakarta. Nanti kalau uangku sudah banyak, kubelikan kau Bajay ya!” dan kami pun tertawa.

 

Harsono terobsesi dengan Bajay, katanya naik Bajay itu seru. Tidak ada bajay di kotanya, sehingga sensasi naik Bajay baru dirasakannya di Jakarta bersamaku. Kulepas Harsono pergi, walau perasaanku masih ada untuknya, kali ini kupastikan Aya dan Harsono harus bahagia.

 

Suatu malam usai praktek, kusempatkan mampir di Wartel untuk menelepon mas Anto. Hubungan kami berlanjut via surat dan sesekali telepon. Kami  terlibat percakapan seru di telepon ketika dia bertanya,"Kita pacaran aja yuk…”

Aku langsung terdiam. Beberapa saat kemudian kujawab, "Gak mau, aku gak mau pacaran sama dirimu …!”

Suaranya terdengar kecewa saat dia mendengar kalimatku itu. Kenapa, tanyanya.

"Karena aku gak mau pacaran dan dikecewakan lagi. Kalau mau, lamar aku dan kita menikah!” tantangku.

 

Sengaja kuucapkan hal itu. Kutahu reputasi dia dengan sederet pacar. Aku yakin kali ini dia hanya ingin iseng denganku. Makanya pertanyaan dia kujawab dengan niat iseng pula. Menikahi aku pasti tak ada dalam kamusnya.

 

Beberapa hari kemudian, saat dia menelponku. Mas Anto mengatakan bahwa habis lebaran, kurang lebih 4 bulan lagi, kakak sulungnya akan datang ke Jakarta untuk melamar. Aku mengiyakan tapi tak percaya. Tak mungkin, kata hatiku.

 

Suatu hari, Aya menelponku, “Tia, kau tahu gak kalau mas Anto serius ingin nikah sama kamu?”

 

“Iya dia bilang sih. Tapi aku gak percaya. Kau tahu kan gimana mas Anto dengan segudang pacarnya itu. Mana mungkin dia mau sama aku. Pacar terakhirnya kan cantik dan imut banget. Jauhlah aku sama dia,” jawabku.

 

“Aku juga gak terlalu percaya sih. Tapi dia bilang kemarin sama kakak dan ibu loh. Dia bilang mau kawin sama kamu! Kalau beneran gimana?”

 

“Ya… kalau beneran dia ngelamar aku gimana ya?”

 

Sejujurnya aku masih ragu dengan kata-kata Mas Anto. Harsono masih merajai hatiku, tapi aku juga merindukan kebersamaan dengan mas Anto. Aku sadar mengharapkan Harsono adalah hal yang tak mungkin, melalui Aya aku tahu bahwa hubungan mereka semakin serius. Kupasrahkan semua pada waktu. Waktulah yang menentukan nanti.

 

Seminggu setelah lebaran, Mas Anto menelpon dan mengatakan bahwa Sabtu berikutnya Kakak sulungnya dari Surabaya akan datang ke rumah.

 

“Mas, mas Anto serius?” tanyaku masih tak percaya.

 

“Tia, kau gak percaya? Ini serius … bukan main-main ! Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan kamu. Kamulah yang kuinginkan!” tegas mas Anto.

 

Hari lamaran tiba. Sebelumnya Mama dan papa bertanya padaku, apa yang harus mereka jawab ke kakak Mas Anto saat lamaran nanti. Aku tidak tahu harus menjawab apa, kupasrahkan semua ke orangtuaku. Terserah mereka mau menerima atau tidak lamaran Mas Anto.

 

Sesaat sebelum kedatangan Mas Anto dan rombongan, kurasakan suhu badanku meningkat. Saat rombongan tiba, badanku demam tinggi. Padahal paginya tak ada gejala apa pun. Kupaksakan duduk manis dan mendengarkan uraian Kakak mas Anto. Sejujurnya tak ada satu kata pun yang kuingat dari momen lamaran ini. Semua terasa kabur. Untung aku tidak jatuh pingsan. Demam dan pusing yang kurasakan hanya aku yang tahu. Tak kukatakan satu patah kata pun ke orang tua dan saudara lain bahwa tubuhku demam. Kondisi demam naik turun ini berlanjut hingga 3 hari kemudian. Hanya demam tanpa gejala lain. Demam stress sepertinya.

 

Kakak dan orangtua mas Anto ingin pernikahan dilangsungkan sesegera mungkin. Ayah mas Anto sering sakit, sedangkan ibunya sudah tak ada. Keluarga mereka menginginkan acara akad dan resepsi dilangsungkan kurang dari 40 hari sejak tanggal lamaran. Kalang kabutlah kami. Undangan segera dicetak dan disebar. Aku tidak menginginkan pernikahan yang mewah. Hanya pernikahan sederhana di masjid dekat rumah. Praktekku belum stabil, mas Anto pun baru mulai bekerja. Secara ekonomi, kami tidak mampu menyelenggarakan pesta yang mewah. Tapi orangtuaku bersikeras mengadakan pesta, karena aku anak pertama. Kupasrahkan sekali lagi pada orangtua. Beberapa kali aku harus meminta mereka untuk menghilangkan hal yang tak begitu penting tapi berpengaruh terhadap budget pesta.

 

Perasaanku saat itu? Bingung.

 

Seperti berada di atas awan. Melayang tak tentu arah, ikut kemana awan berhembus. Semua bergerak cepat di sekitarku mempersiapkan akad dan resepsi. Aku hanya memandang tak percaya. Teman sekolahku yang diberi undangan pun tak percaya bahwa aku akan menikah.

 

“Hai Tia, katanya kau gak punya pacar! Kok mendadak ngasih undangan nikah sih?” pekik mereka tak percaya.

 

Ah, jangankan kalian. Aku pun tak percaya bahwa aku akan menikah, jerit bathinku membalas..

 

Suatu hari, Angko menelpon di tempat praktek. “Kau mau nikah sama si Anto itu?”

 

Tidak disebutnya panggilan mas di depan nama mas Anto. “Kenapa?” tanyaku balik

 

“Kenapa kau nikah sama dia. Kamu tahu siapa dia kan. Pacarnya banyak. Apa bedanya dia sama aku? Kau bilang, gak tahan sama aku karena pacarku banyak!” tambahnya lagi dengan nada marah.

 

“Karena dia melamarku untuk menikah. Bukan untuk pacaran!” jawabku kalem.

 

“Tia, aku pun ingin melamarmu untuk menikah. Tapi kau gak mau. Kau sengaja menghindariku bahkan sejak kita mulai Koas. Kau biarkan Harsono mendekat, tapi kesempatan buat aku tak ada. Kau tahu… Harsono kuancam untuk menjauh dari kamu ! Dan dia cukup pengecut untuk menuruti ancamanku !” tambahnya lagi.

 

“Tia, menikahlah denganku. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Kusadari sekarang bahwa kaulah yang terbaik untuk aku. Tia … kau dengar kan? Maafkan aku. Lepaskan Anto dan kita menikah. Segera!”

 

Aku segera menukas kata-katanya “Angko, dulu kuberi kau kesempatan 4 tahun untuk menyadari bahwa aku selalu ada di sisimu. Kau menoleh wanita lain, kumaafkan. Kau pergi, kutunggu kau kembali. Harsono pergi karena kau usir, kukira kau ingin kembali. Ada masa aku menunggumu. Tapi tidak … kau tak ingin kembali. Kau hanya kaget, aku menikah. Kau hanya tak rela aku akhirnya menikah, karena kalau kau punya niat menikahi aku. Kesempatan itu ada!”

 

“Angko, kalau kau benar sayang padaku. Datanglah saat akad nanti. Saksikan aku bahagia dengan mas Anto!” imbuhku lagi.

 

Kali ini aku merasa, aku harus benar tegas untuk Anto. Sikapku yang masih manis padanya disalahartikan. Beberapa kali sejak aku di Jakarta, aku bertemu dengannya. Pergi berdua dalam urusan praktek pun beberapa kali kulakukan. Dia bekerja sebagai dokter hewan di sebuah peternakan di daerah Bogor. Kesempatan ada kalau dia ingin aku kembali. Tapi tak sepatah katapun dia mengatakan bahwa dia ingin menikahiku atau minimal dia ingin kita kembali bersama.

 

Sebelum tanggal pernikahan, Mas Anto datang ke Jakarta. Entah mengapa dia tahu bahwa aku galau dan gamang menghadapi pernikahan ini. Walau tak pernah kunyatakan secara langsung padanya.

 

Didudukkannya aku, diseretnya sebuah kursi, ditaruhnya di depanku. Dia duduk, memegang kedua belah pipiku dan berkata, “Tia, kau lihat aku sekarang. Tatap mataku. Siapa yang ada di depanmu saat ini? AKU … AKU yang ada di depanmu saat ini. Singkirkan semua lelaki yang ada di hatimu. Harsono, Angko atau siapa pun. Apa yang mereka bisa berikan ke kamu? Hanya hati yang patah dan kau menerima dan menerima begitu saja diperlakukan seperti itu. Kau masih mau menunggu Harsono? Sampai kapan? Lihat aku Tia … lihat siapa yang ada di depanmu saat ini. Akulah yang ada disitu kini dan nanti …!”

 

Dan …aku merasa seperti ditampar, dibangunkan dari ketidaksadaran. Membuka mata.

 

Hari pernikahan tiba. Harsono dan Tia hadir saat akad nikah dilangsungkan. Aku berusaha keras tidak menatap Harsono. Mas Anto tahu hal itu. Seusai akad, digenggamnya erat tanganku. Apalagi saat Harsono datang mengucapkan selamat. Seakan ingin menyatakan bahwa aku telah dimilikinya.

 

Aku ingat waktu masih di Yogya, mas Anto pernah berkata, “Tia, kamu itu ngapain sih masih sedih kalau liat Aya pergi sama Harsono. Terus ngapain juga kamu mau pergi bertiga gitu. Jadi obat nyamuk doang. Harsono itu tidak punya cukup cinta untuk kamu. Kamu itu gak nyadar ya. Kamu berharga, kamu tidak pantas disia-sia oleh orang seperti dia!” kata mas Anto dulu. Saat itu, dia memergokiku terpuruk sedih melihat Tia dan Harsono pergi berdua di malam minggu.

 

Melalu genggaman tangannya, mas Anto seakan ingin mengatakan bahwa aku berharga. Berharga untuk dia. Saat resepsi, giliran Angko yang hadir. Angko dengan tulus mengucapkan selamat berbahagia. Bahkan dia memeluk mas Anto dan mengucapkan sesuatu ditelinganya. Belakangan kudengar, Angko pergi ke suatu negara di Afrika. Tawaran menjadi dokter hewan di sebuah penangkaran buaya diterimanya. Kabarnya lagi, dia mengatakan kepada seorang teman bahwa kepergiannya ini adalah untuk menghindariku. Dia tidak ingin bertemu lagi denganku.

 

Satu setengah tahun dan dua keguguran kemudian. Aku melahirkan si sulung. Rencana awal kami untuk hidup terpisah sementara gagal. Sehabis menikah, aku ikut mas Anto untuk sowan ke keluarga besar dia di Yogya. Rencananya hanya 1 minggu, setelah itu aku kembali ke Jakarta untuk praktek sedangkan mas Anto tetap di Yogya sambil berusaha mencari kerja di Jakarta. Mendadak ayah mas Anto masuk rumah sakit karena stroke dan dirawat 3 bulan sebelum akhirnya berpulang. Kubatalkan kepulanganku ke Jakarta dan membantu merawat ayah mertua. Akhirnya praktek di Jakarta kuserahkan kembali ke Papa. Setelah menjalani hidup berdua sebagai suami istri, tak sanggup aku berpisah dengannya walau hanya sekejap. Ya, akhirnya aku jatuh cinta padanya setelah menikah. Kusadari bahwa Mas Antolah yang ditakdirkan untukku. Bukan yang lain.

 

“Tia, kau berharga,” adalah kalimat ajaib yang telah menggerakkan hatiku.

Senin, 28 Mei 2018

OUTFIT

OUTFIT
Julia Rosmaya

Sebagian besar dari kita pasti sering menggunakan transportasi online. Sadar tidak, pertanyaan pertama dari si Babang Online itu adalah... "Pakai baju apa?"

Suatu hari di stasiun Bekasi, saya sedang menunggu si Babang, tetiba seseorang menghampiri.

"Ibu Anu?" tanyanya, separuh mengharap saya menjawab iya. Berhubung saya belum ganti nama, maka saya jawab tidak.

Tak lama datanglah seorang ibu memakai jilbab dan baju merah. Oh, pantas tadi saya ditanya, karena kebetulan saya memakai jilbab dan jaket merah.

Lain waktu, saya memakai kaus abu-abu, jilbab abstrak penuh warna dan celana jeans. Saya perhatikan sekitar ada beberapa orang yang memakai baju abu-abu dan celana jeans juga. Saya bingung bagaimana mendeskripsikan baju saya ke Babang Online yang saya pesan. Mau bilang warna jilbab, kok ya gak ada warna dominan di jilbab saya. Kemudian saya mendeskripsikan diri seperti ini.

"Saya pakai celana jeans dan sepatu warna warni ya pak. Ditunggu depan Bank Bing Bung"

"Baik Mbak, segera meluncur"

Lah kok, jadinya dipanggil mbak? Sebelumnya disapa Bu. Hmm pasti karena sepatu warna warni tadi. Pasti dikira hanya ABG yang berani pakai.... Hahaha...

Kesimpulannya... Biasakan pakai outfit yang menyolok kalau pesan Transportasi online.

Sabtu, 26 Mei 2018

KEBELET

KEBELET
Julia Rosmaya

Pagi ini, dalam perjalanan via commuter line ke Bogor, isi dalam kandung kemih minta dikeluarkan segera. Mungkin akibat terlalu banyak meneguk air saat sahur tadi.

Sampai di Manggarai, segera melipir ke kamar mandi. Duh... Antrian panjang. Kamar mandi wanita hanya ada 4 pintu toilet dan 1 diantaranya tidak bisa digunakan. Untuk stasiun sekelas Manggarai, jumlah toilet segitu terasa sangat kurang. Bagusnya minimal 10 kamar toilet. Tak terbayang saat hari kerja dan jam sibuk, berapa panjang antriannya.

Wanita, entah kenapa sering lama berada di kamar mandi. Kurang lebih 30 menit saya menunggu, baru hajat dapat dituntaskan. Ah... Legaaa...

Jadi teringat beberapa kejadian kebelet saya yang fenomenal.

Suatu sore, saat saya masih kerja di Merak. Teman piket membeli kelapa muda. 1 orang dapat 1 butir. Saat meminumnya, tak terpikir bahwa ini akan jadi bencana.

Satu jam setelahnya, saya sudah di bis jurusan Pulogadung, pulang. Baru saja bis masuk tol Cilegon Timur, saya kebelet pipis. Saya pun gelisah. Mana bis berjalan lambat, seperti keong. Cilegon Barat, bis keluar mencari penumpang, ngetem lama.... Hadeuh... Tak terlihat toilet di sekitar. Semakin susah saya menahan.

Akhirnya bis melaju menuju terminal Serang. Saya tak berani bergerak seinchi pun, takut bocor. Sampai terminal, saya cari kenek.

"Bang, saya mau ke toilet. Jangan ditinggal ya Bang," seru saya sambil buru-buru turun.

Terkadang bis hanya sekedar lewat di terminal dan tidak ngetem sama sekali. Tapi terkadang bis ngetem mencari penumpang. Sehingga memberitahu kenek wajib hukumnya. Bis Pulogadung itu jarang, bila saya ditinggal, lama lagi menunggu bis berikut.

Setelah beres di toilet, saya segera ke bis. Ternyata bis sudah bergeser ke pintu keluar. Si kenek memandang saya yang berlari sambil tersenyum.

"Cabut bang... Nyonya besar yang kebelet udah datang!" katanya saat saya menyerbu masuk. Ternyata mereka hanya menunggu saya saja. Duh maafkan...

Suatu pagi di bulan puasa, saat saya sudah bekerja di Cibitung. Saya menyetir sendiri dan terjebak macet di jembatan Kalimalang arah ke kantor. Lalulintas terhenti total, 30 menit sudah saya menunggu, mobil bahkan motor tidak bisa bergerak sama sekali.

Saya merasa bahwa kandung kemih terlalu penuh dan tak tertahan ingin dikosongkan. Saya tengok kanan kiri, tak ada toilet sama sekali. Ada beberapa warung, entah ada toiletnya atau tidak. Saya masih mencoba bertahan, berharap kemacetan segera terurai dan segera sampai kantor.

Bimbang, masa iya mobil ditinggalkan begitu saja di tengah macet. Tapi rasa ingin pipis tak tertahan lagi. Saya pun nekat. Saya turun, mobil saya kunci dan berlari ke warung yang saya lihat. Untunglah mereka punya kamar mandi. Selama di kamar mandi, saya berdoa semoga kemacetan tak terurai.

Setelah lega, saya kembali dan kendaraan satu pun belum bergerak. Baru kali ini senang melihat bahwa jembatan masih macet hehehe. Saat saya membuka pintu mobil, mas mas pemotor di sebelah mobil menegur.

"Saya kira, mbaknya ngambek, mau jalan kaki dan ninggalin mobil. Ternyata cuma pipis.. Hahaha...."

Ssst... Sebenarnya sempat terlintas ide itu lho mas... Kok masnya tahu sih? 😜

Selasa, 08 Mei 2018

UMPTN

UMPTN
Julia Rosmaya

Hanya orang jaman old yang tahu arti singkatan UMPTN.... dan hari ini terpaksa saya mengaku old hahaha...

Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Nah itu artinya... Saya ikut UMPTN tahun 91 di sebuah sekolah Negeri di daerah Tebet, lupa apa nama sekolahnya... SMP atau SMA... Lupa juga.

Sekolah saya SMAN 12 Jakarta berada di dekat rel kereta. Saat itu bila kereta lewat, suaranya terdengar hingga ke kelas. Ndilalah pas ujian UMPTN, saya dapat lokasi di sekolah yang dekat rel kereta juga. Lebih dekat rel malah. Hingga suara kereta lewat lebih jelas terdengar.

Becandaan kami saat itu... "Nasib anak 12 gak bisa jauh dari rel...!" hahaha...

Keuntungannya kami tidak merasa terganggu dengan suara getaran rel atau suara kereta yang berisik itu. Biasa saja. Beda dengan anak sekolah lain. Kereta lewat, meja bergetar, konsentrasi pasti terganggu. Kami? Kereta lewat.... Woles beibeh...

Saat itu, saya diantar Papa ke lokasi. Tapi tidak ditunggu, disuruh pulang sendiri. Susahnya sebagai anak rumahan gak tahu pulang pakai apa dari sana. Jaman dulu kan gak ada ojek online. Untunglah beramai-ramai dengan teman. Sehingga bisa pulang ke rumah... Halah lebay.

Hari ini anak saya yang ujian SBMPTN... Namanya saja yang ganti. Esensinya sama. Sama seperti Papa saya dulu, tadi saya dan suami hanya mengantar ke lokasi ujian. Itu pun di drop di pintu gerbang saja. Untuk pulang, saya minta dia naik ojek online. Kebetulan dia dapat lokasi dekat rumah, di UNJ.

Jalan menuju UNJ pagi tadi macet, mungkin banyak orangtua yang mendukung anaknya, minimal dengan mengantar ke lokasi seperti kami.

Semangat anakku... Semoga tercapai keinginanmu....

Minggu, 29 April 2018

JANGAN SAMBAT MAK...

Jangan Sambat  Mak...
Julia Rosmaya

Paling sebel naik kereta di hari libur dengan para emak-emak yang bawa anak, yang jarang naik kereta. Dalam pikiran mereka, naik kereta itu pasti nyamannya, pasti enaknya, pasti dapat duduknya, lega dengan kadar oksigen yang pas untuk dihirup. Lupakan itu mak, kalau kalian naik kereta di jam yang tak tepat.

Kereta Commuter Line, lebih banyak memberikan ruang untuk berdiri daripada untuk duduk. Gerbong diusahakan nyaman dengan temperatur suhu yang bisa diterima kulit, tapi ada banyak gerbong yang pendinginnya tak bekerja maksimal lagi.

Bila kebetulan dapat duduk, bersyukurlah. Tapi jangan taruh tas besarmu di kursi, juga jangan biarkan anakmu yang masih kecil naik-naik bangku mengganggu kenyamanan penumpang lain. Atau membiarkan anakmu tidur di kursi dengan posisi tidur telentang nyaman dan membuat jatah penumpang lain berkurang. Pangkulah anakmu Mak, kasihan penumpang yang juga berhak duduk. Kecuali kereta benar-benar lowong dan kosong, silahkan tidurkan anakmu di kursi.

Bila kereta penuh, jangan banyak mengeluh mak. Baru kesenggol tas penumpang lain kau mengeluh. Ada penumpang baru dan memenuhi ruang yang ada, kau marah. Ada yang ekstrim pula, berjaga di pintu dan melarang penumpang naik. Hai, kau ini siapa mak? Satpam kereta? Mereka sama haknya dengan kamu, berhak naik kereta yang menurutmu sudah penuh itu.

Pernah coba naik kereta saat hari kerja di jam sibuk? Kereta yang sekarang kau bilang penuh ini, kategorinya lowong di saat itu. Kepadatan yang kau bilang menyesakkan itu, di hari kerja adalah kosong. Di jam sibuk, bisa berdiri dengan 2 kaki adalah anugrah, badan tidak jadi pepes adalah bahagia. Sekarang kau mengeluh dan banyak sambat hanya karena kereta sedikit penuh dan tidak sesak. Duh mak... Ayo naik kereta pagi di hari kerja, baru kau rasakan yang namanya kereta penuh.

Setiap keluhan yang kau lontarkan, menyesakkan dada penumpang yang mendengar. Simpan keluhanmu mak, naik kereta di hari libur pun tak senyaman yang kau bayangkan. Mau nyaman, sila gunakan moda transportasi lain. Jangan naik kereta ya mak...

Ditujukan kepada para emak yang suka sambat di dalam kereta.

Selasa, 06 Maret 2018

CLICK... AND POSE!

CLICK... AND POSE!
Julia Rosmaya

"Kamu itu tahu gak saya ini siapa?" seru si Bapak dengan mata mendelik liar, "jabatan saya tinggi tahu. Hanya dengan sekali ngomong, kamu bisa habis. Sembarangan aja anjing saya kamu tahan! Anjing sehat begini kok. Ini anjing angkatan tahu! Dia bisa bebas pergi kemana saja mengikuti saya..."

Tita mendesah, kali ini dia mati kutu harus mendengar omelan seorang Bapak yang marah karena anjingnya ditahan. Coba dialihkannya pikiran pada adegan di YouTube yang tadi pagi ditonton di mobil jemputan. Langkah demi langkah praktis menghias wajah. Tita ingin belajar berhias, menggunakan make up dengan benar. Setidaknya bila dia menghadiri resepsi, tak harus mengeluarkan uang untuk ke salon.

Dipasangnya wajah untuk tetap tenang. Ditahannya kata yang hendak keluar dari tenggorakan. "Jangan dilawan... Jangan dilawan..." kata ini terus diulangnya dalam pikiran.

"... Hai kamu... Siapa nama kamu? Kamu dengar gak apa kata saya. Kamu gak bisa nahan anjing organik kan. Sembarangan aja... Coba saya lihat ID Card kamu.... Saya mau foto. Sekalian sama kamu... Saya foto sekalian... Saya akan laporkan ke atasan kamu. Biar kamu gak punya kerjaan lagi... Mana sini... " si Bapak dengan arogansinya maju merangsek ke arah Tita.

Tetiba... Tita lari ke dalam ruangan. Dikeluarkannya tas kecil dan segera diambilnya peralatan yang ada di dalam tas itu. Dibawanya segepok alat ke arah si Bapak...

"Hai... Kamu itu apa-apaan. Ngapain kamu bawa alat gituan kesini?" suara si Bapak turun 2 oktaf, heran.

"Bapak tadi bilang, mau foto saya. Saya gak pede pak kalau belum dandan. Jadi saya dandan bentar ya pak... Nanti setelah selesai, baru Bapak boleh foto.... Ya pak ya...?" Tita berkata sambil membuka tabung lipstik dan mulai mengoleskan seulas lipstik di bibirnya.

"Ini pak... Pegangin..." Tita menyerahkan kaca kecil ke tangan si Bapak yang hanya termangu bengong, "kalau gak kacaan, nanti make up saya berantakan. Alis saya mencong-mencong... Gak cetar membahana. Saya gak mau foto saya yang bakalan viral keliatan jelek. Bapak mau memoto saya dan diviralkan kan?

Setelah 30 detik yang terasa lama... Si Bapak yang tadinya terpana... Berusaha keras menahan senyum yang hendak terkembang. Tangannya yang memegang kaca di depan Tita terlihat bergoyang. Tak lama, ledakan tawa terdengar...

Tita tersenyum. Diambilnya lagi kaca dari tangan si Bapak. Ditutupnya tabung lipstick. Diajaknya si Bapak masuk ke dalam.

"Nah pak, begini lho pak. Kalau Bapak bilang ini anjing punya angkatan, anjing organik. Harusnya ada dokumen kan pak. Bapak aja tahu kalau anjing organik boleh masuk daerah mana pun. Tapi pak... Asal dengan dokumen lengkap. Saya tidak akan menahan anjing Bapak... bila ini benar anjing organik dan ada dokumennya" urai Tita lembut seraya menepukkan tissue ke pipi guna menghapus bedak yang tadi sempat teroles.

"Iya mbak... Hmmm sebenarnya dokumen gak ada mbak. Tapi saya mau bawa anjing ini ke Denpasar. Saya ada kerjaan disana" urai Bapak itu.

"Pak, dilarang membawa anjing, kucing dan kera masuk dan keluar Bali. Bali masih dinyatakan sebagai daerah wabah Rabies. Bapak kan gak mau, anjing Bapak yang sehat masuk Bali lalu kena Rabies disana kan? Jadi maaf ya pak, anjing Bapak kami larang masuk Bali. Kalau ke daerah lain masih boleh pak. Asal dilengkapi dengan dokumen" Tita berdiri mengambil brosur yang terletak agak jauh.

"Nah ini pak, syaratnya. Ada surat keterangan kesehatan hewan dari Dinas Peternakan setempat, surat keterangan telah divaksin Rabies atau buku Vaksin dan hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan titer antibodi anjing Bapak terhadap Rabies memenuhi syarat. Lalu nanti anjing kami periksa pak. Setelah itu baru Surat Karantina keluar. Bapak bayar PNBP via ATM, selesai" urai Tita lebih lanjut, "jadi... Gimana pak... Jadi kita foto-fotoan? ... Let's click and pose..."

Gelak tawa pun terdengar dari dalam ruangan.
.
.
.
Hai kamu... Iya kamu.... Petugas Karantina dimanapun berada... Tetap semangat menjaga negeri... Dan jangan lupa selfie... Hahaha...

Jumat, 02 Maret 2018

(TIDAK) MASUK KUPING KANAN, (APALAGI) KELUAR KUPING KIRI

(TIDAK) MASUK KUPING KANAN, (APALAGI) KELUAR KUPING KIRI

Julia Rosmaya

“Perhatiin gak, kalau si Tita piket pasti deh jarang yang ngamuk-ngamuk. Pengguna jasanya kalem semua…” kata Maya sambil mengeluarkan ID card. Langkahnya bergegas menuju pintu masuk khusus pegawai di Bandara

“Iya, aku juga heran,” Arief berusaha menjajari langkah Maya, “jangan-jangan dia punya ilmu penakluk sukma..!”

“Idih, buruk sangka itu. Beneran aku penasaran cara dia menghadapi pengguna jasa. Kemarin tuh menjelang akhir piket, aku lelah hati melayani Bapak-Bapak yang ngamuk karena dagingnya kutahan. Perasaan semua ilmu pelayanan sudah kukerahkan, tapi si Bapak itu jangankan nurut apa kata aturan, mendengarkan penjelasanku saja tidak mau!” urai Tita sembari memasukkan tas yang dibawanya ke mesin X-Ray Bandara

“Terus akhirnya gimana dengan dagingnya?” kata Arief sambil mengulurkan kedua tangan untuk diperiksa petugas

“Dilempar ke kita… kebayang gak …daging sekilo dilempar ke muka aku … “ kata Maya sambil merengut

Arief tertawa melihat Maya yang merengut. Tawa kecut yang penuh pengertian. Bagaimana pun juga, diperlakukan kasar oleh pengguna jasa sering mereka alami. Keduanya bergegas menuju konter pelayanan Karantina. Saatnya piket bagi mereka berdua. Dalam dua puluh lima jam ke depan, inilah kantor mereka. Konter pelayanan Terminal Kedatangan Bandara.

“Rief, lihat … si Tita sedang bicara sama ibu-ibu di dalam kantor. Yuk kita ngintip dia pakai ilmu apa buat menaklukkan si ibu. Kayaknya dia bawa buah sekardus tuh… “ colek Maya sambil bergegas ke ruang pelayanan.

“Mbaknya ya gak bisa kayak gitu. Ini buah, saya yang beli sendiri di Singapur. Asli impor dari Amerika dan China. Kalau mbaknya pengen, ya tinggal bilang. Nanti saya kasih deh box yang kecil. Ya saya maklum mbak, kalau petugas kayak mbak kan gajinya kecil. Pasti gak mampu beli buah mahal kayak gini. Belum pernah kan makan buah ini. Eh tahu gak mbak, di supermarket Jakarta, buah yang ini harganya hampir 50 ribu satu… yang itu rada murahan, tapi ya tetap mahal sih … 30 ribu satunya …!” kata seorang ibu cantik berumur awal 40an. Jemarinya berjejer berlian mahal, mengenakan sepatu boot tinggi, tas yang dicangklong rasanya bukan kwalitas KW dan syal gaya di leher. Mulutnya yang bergincu merah dengan sapuan make up sempurna belum berhenti mengoceh. Ada kata tuduhan pungli disana.

Maya dan Arief heran melihat Tita. Tita tampak tersenyum sambil sesekali mengangguk ramah. Padahal nada suara tinggi ditambah kata-kata hinaan yang keluar dari mulut si ibu dijamin membuat kuping merah. Lima belas menit kemudian, si ibu akhirnya diam kehabisan kata. Tita masih tersenyum ramah. Hampir tak ada kata keluar dari mulutnya, hanya sesekali kata iya disertai senyum dan anggukan.

“Bu, silahkan duduk disini. Kami hanya ada air putih. Ibu mau minum dulu?” kata Tita ramah.

Mungkin karena lelah bicara terus, si Ibu duduk, “Pokoknya mbak…, mbak kalau mau duit saya ya bilang saja. Itu buah saya bawa buat oleh-oleh kok, bukan buat dijual…” omongan si ibu masih berlanjut tapi dengan nada yang lebih rendah. Tidak setinggi tadi.

“Begini bu, buah segar tidak boleh masuk ke Indonesia. Kemungkinan buah yang ibu bawa membawa bibit penyakit ada loh bu. Nanti gimana kalau bibit penyakitnya tersebar di tanaman lokal bu, kan kasihan petani kita. Udah susah payah nanam buah, eh karena bibit penyakit yang ibu bawa dari luar negeri, buah kita gagal panen…” urai Tita lembut.

“Loh mbak, ini buah impor loh … jangan salah. Buah impor kan lebih sehat dari buah lokal. Mana ada penyakitnya…” bantah si ibu

“Duh bu, kita gak tahu. Bibit penyakit itu kan gak keliatan. Bisa ada di permukaan kulit buah, bisa ada di daging buah, bahkan ada di dalam biji buah. Kita saja gak bisa memastikan buah yang ibu bawa aman atau tidak, kalau tidak menggunakan pemeriksaan laboratorium. Gak cuma negara kita loh bu, yang melarang buah bawaan penumpang masuk ke negaranya. Ibu pernah ke Australia? Itu biji salak bekas makan kalau ketahuan ada di tas kita, bisa kena denda loh …!” Urai Tita lagi.

“Oh … gitu ya mbak … terus gimana bagusnya buah yang saya bawa ini …?”

“Silahkan ibu masukkan buah tersebut ke Quarantine Bin disini bu. Jangan khawatir, kami tidak akan memakan buah ibu. Semua isi Quarantine Bin akan dimusnahkan. Ibu boleh lihat kalau mau. Tapi ya gak hari ini. Biasanya kami kumpulkan dulu, setelah agak banyak baru kami musnahkan …” ujar Tita sambil berjalan menuju Quarantine Bin.

“Semuanya mbak? Gak boleh satu saja buat saya makan?” kata si Ibu yang sudah melunak.

“Iya, semuanya bu. Kalau mau dimakan. Silahkan makan disini sebelum dimasukkan ke Quarantine Bin…”

Ibu itu pun akhirnya memakan 2 buah sebelum sisanya dimasukkan ke Quarantine Bin. Maya dan Arief langsung menyerbu Tita, segera setelah proses pamasukan ke Quarantine Bin selesai.

“Aku minta resep dong, cara menghadapi pengguna jasa …Lelah hati deh ngadepin model si Ibu tadi,” kata Maya.

Tita tersenyum, dikeluarkannya gawai dari kantung baju dan ditariknya seutas kabel dari balik hijab yang dikenakannya.

“Ini rahasianya …” kata Tita sambil menunjukkan ear phone.

“Hah … maksudmu… selama si ibu nyap nyap itu, kamu mendengarkan lagu via ear phone?” Arief bertanya dengan raut tak percaya.

“Iya … daripada sakit hati mendengarkan tuduhan atau kata-kata nyinyir. Aku mending dengar lagu atau lawakan via ear phone,” Tita mencabut ear phone dari gawai dan terdengar lawakan grup Prambors DKI. Group pelawak tenar jaman dulu, “mereka itu, para pengguna jasa yang nyinyir itu, kadang hanya ingin didengar.Ya sudah … dengarkan saja “

“Lah tapi, kamu kan sebenarnya gak dengar mereka ngomong apa …” tukas Maya cepat.

“Iya hahaha … mereka ngomong apa pun kalau aturannya harus ditahan ya tetap tahan kan. Aku mah masuk kuping kanan gak, keluar kuping kiri apalagi. Suara mereka kesumbat ear phone… hahaha ….” Kata Tita sambil tertawa.

“Pantas kamu masih bisa tersenyum, ahhhh Titaaaaa kau ini ajaib …” kata Maya sambil menguyel-uyel kepala Tita.

Kesabaran dan senyum manis saat menghadapi pengguna jasa yang ngeyel memang susah tetap terjaga. Tetap semangat petugas Karantina.... Jangan lupa senyum ya...

Rabu, 28 Februari 2018

SARING SEBELUM SHARING

Pernah melihat video dari Thailand mengenai seorang ibu bergaya preman pemilik banyak kios di pasar? Si ibu bertindak kasar terhadap penyewa kiosnya, kebetulan ada yang merekam dan akhirnya viral. Mayoritas penonton video tersebut mengecam hingga akhirnya ada boikot untuk tidak berbelanja di kios pasar milik si ibu. Tapi yang tidak diketahui para pengecam, si ibu ini sebenarnya baik hanya gayanya saja seperti itu. Preman dan kasar. Saat gerakan tidak membeli di kios si ibu berhasil, yang rugi siapa... bukan si ibu tapi pedagang di pasar itu.

Atau... pernah tidak lihat video seorang ibu yang marah-marah ke bapak Polisi hingga menggigit tangan si Polisi? Kabarnya ibu itu stress berat karena kiosnya terbakar dan dia sedang terburu-buru kesana. Emosi tumpah ruah ke Polisi yang menghentikannya karena tidak menggunakan helm. Reaksi netizen di video itu? Sebagian besar menghina si ibu.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kedua video itu? Kita terlalu cepat menghukum orang. Hanya sekelumit video, tapi kita berani mengatakan beginilah begitulah. Dia salahlah ... seolah-olah kita sebagai komentator adalah orang paling hebat sedunia, tidak pernah salah.

Baru-baru ini beredar pula 2 buah video. Video pertama, seorang ibu mengamuk ke petugas berbaju biru di Bandara Juanda. Video kedua, si ibu bersitegang dengan petugas berbaju coklat. Postingan yang menyertai video ini adalah tuduhan terhadap petugas Bandara Juanda hendak melakukan pungli terhadap si ibu. Postingan ini langsung viral, di share beribu-ribu orang dengan komen ratusan. Hampir semua bernada sama, menghujat si petugas karena bersikap kasar pada si ibu dan ini yang menyesakkan tuduhan pungli!!

Pikiran negatif sebagian besar orang  saat petugas berseragam melakukan tindakan sesuai aturan adalah...

"Orang ini pasti mau minta duit!

" Wah barang gue mau diduitin nih, tanggal tua pasti tuh petugas butuh duit! "

Sungguh sakit membaca komentar seperti itu. Adakah yang berpikir positif bahwa ada aturan yang perlu dipatuhi, ada biaya untuk negara yang perlu dikeluarkan. .. Sekali lagi untuk negara! Bukan untuk petugas!!

Perlu diketahui, saat ini mekanisme pembayaran tindakan karantina atau dokumen karantina sudah dilakukan via Bank atau ATM yang ditunjuk. Bahkan dapat menggunakan uang elektronik. Pembayaran dengan uang kartal sudah jarang dilakukan bahkan hampir tidak ada. Mengapa? Untuk meminimalisir pungli atau tambahan biaya yang tak perlu. Seluruh uang masuk negara... Bukan masuk ka kantong petugas!

Bila dicermati lagi video tersebut, terlihat bahwa si ibu sudah bicara tidak enak kepada petugas berbaju biru. Dilanjutkan berteriak dan berkata kasar kepada petugas berbaju coklat. Apakah ada seseorang yang berpikir bahwa kedua petugas tersebut tidak pantas menerima makian seperti itu?

Saat itu jam 4.30 pagi. Kedua petugas sudah bekerja dari malam sebelumnya. Entah sudah berapa jam mereka melayani penumpang yang hendak berangkat di Bandara. Tidur pun bila bisa hanya sekedarnya. Saat seorang penumpang emosi dan memaki maki... Hanya sedikit yang bisa bertahan. Hanya sedikit yang masih bisa tersenyum, melayani sepenuh hati.

"Petugas itu gak boleh kayak gitu. Apa apan itu!"

"Emak-emak kok dilawan, mereka kan selalu benar. Petugasnya kan cowok, jangan dilawan dong!"

Yakin nih yang ngomong seperti itu kuat tetap tersenyum dan ramah menghadapi pengguna jasa yang emosi?

Saya dan banyak sekali petugas Karantina pernah berada di posisi itu. Menghadapi pengguna jasa yang marah, ngamuk bahkan menodongkan senjata tajam. Saya paham rasanya dituding-tuding dituduh pungli. Diminta duduk dan mendengarkan penjelasan tidak mau. Bila pikiran negatif sudah merajai, atau bila tahu bahwa mereka salah, jarang sekali yang mau duduk diam mendengarkan.

Ya, kami akui kami masih punya banyak kekurangan. Tapi dihujat semena-mena seperti itu tanpa berusaha menempatkan diri di posisi kami, membuat kami merasa terhina. Kenalkah kalian semua dengan si petugas itu? Bagaimana sehari-harinya? Apakah mereka sekasar itu?

Kita ini memang aneh. Bila ke negeri orang, kita patuh peraturan. Di negeri sendiri, susah diatur. Tahukah anda bahwa ada beberapa negara yang menolak makanan berbahan dasar produk hewan masuk negaranya? Rendang misalnya. Ada negara yang tidak memperbolehkan rendang masuk sana. Ada juga yang sedemikian ketat, hingga kulit salak saja tidak boleh dibawa masuk. Lalu kita masih saja berburuk sangka kepada petugas karantina? Kepada aturan-aturan yang telah dibuat?

Patuh itu mudah dan tak merugikan kok. Percayalah...

Sebuah pelajaran dari kasus ini adalah, pikir berulang kali sebelum berkomentar di media sosial. Saring dulu konten apa pun sebelum kita sharing. Ada banyak sisi dari sebuah cerita, sisi kamu, sisi aku dan sisi mereka.

Untuk seluruh petugas Karantina... Tetap semangat menjaga negeri. Mari kita siarkan virus #LaporKarantina 🐕 🍎 dimanapun, kapanpun. Mari kita belajar lagi untuk melayani dengan senyum. Kita pasti bisa!!

Julia Rosmaya
Dokter Hewan Karantina Indonesia 🇮🇩





Minggu, 04 Februari 2018

WEDANG UWUH

Wedang Uwuh
Julia Rosmaya

Sebagai penggemar warna merah, melihat minuman warna gini pasti tertarik. Dulu heran kok bisa ada minuman warna cantik seperti ini. Penasaran minumnya.

Namanya wedang uwuh.

Wedang uwuh adalah minuman dengan bahan berupa dedaunan yang mirip dengan sampah. Uwuh artinya sampah.

Warna merah berasal dari secang dan adanya jahe membuat minuman ini terasa hangat saat diminum.

Terus terang saat kuliah di Yogya dulu gak tahu minuman ini. Baru tahu setelah di Jakarta dan dihidang minuman ini oleh seorang teman. Hai Sophia Setyawati ayo tanggung jawab mengenalkan minuman enak ini hehehe.

Sejak saat itu, bila ke Yogya minuman ini selalu "the must have" buat dibawa pulang. Bentuknya saat ini macam-macam. Ada yg masih dalam bentuk dedaunan yang dikeringkan. Bentuk serbuk yang tinggal seduh. Bentuk sirup yang tinggal aduk. Tapi buat saya yang paling joss tetap bentuk asli dedaunan. Biasanya saya sengaja menambah potongan jahe agar terasa lebih pedas.

Belum pernah minum wedang uwuh? Ayo cobain.... Dijamin warna dan rasa akan membuat hidupmu lebih bermakna hehehe

Pengikut