Selasa, 07 Maret 2017

BUBUR JUTEK

BUBUR JUTEK
CATATAN KARIMIN

Mendadak sontak kangen makan bubur ayam di depan kantor. Bubur ayam jutek, demikian kami menyebutnya, dikarenakan si penjual yang tidak pernah tersenyum sedikit pun saat melayani pembeli. Tapi ternyata si penjual sudah berganti, bukan si jutek. Sayangnya juga rasa bubur ayam si penjual baru tidak seenak buatan si jutek.

Jadi ingat dulu jaman kuliah, ada soto daging enak yang kami juluki Soto Bu Galak. Si penjual seorang ibu tua yang selalu marah bila pelanggannya meminta pesanan khusus, misalnya tidak pakai daun bawang. Dia selalu menegur si pembeli dengan muka ditekuk, tapi ... pesanan khusus si pembeli tersebut dilayani juga. Walau sebelumnya dimarahi dulu. Hahaha...

Rasa sotonya yang enak dengan daging berlimpah dan harga terjangkau kantong mahasiswa, membuat kami selalu kembali dan kembali lagi. Walau risiko dimarahi si mbok selalu ada, kami cuek saja. Yang penting kenyang.

Tetapi, bila kita sebagai petugas karantina berlaku sama seperti penjual bubur jutek atau soto bu galak... Pengguna jasa Karantina tidak akan terima. Hal pertama yang mereka lakukan adalah balik kanan dan tidak jadi melapor ke Karantina! Atau ambil hp, memotret sang petugas jutek dan mempostingnya di media sosial disertai kalimat yang mendiskreditkan.

Kita rela membayar bubur enak si Jutek atau soto daging nyami Bu Galak, tetapi pengguna jasa karantina tidak akan mau menerima pelayanan yang tidak ramah dan dirasa menyulitkan.

Masyarakat masih banyak berpendapat bahwa Karantina tidak penting. Merubah pandangan bahwa Karantina penting bisa dimulai dari cara kita melayani pengguna jasa jasa.

Senyum, sapa ramah, penjelasan tindak karantina yang tidak mengada-ngada, pelaksanaan tindak karantina yang cepat dan tepat, serta pembayaran PNBP yang transparan adalah bagian dari pelayanan yang diharapkan masyarakat.

Pelayanan PRIMA kepada masyarakat pengguna jasa karantina itu penting. Bersikap ramah dan siap membantu juga penting. Mengapa? Karena kitalah yang ada di garis depan. Walau pengguna jasa juga sering membuat kita naik darah, kemampuan menahan diri perlu. Senyum manis harus tetap terpasang selelah apapun kita. Jangan ada sikap jutek atau bibir mengkerucut marah. Sikap si Bubur Jutek dan Soto Bu Galak tidak berlaku di Karantina.

Yuk jadikan diri smiling QForce yang selalu siap melayani SobatQ... 


Catatan Karimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut